TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 30: Felicia dan Alessa


__ADS_3

Semua yang ada di ruangan itu, kini terpaku pada tiga orang asing yang tiba-tiba datang ke rumah Hasna. Hasna hanya menggeleng ketika ditanya mengenai mereka. Gadis itu benar-benar tidak mengenal siapa mereka.


Bintang mempersilahkan mereka bertiga masuk dan duduk di ruang tengah yang sedikit lebih luas. Tak lama kemudian, pria dengan setelan jas berwarna biru tua itu berdiri dan mulai memperkenalkan diri.


"Perkenalkan, saya adalah pengacara dari almarhum Bapak Andre. Nama saya Hanan."


Mendengar nama sang ayah disebut, Hasna terbelalak. Kini dia melirik perempuan asing dan gadis kecil yang ada di sampingnya. Dia kembali teringat dengan surat yang ditulis sang tante sebelum dia tak sadarkan diri.


"Dan mereka adalah Felicia dan Alessa."


"Felicia? Selingkuhan Andre? Pantas saja aku tidak asing dengan wajahmu!" seru Reza spontan.


Lelaki itu tiba-tiba mengaduh karena sang istri memberi dia cubitan pada pinggangnya. Liontin menatap tajam ke arah Reza, dan kini lelaki itu tersenyum canggung. Pantas saja keduanya merasa tidak asing ketika melihat wajah Felicia saat datang tadi. Sebelumnya mereka pernah bertemu di Rumah Sakit di hari yang sama ketika Makutha hampir diculik.


"Yah, bahasa halusnya kekasih gelap dari Pak Andre. Dia datang ke sini sebagai saksi pembacaan surat wasiat. Saya pikir Hasna hanya tinggal sendirian setelah buliknya meninggal. Tapi ternyata begitu banyak orang baik yang mengelilinginya. Bu Feli sekaligus ingin mengucapkan permintaan maaf kepada Hasna."


Felicia melangkah mendekati Hasna, kemudian menggenggam jemari gadis itu. Entah mengapa Hasna menarik lengannya. Dia tidak nyaman disentuh oleh perempuan cantik itu.


"Maaf, Na. Maafin Tante karena sudah membuat keluargamu hancur." Felicia meremas rok yang ia pakai sembari tertunduk lesu.

__ADS_1


"Maaf, karena cintaku kepada ayahmu justru menjadi cikal bakal hancurnya hubungan harmonis kalian. Aku sungguh menyesal karena hal itu."


Hasna menatap sinis perempuan di hadapannya tersebut. Rasa dendam kembali mencuat mendengar kejujuran Felicia. Hasna mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Matanya mulai memerah dengan air bening membasahi netra.


Rasa penasaran Hasna terjawab. Sekarang dia melihat dan mengetahui langsung perempuan yang telah merenggut kebahagiaan keluarganya dulu. Walaupun tidak banyak kenangan bersama orang tuanya, tetapi ada beberapa kenangan menyenangkan bersama mendiang ayah dan ibunya.


Mengetahui emosi Hasna yang memuncak Cio meraih jemari sang kekasih. Lelaki itu menautkan jarinya di sela-sela jari Hasna. Seketika Hasna menoleh. Cio tersenyum sembari menggeleng. Dia ingin mengingatkan sang kekasih agar tidak terbawa emosi.


"Kenapa Tante tetap mendekati papa? Padahal sudah tahu kalau papaku sudah berkeluarga?" tanya Hasna, kemudian diterjemahkan oleh Makutha.


"Ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan dengan akal sehat. Salah satunya adalah perasaan. Ketika rasa cinta menguasaiku, timbul rasa egois yang membuat gelap mata. Aku tetap ingin memilikinya dengan berbagai cara. Melakukan apa yang dia minta, meninggalkan apa yang tidak ia sukai." Titik air mata membasahi pipi perempuan itu, dia sesekali menghapusnya walaupun pada akhirnya kembali menetes.


Hasna melirik gadis seusia Tiara yang kini duduk di samping Felicia. Seakan memahami apa yang dipikirkan Hasna, Felicia memperkenalkannya kepada gadis itu.


Hasna menyipitkan mata memindai gadis yang kini ada di depannya itu. Jika dikonversikan dalam bentuk persentase, kemiripan keduanya mencapai 85 persen. Ya, Hasna dan Alessa memang semirip itu. Hanya rambut mereka saja yang berbeda. Jika Alessa menggunakan jilbab dan memiliki tinggi yang sama dengan Hasna, pasti orang akan sulit membedakan keduanya.


"Dia Alessa, putri dari mendiang papamu. Dia adalah hasil dari hubungan itu."


Mendengar kalimat yang diucapkan Felicia membuat hati Hasna terasa nyeri. Dia ingin sekali mengingkari kenyataan itu. Namun, dia tidak bisa. Wajah Alessa yang begitu mirip dengannya menunjukkan bahwa mereka juga memiliki ikatan darah.

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Melihat kalian membuat hatiku begitu nyeri. Bisakah kalian pergi dari sini? Lagi pula meminta maaf juga tidak ada gunanya lagi saat ini. Tidak akan mengubah segalanya. Tidak akan membuat papa dan mama hidup lagi!" Tubuh Hasna bergetar usai mengungkapkan apa yang ia rasakan melalui gerakan tangan.


Makutha yang sangat mengerti apa yang sedang diucapkan Hasna pun hanya bisa terdiam. Dia enggan menerjemahkannya pada semua yang ada di ruangan itu. Namun, Felicia terus mendesaknya. Akhirnya Makutha mengucapkan apa yang dimaksud Hasna dengan berat hati.


Felicia mendekati Hasna lalu bersimpuh di pangkuan gadis itu. Felicia menangis sejadi-jadinya. Dia terus mengucapkan permintaan maaf berulang kali. Hasna membuang muka, enggan menatap perempuan itu.


"Tolong jangan hukum aku seperti ini. Aku sudah mendapatkan hukuman dari Tuhan. Alessa mengalami kelainan sejak lahir. Dia mengidap Thalasemia!"


Hasna terbelalak. Dia menoleh ke arah Alessa. Gadis itu memang terlihat berbeda dari gadis kecil seusianya. Badannya terlihat begitu kurus, lesu, dan wajah yang terlihat begitu pucat. Alessa hanya diam dan tak banyak bicara. Berbeda dengan Tiara dan Diandra yang tidak suka bergerak ke sana ke mari.


Thalasemia adalah salah satu kelainan akibat mutasi DNA. Penderita penyakit ini akan mengalami kelainan darah, di mana jumlah protein pembawa sel darah merah dan jumlah sel darah merah dalam tubuh, kurang dari jumlah yang seharusnya. Penderita Thalasemia harus menjalani transfusi darah seumur hidup, setiap satu bulan sekali untuk memperpanjang hidup.


"Alessa memiliki golongan darah B dengan rhesus negatif. Bisa bayangkan, bagaimana aku harus berjuang mencari golongan darah langka ini? Tuhan benar-benar adil. Hukum timbal balik terasa nyata. Terkadang aku ingin menyerah, tapi begitu melihat Alessa aku kembali bangkit. Aku harus menebus kesalahanku di masa lalu dengan terus memperjuangkan kehidupan Alessa."


Hanan berdeham untuk menghentikan percakapan pribadi mereka. "Saya ada pekerjaan lain, jadi saya harus menyampaikan wasiat dari Pak Andre sekaligus Bu Wahyu."


Hanan membuka amplop cokelat yang dia genggam, dan mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sana. Lelaki itu merogoh saku jas, kemudian memakai kacamata dengan bingkai keemasan. Lelaki itu membacakan semua isi surat wasiat dari Andre dan juga Wahyu.


Surat itu mengatakan bahwa Andre memberikan seluruh hak waris kepada Hasna. Dia hanya memberikan satu unit rumah untuk Felicia dan bayi yang dulu masih ada di dalam kandungannya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab terhadap darah dagingnya. Walaupun Alessa tidak memiliki kekuatan hukum atas hak waris, Andre tetap memberinya sebagian harta yang dimiliki.

__ADS_1


Semua hak Hasna dikelola oleh Wahyu sampai dia berusia 17 tahun. Sesaat sebelum Wahyu tak sadarkan diri, ternyata perempuan itu menemui Hanan. Dia mengatakan untuk menggunakan sebagian deposito untuk biaya operasi Hasna.


Setelah menyampaikan wasiat Andre dan juga Wahyu, pengacara tersebut berpamitan. Reza langsung menghubungi Rumah Sakit untuk menjadwalkan kapan bisa melakukan tindakan operasi untuk Hasna. Sebuah harapan baru kini menyambut kehidupan Hasna. Mereka semua berharap nasib baik terus menemani langkah Hasna setiap waktu.


__ADS_2