
"Ngeselin banget, sih, Utha!" Hasna menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Bayangan bibir Makutha yang menempel di atas bibirnya kembali melintas. Hasna sontak meraba bibir. Entah mengapa bibirnya terasa aneh. Rasanya seperti ada yang masih menempel di sana.
"Aku udah nggak perawan!" Bibir Hasna melengkung ke bawah.
"Nggak, nggak, aku masih perawan, sih. Tapi bibirku yang udah nggak perawan! Udah terjamah oleh Makutha! Dasar!" Hasna berguling-guling ke kiri dan kanan.
Sekilas Hasna juga merasa sudah menghianati Cio. Gadis itu menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar. Hasna kembali bangkit dan duduk di tepi ranjang. Dia melirik botol minum yang ia letakkan di atas nakas, dan ternyata isinya sudah kosong. Hasna mendengus kesal.
Hasna meraih botol berbahan kaca itu kemudian melangkah mendekati pintu. Saat hendak menuruni anak tangga, dia mengurungkan niat karena mendengar percakapan Liontin dan juga Reza.
Hasna duduk pada anak tangga karena kakinya yang gemetar. Dia membekap mulut karena takut isak tangisnya lolos. Gadis itu dihantam sebuah kenyataan pahit. Satu per satu kenyataan mengenai almarhum sang ayah terungkap.
Hasna bisa mendengar dengan jelas obrolan keduanya yang sedang membahas penghianatan sang ayah. Gadis itu tak menyangka kalau Reza adalah orang yang telah dikhianati sang ayah. Sebuah kenyataan yang justru membuatnya turut berkubang dalam rasa penyesalan yang teramat dalam.
"Penghianat?" gumam Hasna. Air matanya mengalir begitu deras.
Hasna mengumpulkan lagi kekuatannya. Dia berniat untuk bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Gadis itu menghapus air mata, kemudian mulai beranjak dari tangga.
Namun, ketika baru akan melangkah menuruni anak tangga ternyata Liontin dan Reza sudah berdiri di hadapannya. Keduanya terbelalak. Liontin menatap Reza sebelum akhirnya mendekati Hasna.
"Na, ka-kamu kok belum tidur?" tanya Liontin sedikit gugup. Perempuan itu khawatir kalau Hasna mendengar obrolannya dengan sang suami.
"Ah, ini ... Hasna mau mengisi botol minum, Bun." Hasna menunjukkan botolnya yang sudah kosong.
Liontin melihat mata Hasna yang terlihat basah. Suara gadis itu juga terdengar sedikit gemetar. Liontin merangkum wajah Hasna, kemudian menatapnya penuh tanya.
"Na, kamu baik-baik saja? Kamu habis nangis? Apa Utha menyakitimu lagi?" cecar Liontin.
"Tidak, Bunda. Tadi Hasna baru saja menguap. Jadi, air mata Hasna keluar." Hasna menggigit bibir bagian dalam.
"Oh, baiklah. Setelah ini cepat naik lagi, dan tidur, ya?" Liontin berlalu meninggalkan Hasna kemudian berjalan beriringan bersama Reza.
__ADS_1
Hasna menapaki satu per satu anak tangga dengan langkah gontai. Gadis itu masih terpukul karena kenyataan yang baru saja menghantamnya. Sesampainya di dapur, Hasna mengisi botol minumnya dengan air putih melalui dispenser.
Gadis cantik itu melamun, sampai tidak sadar kalau botolnya sudah penuh dan airnya meluber ke mana-mana. Lantai di bawahnya kini telah dipenuhi genangan air. Hasna tersadar ketika suara Tiara tertangkap oleh indra pendengarannya.
"Mbak Hasna, botolnya udah penuh, loh?" Tiara menatap air yang kini meluber dari botol, dan terus menetes membasahi lantai.
"Ha?" Hasna menoleh ke arah Tiara, kemudian menatap lantai di bawahnya.
"Astaga!" Gadis itu menutup keran dispenser, lalu meletakkan botolnya ke atas meja.
"Mbak Hasna kenapa? Kok ngelamun?" tanya Tiara sambil mengambil kain pel di kamar mandi.
"Nggak apa-apa, Ara. Mbak cuma sedikit ngantuk, tapi harus isi botol ini." Hasna tersenyum datar, lalu mengambil alih kain pel dar tangan Tiara.
Hasna menutupi air yang menggenang dengan kain pel, lalu duduk di kursi bar. Gadis itu meneguk sebagian air yang ada di dalam botol. Tiara membuka lemari yang menempel di dinding, lalu meraih sebungkus mi instan.
"Mbak Hasna ada masalah apa? Ceritalah sama Ara. Mungkin Ara nggak bisa bantu, tapi paling tidak bisa jadi pendengar yang baik."
"Sulit untuk diungkapkan, Ara. Lebih ke rasa malu. Aku sedang berada dalam keadaan malu serta rasa bersalah karena sesuatu yang bahkan tidak aku perbuat. Semua menyatu menjadi sebuah beban hati yang terasa berat."
"Ara nggak tahu masalah apa yang sedang Mbak Hasna hadapi saat ini. Tapi, sebaiknya selesaikan semua agar hati Mbak Hasna tidak merasa terbebani."
"Terima kasih, Ara. Tapi sepertinya aku hanya akan menyimpan semuanya sendiri."
Hasna kini mengangkat kepala, kemudian bertopang dagu sembari memerhatikan Tiara yang sibuk merebus mi.
"Mbak, mau dibuatin sekalian?"
Hasna mengangguk. Tiara pun kembali membuka lemari penyimpanan, dan mengambil sebungkus mi lagi. Gadis itu mai mengolahnya setelah mi miliknya matang.
Malam itu Hasna sedikit lebih tenang karena Tiara menghiburnya. Gadis kecil itu begitu pandai menenangkan hatinya. Walaupun Tiara baru berusia 13 tahun, tetapi pemikiran gadis itu sangatlah dewasa. Tak heran jika setiap ada teman yang memiliki masalah, selalu menjadikannya tempat berbagi cerita.
Tiara mewarisi sikap tegas dari Reza, tetapi terkadang bisa bersikap lembut seperti sang ibu. Hasna sering melihat teman perempuannya datang ke rumah. Pernah suaru hari tengah malam, seorang teman perempuannya datang ke rumah sembari menangis sesenggukan. Tiara membujuk temannya itu, serta memberinya beberapa nasehat. Akhirnya, hati temannya luluh dan mau kembali ke rumah.
__ADS_1
...****************...
Entah mengapa Cio merasa tidak tenang malam itu. Lelaki itu bergegas menghubungi Hasna, setelah menyelesaikan pekerjaannya. Jantung Cio berdegub tak beraturan ketika menunggu panggilannya diangkat oleh Hasna.
"Halo," sapa Hasna dari ujung telepon.
"Udah tidur, Na?" tanya Cio sembari merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Belum, kok. Barusan isi botol minum. Ada apa? Tumben malam-malam telepon?"
"Nggak tau, nggak enak aja perasaanku, Na. Kamu nggak lagi kenapa-kenapa 'kan?"
Tiba-tiba telepon hening. Hanya ada suara hembusan napas Hasna yang bercampur dengan gemuruh mesin pendingin ruangan. Cio kembali memanggil nama sang kekasih, untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
"Na ...."
"Besok aku ceritakan, ya? Besok jadi pulang, 'kan?"
"Jadi, dong! Aku bawa oleh-oleh buat kamu!" Cio terkekeh sembari menatap gamis yang masih tersimpan rapi dalam plastik bening.
"Baiklah, kutunggu oleh-olehnya besok! Awas kalo ingkar janji!"
"Tidurlah, besok kita ketemu sepulang sekolah. Oke?"
"Oke. Nite, Sayang."
Cio mengerutkan dahi. Dia masih terkejut setiap Hasna memanggilnya dengan kata 'sayang'. Terlebih lagi kekasihnya itu selalu mematikan sambungan telepon setelah mengucapkan panggilan tersebut.
Saat bertemu pun, Hasna enggan mengulangi sapaan yang baru saja ia mulai tiga hari terakhir. Sama seperti sebelum dirinya berpamitan kepada Hasna. Gadis cantik itu selalu mengalihkan pembicaraan setelah mengucapkan kata 'sayang'.
"Dasar, bikin aku gemas saja!"
Cio menatap layar ponsel yang terpasang foto Hasna sedang tersenyum saat ponsel terkunci. Lelaki itu meletakkan ponselnya ke atas nakas, lalu menarik selimutnya sampai menutupi dada. Perlahan dia mulai memejamkan mata.
__ADS_1