TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 41. Kepedihan David


__ADS_3

"Bagaimana pabrik yang ada di sana? Baik-baik saja, 'kan?"


"Ya, Pa."


"Baguslah! "


Saat lawan bicaranya hendak menutup sambungan telepon, David mencegahnya. Lelaki itu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.


"Pa, bisakah aku kembali ke sana?"


"Kembali ke sini? Tidak akan kuijinkan! Kamu sudah membuatku kecewa karena sikapmu terhadap Barbie!"


"Apa Anda sengaja melakukan hal ini kepadaku, Tuan Li?"


"Syukurlah jika kamu tahu diri! Ini adalah hukuman yang harus kamu tanggung karena kesalahan ibumu!"


Sambungan telepon terputus. David memukul dinding yang ada di samping meja kerjanya. Kini buku-buku jari lelaki itu terluka. Rahangnya mengeras hingga memperlihatkan urat leher yang menonjol.


"Sampai kapan aku harus melakukan semua keinginanmu!" teriak David frustrasi.


Tak lama kemudian deringan ponsel terdengar. David mengangkatnya. Lui sang sekretaris menelepon.


"Tuan, Tuan Reza sudah sadar. Apa Anda ingin datang menjenguk?"

__ADS_1


"Lui, menurutmu ... apa aku akan senang mendapatkan kabar ini? Jika bisa, aku akan menghancurkan dan merebut apapun yang ia miliki!"


"Maafkan saya, Tuan."


"Si bodoh itu ... jangan biarkan dia buka mulut! Habisi segera jika sampai dia menyebut nama kita. Jangan lupa, habisi juga orang yang mendengarnya!" David mengakhiri sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari sang sekretaris.


David keluar dari kantornya, kemudian menuju mobil, dan mengendarainya menuju rumah. Sesampainya di rumah, Jia sedang bermain dengan Imas.


"Papa!" Jia bangun dari duduknya, kemudian berlari menghampiri David, dan memeluk kaki jenjangnya.


David membungkuk kemudian meraih tubuh mungil Jia. Lelaki itu melangkah menuju taman belakang rumahnya, kemudian mengajak sang putri duduk di ayunan.


"Jia, apa kamu mau mama?"


"Mau! Mama!" Jia terkindap-kindap menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Liontin.


Mata Jia berbinar sambil mengangguk antusias. Kenangan masa lalu terlintas kembali di benak David. Dulu dia dan mendiang istrinya begitu lama menanti kehadiran Jia. Berbagai usaha sudah mereka lakukan. Namun, sebuah kenyataan pahit menghantam hati keduanya.


...****************...


"Semuanya sehat, detak jantungnya normal, air ketuban masih baik sekali, jernih dan cukup," jelas dokter sambil menatap layar monitor di depannya.


"Jenis kelaminnya, Dok?"

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Dokter laki-laki itu kembali menggerakkan transduser di atas perut Ellena. "Perempuan."


Ellena dan David saling menautkan jemarinya dan melemparkan senyum. Setelah semua pemeriksaan selesai, Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Keduanya berniat memberi kabar sang ayah mengenai kehamilan Ellena yang terpantau sehat.


Tak lama kemudian, mobil David memasuki halaman rumah dan mulai berjalan ke pintu utama. Tangan kirinya menautkan jemari Elle, dan yang kanan menekan tombol. Pintu utama terbuka lebar. Asisten Rumah Tangga tersenyum lebar dan mempersilahkan keduanya masuk.


"Sebentar saya panggilkan Tuan Besar."


Tak lama kemudian, lelaki berumur 60 tahunan keluar dengan tongkat dalam genggaman. Dia duduk di kursi tamu kemudian menatap tajam ke arah David.


"Bagaimana? Laki-laki, 'kan?"


Jantung David dan Ellena seakan berhenti berdetak. Elle menundukkan kepala sambil meremas terusan yang ia pakai. David menelan ludah kasar sebelum akhirnya angkat bicara.


"Pe-perempuan, Pa."


Tuan Li menggebrak meja. Alisnya saling bertautan dengan bibir yang mulai berkedut.


"Gugurkan!" teriak lelaki tua itu sambil menunjuk perut Elle yang mulai membuncit.


"Papa! Apa Papa tidak sadar sudah berbuat sebuah kesalahan? Dia darah juga darah dagingmu! Bagaimana bisa setega itu Papa mengucapkan hal seperti itu?"


"Darah daging? Apa kamu mulai melupakan dari mana dirimu berasal?" Tuan Li tersenyum miring sambil melipat lengan.

__ADS_1


"Kamu bukan siapa-siapa di keluarga ini! Aku terus mencari putraku yang sebenarnya! Jangan berharap mendapatkan lebih ketika dia kembali!"


...****************...


__ADS_2