
Reza menghentikan laju mobilnya ketika sampai kantor polisi. Lelaki itu membanting kasar pintu mobil, lalu melangkah mantap memasuki tempat tersebut. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Bapak Walikota, dan dua pengusaha lain.
Mereka bertiga menatap sinis kepada Reza. Sang Walikota melangkah mendekatinya. Lelaki itu melipat lengan di depan dada. Kemudian tersenyum miring penuh ejekan.
"Salahku juga, menyekolahkan Liam ke sekolahan biasa! Harusnya aku menyekolahkannya ke sekolah taraf internasional!" seru Pak Walikota.
"Itu urusan Anda Bapak Walikota yang terhormat. Lagi pula, sekolah taraf internasional pun tidak akan menjamin anak-anak kitq berkelakuan baik. Bukankah begitu, Pak?" Reza mengacuhkan lelaki itu dan berjalan ke arah Arjun.
"Gara-gara anakmu, anak kami terlibat perkara memalukan seperti ini!" seru Ayah Alex.
"Apa Anda yakin, kalau Makutha yang menyebabkan semua ini terjadi? Aku sangat memahami bagaimana sifat putraku, lebih dari siapapun."
Satu lagi adalah pengusaha perumahan elit di wilayah Solo. Dia adalah ayah dari Hendry. Lelaki itu hanya diam, menatap Reza sekilas lalu tertunduk lesu. Namanya Baskoro, si Tuan Tanah pemilik Baskoro Grup Regency.
"Apa ada sesuatu yang saya lewatkan?" tanya Reza sembari menatap tajam Baskoro.
"Tidak ada. Anak kita semua terbebas, karena belum sempat melakukan penyerangan," jawab Baskoro lesu.
Ayah dari Liam dan Alex keluar terlebih dahulu dari kantor polisi, dan disusul oleh anak-anak mereka. Hendry dan Makutha berjalan beriringan keluar dari sel tahanan.
"Hendry, ayo pulang! Kita bicarakan semuanya di rumah. Bapak harus tetap menghukummu!" seru Baskoro wibawa, sungguh berbanding terbalik ketika berbicara dengan Reza.
"Iya, Pak," jawab Hendry patuh.
"Kami permisi dulu, Pak." Baskoro dan Hendry berjalan beriringan keluar dari kantor polisi.
Kini tersisa Makutha dan Reza, serta Arjun. Reza meminta Makutha untuk lebih dulu masuk ke mobil. Lelaki itu pun patuh, dan langsung keluar tanpa kata. Setelah Makutha keluar dari kantor polisi, Reza duduk di depan meja Arjun.
"Rendy, tolong buatkan kopi untuk kami." Arjun memberi perintah kepada bawahannya.
"Baik, Pak!" Rendy beranjak dari kursi dan menuju ke dapur.
"Tidak usah repot-repot, saya sebentar lagi haris pergi."
"Ah, tidak masalah. Pergilah Ren!" seru Arjun.
__ADS_1
"Siap, Pak!"
Sementara menunggu Rendy, Arjun mencoba untuk mengajak Reza mengobrol. Dia paham betul bagaimana perasaan ayah dari Makutha itu. Sebenarnya Arjun juga kesal dengan sikap semena-mena orang tua dari Liam, Alex, dan juga Hendry. Namun, dia tidak bisa berkutik karena orang yang memiliki posisi di atasnya memerintahkan untuk menutup kasus tawuran.
Arjun diperintahkan untuk menutup kasus tersebut, dan menggantinya dengan kasus penyerangan yang dilakukan Toni terhadap Cio. Polisi tampan itu menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar, sebelum membuka obrolan dengan Reza.
"Pak Reza, sebenarnya Makutha tidak melakukan kesalahan apapun. Dia bahkan berniat untuk mencegah tawuran ini terjadi. Tapi, teman-temannya ngotot dan tetap melancarkan aksinya."
"Saya tahu."
"Kami menemukan jejak digital dari ponsel Liam, Alex, dan Hendry. Mereka sejak awal berencana untuk menyeret Makutha ke dalam kasus ini. Selain itu hanya Makutha yang tidak mempersiapkan senjata tajam atau benda tumpul lainnya," jelas Arjun antusia.
"Saya tahu."
"Pak, Anda baik-baik saja?" Arjun bertanya kepada Reza karena jawaban datar dari lelaki di hadapannya itu.
"Saya tahu, dan saya baik-baik saja. Silahkan lanjutkan cerita yang Anda ketahui. Saya ingin mendengar pendapat Anda mengenai putra saya."
"Ya?" Arjun mengerutkan dahi.
"Baiklah, Pak. Jadi begini ...."
Arjun mulai menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Dia juga menceritakan mengenai permintaan atasannya yang ingin menutup kasus dari sang putra Wakil Walikota. Obrolan keduanya berhenti ketika sebuah panggilan masuk ke ponsel Reza.
"Halo," sapa Reza.
"Yang, tiga puluh menit lagi jenazah Cio dimakamkan. Bagaimana Makutha?"
"Dia diperbolehkan pulang. Dia dinyatakan tidak bersalah. Cuma satu orang yang ditahan. Anak yang melakukan penyerangan terhadap Cio."
"Sungguh, aku ingin sekali menghujaninya dengan pukulan!"
"Pak Arjun bilang, dia sepertinya memiliki gangguan. Dia tidak memiliki sedikit pun rasa bersalah setelah memukul Cio. Bahkan ketika mendengar bahwa korbannya meninggal, justru dia tertawa terbahak-bahak."
"Aku merinding, Yang dengernya! Gila psikopat sih, dia!"
__ADS_1
"Aku justru khawatir sama mereka semua yang lolos, Yang. Termasuk Makutha. Orang macam dia pasti memiliki pola pikir yang luar biasa." Reza menarik napas panjang lalu mengembuskan napas kasar.
"Aku takut setelah dia bebas, nantinya akan melakukan hal buruk kepada Makutha dan yang lain. Secara, di tempat kejadian bukan hanya ada dia 'kan? Tapi cuma dia yang mendapatkan hukuman. Pasti anak itu merasa tidak mendapatkan keadilan."
"Ya, tapi memang dia yang menyebabkan Cio meninggal, Yang."
"Yang, dia itu psikopat! Pola pikirnya berbeda jauh dengan kita. Aku ngeri membayangkannya saat polisi menceritakan kronologi kejadian hari ini." Reza mengusap wajahnya kasar.
"Semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi, Yang."
"Semoga. Baiklah, aku akan segera pulang. Aku ke sana sekarang bareng Makutha."
Reza mematikan sambungan telepon. Lalu, dia berpamitan kepada Arjun, dan melangkah keluar menghampiri Makutha. Ketika masuk ke mobil, aroma anyir darah begitu menusuk hidung.
Reza melirik Makutha yang tidur, dengan sandaran kursi yang dimiringkan 145 derajat. Noda darah mesih menempel di kemeja dan juga tangan anak laki-lakinya itu. Dia menggunakan lengan bawahnya untuk menutup wajah.
"Kita pulang sebentar. Kamu mandi dulu, lalu ganti baju. Kita harus menghadiri pemakaman Cio." Reza menatap Makutha sendu. Dia tahu bagaimana perasaan sang putra saat ini.
Pasti sangat berat bagi Makutha karena menyaksikan sendiri sahabatnya diserang di depan mata. Melihat darah mengucur dari kepala Cio, pasti membuat Makutha trauma. Dia kembali teringat kejadian ketika Tiara jatuh dari pohon.
Makutha sempat murung dan langsung mual, serta mengeluarkan isi perutnya setiap melihat darah atau mencium bau darah. Lelaki itu semakin sensitif terhadap darah. Kebiasaan Makutha itu berlangsung hingga dia masuk Sekolah Menengah Atas.
"Aku nggak mau pergi ke sana, Yah." Makutha mesih tetap pada posisinya.
"Tha, datanglah, sebagai penghormatan terakhir untuk Cio. Dia itu sahabatmu sejak kecil," bujuk Reza.
"Makutha nggak sanggup lihat tubuh Cio dimasukkan ke dalam liang lahat, Yah." Air mata menetes perlahan membasahi pipi Makutha.
"Tha, kamu lelaki kuat. Coba bayangkan, bagaimana kecewanya Cio di sana kalau kamu tidak mengantarnya untuk terakhir kali?"
"Yah, apa Utha bakal membawa rasa bersalah ini seumur hidup?" Makutha kini menurunkan lengan dan melirik sang ayah dengan posisi punggung yang masih bersandar pada kursi.
"Kamu nggak salah, Tha. Ini semua sudah takdir. Tuhan sudah menggariskan umur Cio hanya sampai di angka yang 18. Mau sekuat apapun kita mencegah, kalau Tuhan sudah berkehendak, kita bisa apa?"
Makutha bungkam. Ayahnya benar, semua ini sudah takdir. Namun, hatinya tetap saja risau. Dia tidak bisa melupakan bagaimana sang sahabat bersimbah darah di tempat itu. Makutha mengusap wajah kasar, lalu kembali memejamkan mata. Dia berharap saat membuka mata, ini semua hanyalah mimpi.
__ADS_1