
Setelah menempuh perjalanan udara selama 1,5 jam, akhirnya Hasna, Cio, dan Makutha sampai di Solo. Mereka sepakat untuk mengantar Hasna pulang, sebelum keduanya kembali ke rumah masing-masing.
Taksi yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan halaman Hasna. Cio dan Makutha saling tatap kemudian mengangguk. Hasna yang duduk di kursi samping sopir mengerutkan dahi, ketika melihat suasana rumah tampak ramai.
Ada apa, ini?
Hasna terus bertanya dalam hati. Gadis itu keluar dari taksi dan terus melangkah masuk. Dia mendapati sebuah kenyataan pahit ketika melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Seseorang telah terbujur kaku dengan kain batik sebagai penutupnya.
Hasna terus maju berusaha menepis segala pikiran buruk yang ada di benaknya. Jemarinya gemetar saat hendak menyingkap kain tersebut. Bulir air mata mulai berdesakan karena dugaannya. Dia menduga bahwa orang yang terbujur kaku itu dalah Wahyu.
"Hasna!" teriak Liontin.
Liontin langsung menghampiri Hasna dan memeluknya. Air mata perempuan itu berjatuhan membasahi pipi. Hasna berusaha melepaskan pelukan ibu dari Cio tersebut. Akan tetapi, Liontin bersikukuh untuk tetap memberikan pelukan.
"Na, kamu yang sabar ya? Bulik Wahyu ...."
Seketika perasaan tak menentu memenuhi hati Hasna. Rasa sedih mendominasi dan ada sedikit perasaan menyesal. Dia sudah tahu arah pembicaraan Liontin. Hasna melepaskan pelukan, lalu menatap Liontin.
"Tante, kenapa? Bulik Wahyu kenapa?" tanya Hasna dengan bahasa isyarat.
"Na, sabar ya. Bulik Wahyu .... Bulikmu ... sudah berpulang." Liontin menangis sesenggukan. Tubuhnya bergetar hebat mencoba menenangkan diri. Dia kembali teringat saat terakhir Wahyu sebelum meninggal.
...****************...
Beberapa jam yang lalu ....
"Na ...."
Suara lemah yang terdengar parau itu membuat Liontin yang sedang tertidur saat menjaga Wahyu kembali terjaga. Perempuan itu mengucek mata sebelum menyadari bahwa dia sedang tidak bermimpi.
"Na ...."
Liontin terbelalak. Setelah berbulan-bulan akhirnya Wahyu tersadar dari tidur panjangnya. Perempuan itu langsung memencet tombol darurat, agar tim medis datang dan mengecek kondisi Wahyu. Liontin mendekat ke arah Wahyu, lalu membisikkan bahwa Hasna sedang tidak ada di sana.
__ADS_1
"Mbak, jangan banyak bicara dulu." Liontin menitikkan air mata bahagia.
"Na .... Hasna di mana?" tanya Wahyu lirih hampir tak terdengar.
"Hasna sedang liburan. Mbak, tolong jangan banyak bicara dulu, ya? Sebentar lagi tim medis datang buat cek kondisi Mbak Wahyu."
"Titip Hasna."
Dua kata itu adalah kata terakhir yang diucapkan Wahyu. Denyut jantung perempuan itu semakin melemah. Tim medis juga masuk ke dalam ruang ICU. Liontin diminta untuk keluar dari ruangan tersebut.
Baru saja hendak meraih tuas pintu terdengar suara alat pendetektsi jantung yang berbunyi begitu nyaring dan panjang. Liontin sontak menghentikan langkahnya, lalu menoleh. Tim medis saling tatap, kemudian dokter yang bertanggung jawab atas kesembuhan Wahyu menggeleng.
Wahyu berpulang. Kaki Liontin seakan tak bertulang. Tubuhnya ambruk ke atas lantai. Bahunya bergetar hebat dan tangis perempuan itu pecah seketika. Seorang perawat mendekati Liontin kemudian mengajak Liontin keluar dari ruangan itu.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir Tuhan berkehendak lain. Bu Wahyu sudah berpulang."
Liontin kembali menangis sejadi-jadinya. Perempuan itu sampai berteriak histeris. Nama yang terakhir disebut Wahyu tidak ada di sampingnya. Dia sempat menyalahkan diri karena memaksa Hasna untuk berangkat ke Bali.
"Jika saja aku tidak memaksa Hasna pergi, mungkin Mbak Wahyu bisa mendapat semangat hidupnya kembali! Paling tidak, Mbak Wahyu bisa melihat wajah keponakannya untuk terakhir kali!"
...****************...
Hasna seakan kehilangan pijakan. Dia terhuyung dan terduduk di atas lantai. Dadanya terasa sangat sesak. Namun, air mata enggan keluar. Gadis itu sampai menepuk dadanya berulang kali. Dia berharap rasa sesak yang menghimpit, keluar beriringan dengan setiap pukulan yang mendarat di dadanya. Liontin merengkuh lengan atas gadis berjilbab itu.
"Bunda, kok air mata Hasna nggak bisa keluar, ya?" Jemari Hasna bergetar sembari bergerak mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini.
"Na ...." Air mata Liontin kembali mengalir deras.
Nggak bisa keluar, air mataku ....
Hasna terus memukul dadanya, berharap air mata segera keluar dan mengalir untuk menghapus kesedihan yang ia rasakan. Namun, usahanya sia-sia. Tak lama kemudian Cio mendekat. Lelaki itu merengkuh tubuh Hasna dan memeluknya. Cio menepuk lembut punggung sang kekasih.
"Na, menangislah. Agar beban hati dan kesedihanmu sedikit berkurang."
__ADS_1
Entah mengapa pelukan Cio membuat Hasna bisa melepaskan kesedihannya. Gadis itu mulai mengeluarkan isak tangis. Air mata perlahan menetes membasahi pipi. Tubuh Hasna bergetar karena tangis yang mulai pecah.
"Iya, begitu. Keluarkan semua kesedihanmu melalui air mata, Na. Keluarkan semua. Setelah itu hanya akan tersisa kebahagiaan dalam hidupmu. Menangislah semaumu."
Malam itu mereka mencoba menghibur Hasna, sampai pagi menjelang. Wahyu dikebumikan di samping makam orang tua Hasna. Setelah selesai pemakaman, keluarga besar Cio, dan Makutha berkumpul di rumah Hasna.
"Terakhir kali sebelum Wahyu meninggal, dia menitipkan Hasna kepadaku. Tapi, semua tergantung Hasna. Dia sudah berusia 17 tahun. Jadi, dia bisa memilih apa yang menjadi keinginannya." Liontin menoleh ke arah Hasna yang masih tertunduk lesu.
"Na, gimana? Kamu mau tinggal sama siapa?" tanya Bintang sambil tersenyum tipis.
Hasna mendongak lalu menatap Bintang dan Liontin bergantian. Sebenarnya dia ingin sekali tinggal berdekatan dengan Cio. Namun, jika memilih tinggal bersama keluarga kekasihnya itu, Hasna takut akan melewati batas.
Hasna menaikkan lengan kemudian menunjuk ke arah Liontin. Dia ingin menjaga diri agar tidak keluar batasan ketika menjalin hubungan dengan Cio. Selain itu, di saat terakhirnya, Wahyu sudah menitipkan dia kepada Liontin.
"Baiklah. Mari berkemas! Kita langsung pindah dari sini. Mungkin rumah ini memiliki banyak kenangan bersama Bulikmu. Tapi, justru hal ini tidak baik. Kamu justru akan selalu teringat pada Bulik Wahyu, dan terus berkubang dengan masa lalu."
"Iya, ayo kami bantu beres-beres!" Bintang tersenyum lebar kemudian mendekati Hasna.
Semua membantu Hasna berkemas dan juga membersihkan rumah. Ketika mereka hampir selesai, seorang lelaki dengan pakaian rapi mengetuk pintu yang masih terbuka lebar. Hasna mengerutkan dahi karena tidak mengenal siapa pria tersebut.
"Sepertinya sedang sibuk, boleh kami masuk?" tanya pria itu dengan senyuman lebar.
Ternyata di belakang lelaki itu ada seorang perempuan yang sedang menggandeng jemari gadis berusia 12 tahun. Liontin dan Reza saling tatap dan keduanya terbelalak.
"Boleh kami masuk?" Lelaki dengan jas rapi itu kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
Akhirnya Hasna mengijinkan mereka bertiga masuk. Kini mereka semua duduk di ruang tengah beralaskan karpet. Perempuan asing itu sesekali menatap bagian atas rumah sembari terbatuk-batuk.
"Sebelumnya perkenalkan, saya adalah ...."
...****************...
Siapa sih mereka? Akkk dikit lagi tamat!
__ADS_1
Oya, mampir juga ke sini yaaa