TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 38. Bertemu Lagi


__ADS_3

"Kak, lain kali jangan bercanda seperti waktu itu, ya?" Liontin mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti.


"Lihat sekarang? Tubuhmu benar-benar tak berdaya di atas sini." Tubuh Liontin bergetar hebat dengan jemari yang membekap mulut agar tangisnya tidak pecah.


Di atas ranjang ruang ICU, Reza terbaring tak sadarkan diri. Suara deru mesin dan selang infus serta alat bantu pernapasan menjadi pemandangan seminggu terakhir. Reza dinyatakan koma dengan kemungkinan bangun sangat tipis.


Tak lama kemudian terdengar pintu berderit. Risa masuk ke ruangan itu dan menghampiri Liontin. Perempuan itu mati-matian menahan tangis agar tidak membuat Liontin semakin sedih.


"Tin, keluar sebentar, yuk! Kita makan. Kamu belum makan dari kemarin. Kasihan Makutha jika gizimu tidak terpenuhi, bagaimana dengannya yang hanya bergantung pada ASI-mu?"


Liontin bangkit dari kursi kemudian berjalan lunglai sambil menggandeng jemari Risa. Ketika keduanya sampai di depan pintu, mereka berpapasan dengan seseorang yang tidak disangka-sangka. David menggendong tubuh Jia yang terlihat lesu.


"Mama!" teriak Jia.


Bayi yang awalnya lesu itu, sekarang meronta dari gendongan David kemudian berlari ke arah Liontin.

__ADS_1


"Ba-baimana ... bisa?" lirih Liontin yang masih terperangah.


"Apa kabar?" David tersenyum tipis sambil melirik Makutha yang sedang terlelap dalam dekapan Risa.


"Kalian, kenapa bisa ada di sini?"


"Jia sedang flu."


"Bukan itu maksudku. Kalian kenapa bisa ada di Indonesia?" Liontin menautkan kedua alisnya sambil menimang Jia yang mulai merengek.


"Aku sedang mengurus pabrik baru yang ada di sini," jelas David.


"Liontin, makanlah dulu. Biar aku yang menjaga Reza."


Liontin mengangguk kemudian menurunkan Jia dari dekapannya. Perempuan itu mengambil alih tubuh mungil Makutha dan mulai berjalan berdampingan dengan David. Risa menatap punggung mereka hingga menghilang dari pandangan, perempuan itu merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Cari tahu mengenai David. Bagaimana dia bisa sampai di sini dan sejak kapan?" Risa mematikan sambungan telepon kemudian meremas rambutnya frustasi.


Risa kembali masuk ruang ICU, kemudian duduk di samping ranjang, dan menggenggam jemari Reza sambil mengusap lembut jemari sang putra. Air matanya terus mengalir membasahi pipi.


"Bangun, Za. David sekarang ada di sini. Apa kamu rela jika dia kembali merenggut apa yang seharusnya menjadi milikmu?" Rahang perempuan itu mengeras dan matanya memerah karena menahan amarah yang bergejolak.


Di kantin Rumah Sakit, Liontin diam seribu bahasa dan enggan menatap David. Dia hanya mau tersenyum dan bicara dengan Jia. Makutha yang sudah terbangun, ia dudukkan di kursi khusus bayi. David berulang kali menatap Liontin dan Makutha secara bergantian. Dia seakan bercermin ketika melihat bayi kecil yang sekarang sedang sibuk memukul meja. Makutha adalah versi junior dari dirinya.


Ketika pandangan David beralih pada Liontin, lelaki itu langsung menyadari sikap dinginnya. Liontin seakan menciptakan tembok es di antara mereka. Perempuan itu hanya diam dan menjawab jika David mengajukan pertanyaan.


"Dingin sekali sikapmu?" David menyandarkan punggung pada kursi sambil melipat lengan.


Liontin pura-pura tidak mendengar ucapan lelaki di hadapannya itu, dan terus mengajak Jia bercanda. David mendengus kesal karena merasa diabaikan.


"Jia mau makan?"

__ADS_1


Jia mengangguk antusias sambil membuka mulutnya lebar. Liontin menyuapi bayi itu dan sesekali ikut makan makanan yang ia pesan. Tak lama kemudian, deringan ponsel menghentikan kegiatan mereka. Liontin mengangkat telepon dan mulai mendengar ucapan seseorang dari ujung telepon. Perempuan itu terbelalak, kemudian beranjak dari kursi. Dia menggendong tubuh mungil Makutha dan setengah berlari meninggalkan kantin.


"Liontin, apa yang terjadi?"


__ADS_2