TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 57. Awal Yang Baru


__ADS_3

Reza membuka matanya perlahan. Wajah cantik Liontin menyapa paginya mulai hari ini. Dia tidak menyangka bisa memiliki cinta pertamanya itu seutuhnya. Reza tersenyum tipis, kemudian menyelipkan anak rambut Liontin ke belakang telinga.


Pengalaman pertama malam panasnya bersama Liontin kembali terbayang. Liontin benar-benar masih malu-malu layaknya anak perawan. Bercinta setelah menikah memang yang terbaik.


Liontin mulai menggeliat. Dia membuka matanya perlahan. Perempuan itu sempat tersentak karena mendapati dada telanjang laki-laki yang ia gunakan sebagai bantal. Liontin sontak terduduk. Ketika selimut yang menyelimutinya tersingkap, barulah dia menyadari kalau tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.


"Aaakkk!" pekik Liontin kemudian kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh.


"Pagi, Sayang!" Reza tersenyum tipis kepada sang istri.


"Pa-pagi, Kak," balas Liontin canggung.


"Ih, kok panggil, Kak?" Reza mengerutkan dahi sambil memajukan bibirnya, layaknya anak kecil yang sedang merajuk.


Liontin memaksakan tawa. Dia menelan ludah kemudian mencoba sekuat hari untuk memanggil Reza dengan sebutan sayang.


"Pa-pagi, Sa-yang," sapa Liontin terbata-bata.

__ADS_1


Melihat tingkah menggemaskan sang istri membuat Reza gemas. Dia menarik lengan Liontin hingga tubuh perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya. Aroma sampo yang dipakai istrinya itu menyeruak memenuhi rongga hidung. Dia menghirup dalam wanginya kemudian mengecup puncak kepala Liontin.


"Mau ulangi yang semalam? Aku ketagihan," goda Reza sembari memainkan jemarinya di atas punggung putih sang istri.


"Tapi, ini udah siang, Kak." Liontin menatap ke arah jendela yang mulai memperlihatkan semburat jingga matahari terbit.


"Kak lagi!" Reza mendengus kesal kemudian melepaskan pelukannya.


Rasa bersalah kini merasuki hati Liontin. Dia menelan ludah sebelum mencoba merayu sang suami yang mulai merajuk. Walau sedikit ragu, akhirnya Liontin naik ke atas tubuh sang suami dan mulai mengecup pipi sang suami. Reza tersenyum miring melihat tingkah sang istri.


...****************...


Liontin menatap lesu cermin di depannya. Memar berwarna biru keunguan hasil karya sang suami memenuhi lehernya. Dia mencoba memulaskan alas bedak ke atas kulit untuk menutupi tanda cinta pemberian Reza.


"Ah, lumayan membantu ...," gumam Liontin.


Terdengar suara pintu diketuk, sehingga membuat Liontin cepat-cepat memakai bajunya. "Iya, sebentar!" teriak Liontin.

__ADS_1


Setelah berpakaian lengkap, Liontin menuju pintu dan memutar tuasnya. Makutha sudah menangis histeris dalam dekapan Risa. Ibu mertuanya itu tersenyum tipis sambil menatap lehernya yang masih samar terlihat berwarna ungu.


"Astaga! Apa ini tidak sakit?" Risa terbelalak sambil menyentuh leher Liontin.


"Enggak, Ma." Liontin tersipu malu kemudian meraih tubuh Makutha.


Liontin melangkah masuk diikuti Risa yang mengekor di belakangnya. Keduanya duduk di tepi ranjang dan mulai berbincang ringan. Obrolan keduanya berhenti saat Reza muncul.


"Sudah siap semuanya? Ayo, kita berangkat sekarang! Papa sudah menunggu di mobil."


Liontin dan Risa serta Makutha keluar dari kamar terlebih dahulu, disusul Reza yang keluar sambil membawa tas jinjing dan koper. Setelah sampai di dekat mobil, lelaki itu memasukkan koper milik Risa ke dalam bagasi.


"Hati-hati di jalan, ya, Ma ... Pa." Liontin menatap Tuan Li dan Risa bergantian.


"Maaf, kami tidak bisa ikut mengantar. Kasihan Makutha kecapekan kalau mesti ikut mengantar. Nanti kalau ada waktu luang, aku akan mengunjungi kalian ke Taipei." Reza tersenyum tipis ke arah kedua orang tuanya itu.


"Iya, kami berangkat dulu. Mama tunggu kabar baik hasil dari pertempuran kalian, ya?" kekeh Risa sambil melirik Liontin penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2