TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 21. Pengaruh Hormon


__ADS_3

Senyum Reza seketika lenyap saat melihat David berada di ruangan yang sama dengan Liontin. Namun, dia mencoba bersikap senatural mungkin. Lelaki itu terus melangkah ke arah Liontin, kemudian menyodorkan bungkusan plastik kepadanya.


"Ini buburnya."


"Terima kasih." Liontin tersenyum lembut dan menerima bungkusan tersebut.


"Ini, kalau nanti Nona Jia bangun, tolong suapi dia." Liontin memberikan bungkusan itu kepada David.


"Kamu mau pergi sekarang?" Tatapan David terlihat datar hampir tanpa ekspresi.


"Iya. Aku ingin pergi bersama Reza. Aku pamit."


Liontin beranjak pergi dan berjalan beriringan bersama Reza. Ketika selangkah lagi mereka keluar dari bangsal, David menghentikan keduanya.


"Tunggu."


Liontin dan Reza sontak menoleh dan menatap David. Lelaki itu tampak sedikit ragu ketika hendak berbicara, sampai akhirnya dia berdehem dua kali.

__ADS_1


"Jika nanti Jia mencarimu, apa boleh aku mengantarkan dia ke rumah Bibi Oey?" tanya David.


"Terserah," jawab Liontin singkat kemudian berlalu begitu saja.


Saat keluar dari Rumah Sakit, matahari terasa begitu terik. Liontin mendadak berhenti lalu menatap langit sambil memayungi mata dengan telapak tangan. Dia menghela napas panjang kemudian menoleh ke arah Reza.


"Kak, aku lapar dan ingin makan Soto Ayam!"


"Ha?" Reza terbelalak mendengar permintaa perempuan hamil di depannya itu.


"Mau ...," rengek Liontin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Akhirnya dia hanya berputar-putar di sekitar rumah sakit, dan turun ketika menemui kedai yang menjual makanan halal. Setelah satu jam lebih melakukan hal yang sama, lelaki itu menyerah. Dia masuk lagi ke mobil dan mencoba untuk membujuk Liontin agar mau makan makanan yang lain.


"Mmm ... bagaimana kalau kita makan sup ayam saja. Aku yang masak! Oke?" Reza tersenyum lebar berharap Liontin menyetujui idenya.


Liontin ikut tersenyum, tetapi sedetik kemudian senyumnya sirna, dan kini bibir perempuan itu melengkung ke bawah.

__ADS_1


"A-aku mau makan Soto Ayam." Isak tangis mulai lolos dari bibir perempuan itu, air matanya juga bercucuran membasahi pipi.


"Tapi, aku tidak tahu harus beli di mana." Reza mengacak rambut frustrasi.


"Di dekat Grand Mosque Taipei ada restoran yang menjual Soto Ayam!" seru Liontin kesal.


"Apa? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" Reza mengusap wajahnya kasar kemudian menautkan kedua alisnya.


Liontin yang melihat raut wajah marah Reza mulai menumpahkan air matanya lagi. Hormon estrogen dan progesteron berhasil mengacak-acak mood Liontin hari itu. Bukan hanya dia, tetapi juga Reza ikut terkena imbasnya.


"A-aku ka-kalau sedang lapar tidak bisa berpikir, Kak ...." Ucapan Liontin terbata-bata di sela isak tangisnya.


"Astaga, perempuan itu selalu benar, dan perempuan yang sedang hamil tidak pernah salah!" gumam Reza.


"Kak Reza, aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang kamu ucapkan. Tolong membatin saja jika tidak suka dengan sikapku!" Liontin mengerucutkan bibir setelah mendengar gumaman cinta pertamanya itu. Air matanya terus mengalir membasahi pipi.


Reza menepuk jidat karena kewalahan dengan sikap Liontin yang seperti anak kecil. Lelaki itu membujuknya hingga tenang dan mulai mengendarai mobil. Setelah sampai di restoran, Liontin memesan dua porsi Soto Ayam dan menghabiskannya dalam waktu singkat. Reza hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku perempuan itu.

__ADS_1


Sebuah senyum lembut terukir di bibir Reza. Ada kebahagiaan tersendiri bisa menuruti kemauan Liontin. Dia mendengar Liontin yang bicara tanpa henti dengan sabar.


Seandainya saat ini kamu adalah milikku. Kebahagiaanku pasti akan terasa lebih sempurna.


__ADS_2