TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 62. Padamnya Api Cemburu


__ADS_3

Reza terbelalak ketika melihat pemandangan indah di hadapannya. Api cemburu yang awalnya berkobar dalam dadanya, kini padam seketika. Liontin terlihat begitu seksi dalam balutan baju dinas berwarna merah menyala. Jiwa kelaki-lakiannya seketika bangkit.


"Ada apa, Sayang?"


Suara merdu Liontin membuat hati Reza seakan diguyur dengan air es. Lelaki itu berulang kali menelan ludah karena melihat penampilan istrinya yang sangat menggoda.


"Sayang, kamu kenapa? Sakit?" Liontin melambaikan tangannya di depan wajah Reza.


Sontak kesadaran Reza kembali. Lelaki itu tersenyum canggung sembari mengusap tengkuknya. Liontin tersenyum tipis, kemudian berjalan ke arah pintu kamar yang masih terbuka lebar.


"Pintunya kututup, ya? Sudah malam, kita tidur."


Reza masih mematung sambil terus mengamati gerak-gerik sang istri. Sampai akhirnya Liontin naik ke ranjang dan memasang pose menantang.


"Kaaak, yakin? Mau anggurin aku malam ini?" goda Liontin sambil mengerlingkan mata.


"Dasar, nakal! Sini, Kakak hukum!" Reza langsung bersemangat dan melompat ke atas ranjang.


Keduanya mulai memadu kasih dengan perasaan penuh cinta. Berbagi peluh dengan suara khas orang bercinta yang saling bersahutan. Mereka berharap segera mendapatkan keturunan dari kegiatan malam ini. Sejujurnya keduanya begitu segera menginginkan hadirnya seorang anak.


Liontin mulai merasa kesepian ketika Makutha sekolah. Di rumah tidak ada kegiatan berarti. Setiap hari ia hanya bergulat dengan pekerjaan rumah. Berulang kali Liontin ingin kembali berjualan online, tetapi Reza melarang.

__ADS_1


"Cari uang itu kewajiban suami. Kamu tinggal duduk manis, menerima apa yang seharusnya menjadi hakmu." Ucapan itu yang selalu menjadi jawaban setiap Liontin ingin kembali produktif.


Bagi Liontin, berjualan bukan hanya sekedar untuk mencari uang. Akan tetapi, merupakan salah satu bentuk perbuatan baik baginya. Kita menyediakan apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Keuntungan dalam bentuk uang adalah bonusnya.


Setelah mencapai puncaknya, tubuh Reza yang lemas berguling ke samping Liontin. Dia mendekap tubuh sang istri sembari mengecup puncak kepalanya.


"Terima kasih, Sayang."


Liontin mengangguk pelan sambil menikmati sisa pelepasannya.


"Bagaimana lenganmu? Masih sakit?"


"Masih sedikit perih, tapi aku masih bisa menahannya, kok."


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Reza ragu.


"Kenapa, Sayang? Sepertinya serius sekali?" Liontin menautkan alisnya sambil menatap intens sang suami.


"Aku dengar dari Pak Rudi, yang menolongmu seorang laki-laki muda. Benar begitu?"


"Iya, Sayang. Kenapa?"

__ADS_1


"Siapa dia? Apa dia lebih tampan dariku?"


Mendengar pertanyaan konyol sang suami sontak membuat Liontin tertawa lepas. "Astaga, Kak! Apa Kakak cemburu? David hanya kebetulan lewat dan ditakdirkan untuk menolongku dan Makutha!"


"Tunggu, David kamu bilang?" Reza memicingkan mata kemudian mengambil posisi duduk tegak.


"Iya, David yang menolongku. Aku awalnya tidak menyadari kalau dia David. Penampilannya benar-benar berubah!"


Percikan api cemburu mulai menggelitik hati Reza lagi. Dia benar-benar tidak suka ketika Liontin membicarakan David dengan nada dan tatapan bersemangat. Dia memasang raut wajah kesal sedari tadi, tetapi Liontin belum juga menyadarinya.


"Eh, kamu kenapa, Yang?" Liontin langsung mengerutkan dahi ketika menyadari bahwa sang suami sedang merajuk.


"Nggak apa-apa. Aku ngantuk!" Reza kembali bergelung di dalam selimut kemudian memunggungi Liontin.


Sedetik kemudian, Liontin baru sadar bahwa sang suami sedang cemburu. Perempuan itu tersenyum jahil kemudian memeluk tubuh Reza dari belakang.


"Maaf, kamu cemburu, ya?"


"Nggak!" ketus Reza.


"Yang bener? Lihat sini dulu, dong!" Liontin menarik lengan Reza, hingga mau tak mau lelaki itu kini menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Dengar, aku tidak pernah memiliki perasaan apapun pada David. Kamu tidak perlu cemburu berlebihan. Toh, kami juga tidak sengaja bertemu. Jangan merajuk lagi, oke?"


__ADS_2