TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 96. Keributan Hari Itu


__ADS_3

Enam bulan kemudian ....


Suasana kacau terjadi di kediaman Liontin. Ibu dua anak itu tengah diuji kesabarannya menghadapi Makutha yang enggan ikut ke pesta pernikahan papanya. Sedangkan Tiara terus menangis sebab tidak nyaman dengan pakaian yang ia pakai.


"Nggak mau, Bunda! Utha nggak mau!" teriak Makutha sambil menekuk mukanya.


"Ayolah, Sayang. Papa ingin kamu menjadi pengiring bersama Kak Jia." Liontin mencoba untuk membujuk sang Putra.


"Nggak mau, Bunda!" Makutha berlari masuk ke kamar lalu menutup pintu.


Liontin menyusul putra pertamanya itu sembari menggendong Tiara. Perempuan itu mulai kehilangan kesabarannya. Dia menggedor pintu kamar Makutha. Bujukan yang awalnya terdengar lembut, kini berujung dengan nada tinggi dan paksaan.


"Ribut kenapa, sih. Bun!" teriak Reza yang kembali lagi masuk ke rumah.


Pria itu pun kehilangan kesabarannya karena lelah menunggu sang istri dan anak-anaknya di dalam mobil. Mendengar teriakan Reza, membuat Liontin semakin emosi.


"Itu, Yah. Utha nggak mau ikut ke pesta pernikahan David dan Berlian!" seru Liontin.


"Kok kamu bentak aku?" Reza menautkan alisnya karena tidak suka dengan sikap kasar sang istri.


"Ayah duluan yang bentak!" Liontin tidak mau mengalah.


"Apa Bunda nggak bisa bujuk Makutha pelan-pelan?" Reza memicingkan mata sambil tersenyum miring.


"Aku sudah bujuk Utha baik-baik. Tapi, dia terus berontak, Yah! Belum lagi Tiara terus menangis! Ayah kenapa nggak bantu bujuk Utha saja! Aku capek!" Liontin meninggalkan Reza kemudian masuk ke kamarnya.


Reza mengusap wajahnya kasar karena ucapan Liontin. Lelaki itu menurunkan egonya kemudian mencoba untuk membujuk sang putra. Reza mengetuk pintu kamar Makutha perlahan.


"Utha, ini Ayah. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Reza di sela-sela ketukan pintunya.


Lima menit sudah lelaki itu menunggu Makutha membukakan pintu. Namun, tidak ada jawaban. Pintu kamar Makutha masih tertutup rapat. Reza mendengus kesal. Detik itu juga, dia baru menyadari kenapa Liontin sampai se-emosi itu.


"Utha, tolong buka pintunya. Kamu sudah membuat bunda sedih. Apa kamu mau kehilangan surgamu?"


Bujukannya kali ini berhasil. Pintu kamar Makutha mulai terbuka. Bocah laki-laki itu keluar sambil menunjukkan wajah masam. Reza tersenyum lebar karena berhasil membujuk putranya untuk keluar kamar.

__ADS_1


"Bolehkah ayah tahu, alasanmu kenapa menolak pergi ke pernikahan papa?"


"Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Aku tidak mau menjadi pendamping ketika papa dan Mama Lian berjalan menuju altar." Makutha menunduk, bahunya merosot, dan jemari bocah tampan itu meremas celana pendek yang ia pakai.


"Bagaimana kalau kita bicara baik-baik kepada Papa David? Mungkin papa bisa mengerti, kenapa kamu enggan menjadi pendamping pengantin?"


"Baiklah," ucap Makutha lesu.


"Makutha tunggu di bawah dulu. Siapkan keberanianmu untuk meminta maaf sama Bunda. Mengerti?"


Makutha mengangguk pelan, kemudian berjalan gontai menuruni anak tangga. Setelah memastikan Makutha sampai di ujung tangga, Reza menyusul sang istri.


Liontin sedang berbaring di atas ranjang memunggungi pintu masuk. Dia bahkan sudah berganti pakaian santai. Tiara terlelap dalam dekapan perempuan itu, dengan memakai kaos dalam dan diapers.


"Yang ...," panggil Reza lirih.


Liontin bergeming. Dia masih marah dengan kepada Reza. Perempuan itu tidak suka cara sang suami menegurnya karena keributan kecil yang terjadi barusan.


"Yang, aku minta maaf." Reza kini sudah duduk di ranjang, sambil membelai lembut rambut sang istri.


Tiga bulan lalu Rumah Sakit mengalami krisis karena sebuah kekeliruan yang dibuat Aziz. Hal itu tentu saja berdampak pada penghasilan yang Reza dapat. Lelaki itu mulai merintis lagi sebuah klinik hewan kecil di dekat rumah untuk usaha sampingan.


"Kamu beneran nggak mau maafin aku?"


Liontin kini membalik badannya kemudian menatap Reza. Perempuan itu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia mulai bangkit dari ranjang dan mengambil posisi duduk.


"Aku sedikit stres akhir-akhir ini, Yang. Maaf karena emosiku yang meledak-ledak." Liontin menunduk sambil memilin ujung daster yang dia pakai.


"Aku juga minta maaf, ya? Seharusnya aku bisa menegurmu baik-baik tadi. Pasti lelah sekali, ya, mengurus semuanya sendirian?" Reza tersenyum lembut kemudian memeluk tubuh sang istri.


"Mau kucarikan ART? Biar beban pekerjaanmu sedikit berkurang?"


Mendengar penawaran Reza sontak membuat Liontin menggelengkan kepala. Dia tidak pernah mau menyerahkan tugas rumah kepada ART. Selama dia mampu, perempuan itu akan menyelesaikan semuanya sendiri.


"Kak Reza pasti sudah tahu jawabanku."

__ADS_1


"Kalau begitu, lain kali jika lelah dan butuh bantuan, bilang saja. Aku pasti membantumu. Jangan memendam semuanya sendirian." Reza melepaskan pelukan lalu memencet gemas hidung sang istri.


"Ayo, ganti lagi pakaianmu. Mama dan papa pasti sudah menunggu kita."


...****************...


Di sebuah venue, tempat resepsi digelar para tamu menikmati hidangan yang tersaji, ditemani alunan musik romantis. Liontin dan Reza duduk berdua di sudut ruangan, menghindar dari hiruk pikuk tamu undangan.


Tiara sedang menjadi primadona di pesta itu. Bayi cantik itu menjadi rebutan sang nenek dan juga Cincin. Belum lagi beberapa tamu undangan yang gemas ingin menggendongnya. Makutha sendiri sedang sibuk berlarian ke sana ke mari bersama Jia dan Nana.


"Yang, bagaimana kalau kita ikut David dan Lian bulan madu?" bisik Reza pada telinga sang istri.


"Nggak, ah. Buat apa ngintilin mereka? Lagi pula kasihan Tiara. Aku belum tega ninggalin dia lama-lama." Liontin menatap jauh ke arah Tiara yang kini berada dalam dekapan sang ibu mertua.


"Tiap aku ke kamar mandi saja, Tiara selalu kubawa masuk. Bagaimana bisa aku meninggalkannya selama berhari-hari?"


"Tapi aku juga pengen mengulang masa-masa pengantin baru, loh." Reza tersenyum lebar sambil mengerlingkan matanya untuk menggoda sang istri.


"Bagaimana kalau nanti malam saja, kita main pengantin-pengantinan? Biar berasa jadi pengantin baru lagi?" Liontin balik berbisik sambil tersenyum miring.


"Sudah pandai menggoda rupanya."


Ketika keduanya sedang asyik mengobrol, tiba-tiba datang seorang perempuan muda dengan pakaian kurang bahan. Dia menghampiri Reza, lalu bergelayut manja padanya.


"Honey, apa kabar?"


"Siapa kamu!" Reza menepis kasar lengan perempuan itu.


"Ih, kamu .... Galak sekali! Aku sudah mencarimu sekian lama. Setelah cinta satu malam waktu itu aku tergila-gila padamu!"Jemari nakal perempuan itu mulai menari-nari di atas dada bidang Reza.


"Dia siapa, Kak?" Alis Liontin saling bertautan melihat orang asing yang terlihat sok akrab dan genit pada sang suami.


Reza menelan ludah kasar. Pandangannya kini berubah tidak fokus. Otaknya berusaha mengingat-ingat di mana ia bertemu dengan perempuan tersebut.


"Bali, dua bulan lalu," bisik perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2