TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 48. Saingan Terberat


__ADS_3

"Tapi bukankah selama ini kamu juga sudah menikmati apa yang sudah menjadi hakmu?" Liontin memincingkan mata untuk membalik keadaan.


"Ah, itu ...." David tergagap dan jakunnya naik turun berusaha menelan ludah.


"Pergilah! Aku paling benci dengan orang yang sengaja mengadu domba." Liontin beranjak dari tempatnya duduk, kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Kepala Liontin bergerak, mengisyaratkan David untuk keluar dari kamar kosnya. David berdiri kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu. Liontin memandang punggung mantan majikannya itu hingga menghilang dari pandangan.


"Memangnya aku tidak tahu maksudnya mengatakan semua itu?" gerutu Liontin sambil menutup pintu dan melangkah menghampiri Cincin.


"Jadi, bagaimana keputusanmu sekarang?"


"Aku ingin mengkonfirmasi ulang pernyataan David barusan. Jika memang memungkinkan aku akan memberi Reza kesempatan kedua."


"Kamu yakin? Apa kamu tidak merasa dimanfaatkan?"


"Entahlah ... tapi sejujurnya hatiku masih tertaut pada Kak Reza, Mbak." Bahu Liontin merosot.


Cincin menghela napas panjang, kemudian merangkum wajah cantik Liontin. "Kalau masalah hati pasti sangat sulit. Mbak hanya berharap semoga kamu segera mendapatkan kebagaiaanmu."


Liontin tersenyum lebar. Rasa haru menyeruak dalam dada perempuan itu. Dia memeluk sang kakak sambil mengucap terima kasih berulang kali.

__ADS_1


...****************...


Suasana kafe siang itu begitu ramai karena memasuki jam makan siang. Liontin dan Cincin beserta anak-anak mereka sedang asyik menikmati aneka dessert dan juga minuman. Tak lama kemudian, Reza berjalan menghampiri mereka.


"Maaf menunggu lama."


"Belum lama, kok."


"Halo Makutha, apa kabar?" Reza tersenyum lebar sambil mencubit pipi bulat Makutha.


"Jangan sentuh putraku!" ketus Liontin.


Senyum Reza mendadak lenyap. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara layaknya buronan yang tertangkap polisi.


"Za, Mbak nggak suka basa-basi. Jadi, tolong jawab semua pertanyaan kami dengan jujur."


Reza menyetujui permintaan Cincin dengan menganggukkan kepala. Cincin duduk tegak dan mulai mengajukan pertanyaan terkait masa lalu keluarga Li.


"Apa kamu dan David benar-benar saudara satu ayah?"


"Ya? Kenapa?" Reza berusaha menyembunyikan raut keterkejutannya. Namun, gagal karena Liontin bisa dengan teliti menangkap perubahan mimik wajah lelaki itu.

__ADS_1


"Apa kamu ingin mengambil kembali hak yang seharusnya menjadi milikmu?"


"Maksudnya?" Reza menautkan kedua alisnya berusaha memahami apa yang dimaksud Cincin.


"Kamu berencana merebut harta Keluarga Li dengan memanfaatkan Makutha. Benar begitu?" cecar Cincin.


"Untuk itu Tante Risa setuju kamu menikahiku dengan keadaan yang bisa dibilang tidak menguntungkan di mata lelaki normal lainnya." Liontin tertunduk lesu dengan jemari yang saling meremas satu sama lain.


"Apa menurutmu aku ini bukan lelaki normal?" Reza tersenyum miring.


"Bu-bukan begitu, maksudku ...."


Reza menatap dalam ke mata Liontin. Tatapan lembut lelaki itu membuat hati Liontin merasa tenang. Tatapan yang selalu ia rindukan akhir-akhir ini, kini kembali.


"Liontin, kamu meragukan cinta dan ketulusanku? Jika iya, aku akan berjuang lebih keras lagi untuk meyakinkan mama kembali." Lelaki itu meraih jari-jari lentik Liontin, kemudian menggenggamnya lembut.


"Kak, aku ...."


Makutha menangis sehingga percakapan keduanya terpaksa berhenti. Bayi itu melihat ke arah jemari Reza dan Liontin yang saling bertautan. Liontin akhirnya terpaksa melepas paksa jari-jari lelaki di hadapannya.


"Sepertinya pangeran kita cemburu?" Liontin tersenyum geli sambil sesekali melirik Reza.

__ADS_1


Reza mengusap asal bagian belakang kepalanya sambil tersenyum kecut dan berpikir, mungkin seperti inilah jika nanti menikah dengan Liontin. Dia memiliki saingan terberat, yaitu putra dari calon istrinya sendiri.


__ADS_2