TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 5 : Dulu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, ingatan Makutha dipenuhi kejadian beberapa tahun lalu. Tepatnya ketika ia duduk di bangku SMP. Masih jelas terekam dalam ingatannya, bagaimana sang ayah marah besar ketika Makutha tidak sengaja membuat Tiara terjatuh dari pohon.


Air mata mulai menggenang di pelupuk mata lelaki tampan itu. Pandangannya sedikit kabur karenanya. Tanpa Makutha sadari, sebuah mobil mengerem secara mendadak sehingga membuatnya ikut menarik remnya. Kecelakaan tidak dapat dihindarkan. Makutha tersungkur di atas aspal, dan mulai kehilangan kesadarannya.


...****************...


Tiga tahun lalu ....


"Mas Utha! Tunggu Tiara, dong!" Napas Tiara terengah-engah karena mengejar sang kakak yang terus berlari karena mengejar layangannya.


"Dek, kamu di situ aja! Nggak usah ikutan Mas! Nanti begitu layangannya keambil, Mas ajak Tiara main lagi!" Makutha terus berlari sambil mendongak, memerhatikan ke mana arah layangannya terbang.


Makutha menghentikan langkah saat layangannya menyangkut pada dahan pohon. Dia naik ke atas pohon tersebut dengan bantuan tangga yang tergeletak di atas tanah. Dia menyandarkan tangga tersebut pada batang pohon, dan mulai memanjat perlahan untuk mencapai dahan tempat layangannya tersangkut.


"Tiara, jangan mendekat! Tetap di sana! Bahaya!" teriak Makutha ketika melihat Tiara mendekati anak tangga.


Tiara bersungut-sungut karena larangan Makutha. Namun, diam-diam ia ikut memanjat ke atas pohon ketika sang kakak lengah. Naasnya, gadis kecil itu tergelincir hingga tubuh mungilnya menghantam tanah bebatuan dengan sangat keras. Darah mulai mengalir membasahi terusan yang dipakai Tiara.


"Tiara!" teriak Makutha saat mendengar suara benda jatuh yang ternyata adalah Tiara.


Makutha segera turun dari pohon. Dia sudah tidak lagi memedulikan layangannya yang kini kembali terbang tertiup angin. Bocah berumur 14 tahun itu langsung menggendong tubuh sang adik dan berlari secepat yang ia bisa menuju rumah.


Kaki Makutha terasa lemas ketika berlari karena darah terus menetes melewati pelipisnya. Akan tetapi, dia terus menguatkan diri agar tetap bisa berlari menuju rumah.


Sesampainya di rumah, Makutha langsung menggedor pintu. Liontin keluar membuka pintu, dan seketika terbelalak. Bagaimana tidak, peremouan itu menatap dua anak kesayangannya pulang dengan berlumuran darah.


"Astaga! Kenapa bisa jadi seperti ini?" Liontin menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Ta-tadi, Tiara ngikutin aku naik ke atas pohon, Bunda. Terus ...." Ucapan Makutha terbata-bata di antara isak tangisnya.


"Nggak apa-apa, yang penting sekarang kita bawa Tiara ke Rumah Sakit!"


Liontin mengeluarkan mobil dari garasi lalu meminta Makutha untuk naik sambil menggendong sang adik. Lelaki itu menggunakan pahanya sebagai bantalan kepala Tiara. Mata Tiara masih terpejam rapat. Liontin mengendarai mobil secepat yang ia bisa.

__ADS_1


"Bunda, awas!" teriak Makutha ketika melihat seorang lelaki tua yang menyeberang jalan sembari mendorong gerobak berisi buah-buahan.


Sontak Liontin menginjak pedal rem. Badan mereka terbanting ke depan. Jika tidak memakai sabuk pengaman, bisa dipastikan mereka akan mengalami cidera.


"Ma-maafin Bunda." Liontin menelan ludah kasar. Jemarinya mulai bergetar karena rasa gugup yang masih mendera.


"Hati-hati, Bund." Jantung Makutha seakan berhenti berdetak karena sang ibu yang hampir saja menabrak seseorang.


Liontin kembali menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya, dan membelah jalanan untuk menuju rumah sakit. Tak lama kemudian, Liontin sampai di rumah sakit. Perempuan itu berlari ke dalam gedung tersebut dan meminta babtuan perawat yang ada di IGD.


Dua orang perawat mendorong brankar, lalu memindahkan tubuh Tiara yang lemas ke atasnya. Liontin dan Makutha ikut berlari di belakang para perawat menuju ruang IGD. Sesampainya di ruangan tersebut, Tiara langsung ditangani oleh tim medis.


Liontin dan Makutha menunggu Tiara di depan ruang IGD. Jantung keduanya berdegub begitu kencang. Keduanya terus berdoa dalam hati agar gadis kecil itu bisa selamat. Sambil menunggu putrinya ditangani dokter, Liontin memberi kabar kepada Reza melalui sambungan telepon.


"Yah, Tiara ...."


"Ada apa dengan Tiara?" tanya Reza panik.


"Tiara sekarang ada di rumah sakit. Kepalanya sepertinya bocor karena jatuh dari pohon."


Reza mematikan sambungan telepon kemudian segera melajukan mobilnya. Di perjalanan, David menelepon. Dia memasang earphone dan mulai berbicara kepada adiknya itu.


"Aku sudah sampai di bandara. Kamu di mana?"


"Sorry, Dave. Kamu naik taksi saja. Aku sedang menuju ke rumah sakit."


"Ha! Siapa yang sakit?"


"Tiara jatuh dari pohon!"


"Baiklah, hati-hati di jalan. Aku akan menyusul ke sana."


Reza kembali mematikan sambungan telepon. Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai ke Rumah Sakit. Sesampainya di tempat pelayanan kesehatan itu, Reza langsung menemui Liontin dan Makutha yang masih menunggu di depan ruang IGD.

__ADS_1


"Bagaimana bisa jatuh?" tanya Reza panik.


"Tadi dia bermain bersama Makutha, lalu dia terpeleset tangga dan terjatuh," jelas Liontin dengan suara bergetar.


Makutha hanya tertunduk lesu. Rasa bersalah kini bergelayut di hati remaja laki-laki itu. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa Tiara.


Reza mencengkeram kaos Makutha yang berlumuran darah. Matanya melotot menatap anak lelakinya itu. Urat leher Reza menegang. Napas pria tersebut sukses menyapu wajah Makutha.


"Kamu apakan adikmu!" teriak Reza.


"A-aku tidak sengaja, Yah. Tadi ...."


Belum sempat Makutha menjelaskan kronologi, Reza sudah menghempas kasar tubuh Makutha hingga tersungkur di atas lantai dingin rumah sakit. Kini bukan hanya tubuh Makutha saja yang sakit, hatinya ikut terasa nyeri karena perlakuan kasar sang ayah.


"Yah, jangan begitu! Kasian Makutha. Dia tidak sengaja. Bahkan bisa dibilang dia tidak bersalah!" Liontin menghampiri Makutha yang kini terduduk lesu.


"Tidak bersalah? Dia tidak bisa menjaga Tiara dengan baik! Kakak macam apa dia! Apa karena dia bukan adik kandungmu, hingga kamu sembarangan saat mengajaknya bermain!" teriak Reza sambil menunjuk wajah Makutha.


Makutha yang mendengar ucapan sang ayah merasa emosinya naik ke ubun-ubun. Sontak lelaki itu berdiri dan menatap tajam ke arah Reza. Jemarinya menggenggam kuat dan bahunya bergetar hebat. Mata Makutha mulai memerah dan berkaca-kaca.


"Apa karena aku bukan anak Ayah, sehingga diperlakukan sekeras ini?" Bibir Makutha berkedut ketika mengucapkan kalimat itu.


"Asal Ayah tahu, aku sangat menyayangi Tiara. Maka dari itu, saat remaja seusiaku sibuk dengan dunianya sendiri ... aku rela menghabiskan waktu untuk menemani Tiara bermain!"


Reza tertegun mendengar ucapan putranya. Dia seakan tertampar dengan kalimat itu. Detik itu juga dia merasa gagal menjadi seorang ayah. Dia bahkan tidak memahami pengorbanan yang Makutha lakukan selama ini. Namun, egonya terlalu besar untuk meminta maaf.


"Aku butuh waktu sendiri!" Makutha berlari keluar rumah sakit dan hari itu tidak pulang ke rumah. Dia menginap di tempat Cio selama 3 hari.


...****************...


Akkk...


Maafkan diriku karena kemarin tidak update. Mabok daging kurban bestie .... Awokawokawok.

__ADS_1


BTW sambil nunggu TKI update, mampir yukk ke karya author kece satu ini.



__ADS_2