
Di toko buku sebuah pusat perbelanjaan, mata Tiara terlihat begitu berbinar. Gadis kecil itu memang begitu haus akan ilmu pengetahuan. Di saat gadis seumurannya sibuk bermain game atau sosial media, Tiara lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk membaca buku.
"Wah, banyak banget bukunya!" seru Tiara.
"Ara beli saja mau yang mana." Liontin tersenyum lembut sembari melihat beberapa novel bergenre horor.
Tiara memilah-milah buku yang tertata rapi di rak. Awalnya dia hanya ingin membeli buku untuk latihan ujian kelulusan. Namun, ketika melihat berbagai macam buku ensiklopedia dia juga mengambil beberapa di antaranya kemudian mendekap buku-buku tersebut. Kegiatan gadis kecil itu berhenti saat melihat Hasna sedang fokus memerhatikan buku-buku mengenai desain pakaian.
"Kak Hasna mau beli buku juga?" tanya Tiara dengan wajah polosnya.
Hasna menggeleng kemudian mengembalikan beberapa buku yang ia pegang ke dalam rak. Tiara tersenyum simpul kemudian mengambil kembali buku yang tadi dibaca oleh Hasna.
"Kak Hasna suka buku ini?" Tiara menunjukkan sebuah buku dengan sampul bergambar gaun-gaun yang indah.
Hasna mengangguk. Tak lama kemudian gadis kecil itu melangkah mendekati sang ibu, kemudian berbisik kepada Liontin. Sebuah senyum penuh arti terukir di bibirnya. Kemudian perempuan itu berjalan ke arah Hasna, dan meminta gadis tersebut menemani Tiara membeli makanan kesukaannya.
Hasna dan Tiara keluar dari toko buku, menuju sebuah stand yang menjual serabi. Gadis kecil itu memang sangat suka dengan makanan yang terbuat dari tepung beras itu. Aroma daun pandan menyeruak ke rongga hidung Tiara hingga dia menelan ludah berkali-kali.
"Mbak, serabinya selusin, ya?"
Hasna terbelalak ketika mendengar Tiara memesan begitu banyak serabi. Hasna hanya diam, enggan berkomentar. Dia tak menyangka kalau Tiara begitu suka dengan kue tradisional tersebut.
"Mbak Hasna, duduk sini dulu." Tiara menepuk kursi plastik di sampingnya, dan Hasna pun duduk di atasnya.
"Kamu doyan serabi?" tanya Hasna dengan menggerakkan jari-jarinya.
Tiara mengamati setiap gerakan dari gadis berkebutuhan khusus tersebut dengan seksama. Hebatnya Tiara bisa mengerti apa yang diucapkan Hasna. Gadis kecil itu mengangguk mantab sambil tersenyum lebar.
"Ayah setiap pulang dari kerja selalu membawa Serabi buat Ara. Enak, Mbak. Manis, gurih, creamy, meleleh di mulut, tapi bagian pinggirnya renyah!" Tiara mendeskripsikan si serabi sambil menelan ludah berkali-kali.
Tak lama kemudian pesanan Tiara sudah selesai. Setelah membayar, keduanya berjalan pelan menuju toko buku. Di saat yang bersamaan Liontin keluar dengan dua kantong plastik besar.
"Sudah?" tanya Liontin.
"Sudah, Bunda!"
"Ayo, kita pulang!"
__ADS_1
Mereka akhirnya turun ke basement bersama. Ketika sedang menunggu Liontin mencari kunci mobil, tiba-tiba tubuh Hasna terserempet mobil yang melaju lumayan kencang. Gadis cantik itu langsung tersungkur ke atas lantai.
"Hasna!" teriak Liontin kemudian membantu Hasna berdiri.
Namun, rasa nyeri luar biasa kini dirasakan Hasna. Pergelangan kaki gadis itu terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Dia meringis menahan sakit.
"Sebentar sini, berdiri dulu bisa nggak?" Liontin membuka pintu mobil lalu meraih lengan Hasna.
"Ayo, coba berdiri."
Hasna mencoba untuk berdiri, tetapi tidak bisa. Pergelangan kakinya terasa ngilu bukan main. Mata gadis itu mulai basah karena air mata.
"Ara, bisa bantu Bunda?"
Akhirnya Tiara dan Liontin memapah Hasna masuk ke mobil. Setelah itu Liontin langsung melajukan mobil menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Hasna langsung ditangani oleh tim medis.
Beberapa saat kemudian Hasna sudah diijinkan pulang. Liontin menemui dokter yang bertanggungjawab menangani Hasna. Liontin masuk ke ruang pemeriksaan dan menemui sang dokter.
"Gimana, Dok? Apa ada hal buruk yang terjadi pada kaki Hasna?" tanya Liontin panik.
"Bu Liontin yang tenang, ya? Hasna hanya keseleo. Kami sudah melakukan pemeriksaan sinar X, dan tidak ada retak pada tulangnya."
"Tapi memang membutuhkan waktu beberapa hari agar bisa kembali berjalan. Sementara waktu kami sarankan menggunakan kruk (alat bantu jalan), dan membatasi aktifitas agar cepat pulih."
"Baik, Dok."
Setelah berpamitan dengan dokter tersebut, Liontin mengantar Hasna pulang. Sepanjang perjalanan, ketiganya diam sehingga hanya terdengar suara deru mobil yang mengisi kesunyian di antara mereja. Rasa bersalah memenuhi hati Tiara.
"Kak Hasna."
Hasna menoleh ke arah Tiara. Gadis itu tersenyum lembut, lalu mengusap puncak kepala Tiara. Gurat penyesalan terlihat jelas pada gadis kecil berumur 12 tahun itu.
"Maaf, ya? Seandainya tadi Ara tidak merengek pada Bunda dan Kakak, pasti ini semua tidak akan terjadi." Tiara tertunduk dalam. Jemari kecilnya saling bertautan.
Hasna merangkum wajah Tiara kemudian tersenyum lebar. Gadis itu mulai menggerakkan jemarinya seperti biasa. Dia mencoba menghibur Tiara serta menghapus rasa bersalahnya.
"Nggak apa, Ara. Kakak baik-baik saja. Sudah menjadi garis takdir untuk Kakak. Musibah ini mungkin bisa menjadi penggugur dosa buat Kakak."
__ADS_1
Tiara tersenyum lebar kemudian memeluk tubuh Hasna. Dia menghirup dalam aroma tubuh gadis berhijab itu. Dia merasa tenang ketika berada di dalam pelukan Hasna.
Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di halaman rumah Hasna. Liontin membantu Hasna turun dari mobil. Gadis itu menggunakan kruk yang tadi dibelikan oleh Liontin.
Sesampainya di depan pintu, Hasna mengetuk benda tersebut dan mengucapkan salam. Tak lama kemudian, Wahyu keluar dari rumah. Perempuan itu terbelalak melihat keadaan Hasna.
"Kamu dari mana saja! Jam segini baru pulang!" seru Wahyu.
"Tadi aku nemenin Ara beli buku, Bulik (ibu cilik/adik dari orang tua). Maaf, nggak ngabari Bulik terlebih dulu." Jari-jari Hasna menari-nari di udara, bibirnya mengeluarkan suara yang tidak jelas dan sulit dimengerti.
"Kakimu kenapa! Bandel banget sih jadi perempuan!" Wahyu menarik kasar lengan keponakannya itu.
Hasna meringis kesakitan karena menahan kakinya yang masih nyeri. Liontin menatap tajam ke arah Wahyu sambil melipat lengannya. Sedangkan Tiara berdiri ketakutan di balik tubuh sang ibu.
"Dia itu lagi cidera, Mbak. Bisa nggak lebih halus sedikit! Toh, itu juga terjadi karena ketidaksengajaan?"
"Nggak sengaja? Gampang, ya, kamu ngomongnya! Kalo terjadi apa-apa memangnya siapa yang repot? Kamu?" Wahyu menunjuk wajah Liontin dengan telunjuknya.
"Bulik, aku cuma keseleo, kok. Nggak apa-apa. Bulik tenang, ya?" Hasna kembali menggerakkan lengannya. Wajahnya terlihat panik, dan rasa tidak nyaman memenuhi dadanya.
"Tenang? Tenang kamu bilang? Kalau sudah begini, emangnya kamu bisa apa-apa sendiri? Yang ada semakin bikin Bulik repot!"
Hasna tertunduk lesu. Mata gadis itu mulai terasa panas, dan pandangannya kabur karena air mata. Sesaat kemudian Tiara mendekati Hasna dan menggenggam jemarinya.
"Tante, maafin Ara, ya. Ara yang salah. Kalau tadi Ara nggak minta ditemenin beli buku, pasti Kak Hasna nggak begini." Tiara berkaca-kaca menatap Wahyu.
Wahyu seakan dilempar ke masa lalu ketika melihat gadis kecil itu. Seketika dia teringat almarhum putranya. Tak terasa air mata Wahyu menetes membasahi pipi. Perempuan itu mengusap kasar pipinya kemudian menghela napas.
"Aku nggak mau tahu, kamu harus datang ke rumah setiap hari buat antar jemput Hasna sampai dia bisa berjalan seperti semula! Aku nggak mau dia bolos sekolah!"
...****************...
Holaaa ....
Mampir juga ke karya salah satu bestie Chika yukkk🤗🤗🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa sebagai dukungan buat Author❤❤❤
__ADS_1