
Makutha memegangi kepalanya yang berdenyut. Lelaki itu sudah kehabisan akal bagaimana menjelaskan kepada Hasna mengenai Hukum Kirchhoff. Makutha mengambil napas panjang lalu mengembuskannya kasar.
Lelaki itu melirik jam yang menempel pada dinding ruang keluarga. Waktu menunjukkan pukul 21:00. Sudah hampir satu jam dia membahas pelajaran yang menurutnya sangat mudah itu. Makutha mengusap wajah kasar.
"Na, inget tadi bunyi Hukum Kirchhoff 1 itu apa?"
"Ingetlah!"
"Coba sebutkan lagi!" perintah Makutha.
Hasna berdeham dua kali kemudian mulai mengucapkan bunyi dari hukum yang dimaksud Makutha. "Jumlah arus listrik yang masuk melalui titik percabangan dalam suatu rangkaian listrik, sama dengan jumlah arus yang keluar melalui titik percabangan tersebut.”
"Ya! Itu hafal! Harusnya ngerti dong? Ngerti 'kan kalau diaplikasikan pada soal?"
Hasna memasang wajah polos. Gadis itu memang paling lemah dengan pelajaran Fisika dan Biologi. Dia hanya bisa menguasai pelajaran Kimia dari tiga mata pelajaran wajib jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.
"Oke, aku jelasin sekali lagi! Jadi, jumlah arus yang mengalir melalui titik percabangan, jumlahnya sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik percabangan." Makutha menunjukkan sebuah garis dengan dua cabang dan masing-masih garis diberi simbol hurus I agar mudah diingat.
Hasna mengangguk-angguk pelan sembari menatap buku yang ada di atas meja. Setelah itu Makutha kembali bertanya kepada Hasna, apakah dia sudah paham atau belum. Hasna tersenyum lebar kemudian menggeleng. Makutha menepuk dahinya kemudian mengusap wajah secara kasar.
"Yaaa, maaf. Kalau Kimia, boleh lah diadu. Tapi kalau Fisika ...." Hasna menggaruk kepalanya yang tertutup jilbab sambil nyengir kuda.
"Ish, bodoh ya tetap saja bodoh!" seru Makutha sambil tersenyum miring.
"Enak saja! Aku nggak bodoh! Cuma belum paham saja!" teriak Hasna, kini gadis itu berdiri dari lantai.
"Hilih, alasan! Kalau pinter itu kayak aku! Menguasai semua pelajaran dengan baik!" Makutha melipat lengan sambil mendongakkan wajahnya sombong.
"Nggak! Percuma pandai, kalau suka meremehkan orang lain!" Hasna tersenyum mengejek sambil berkacak pinggang.
Makutha beranjak dari duduknya kemudian berdiri. Lelaki itu melayangkan tangan ke udara. Niat awalnya ingin membungkam mulut Hasna yang kelewat cerewet. Akan tetapi, dia berakhir dengan hanya menyugar rambutnya. Hasna tersenyum miring dan menatap tajam lelaki itu.
"Ayo, kalau berani pukul sini!" tantang Hasna.
__ADS_1
Gadis itu terus melangkah maju. Setiap Hasna melangkah maju, Makutha mundur. Sampai akhirnya punggung Makutha menempel pada dinding.
"Ayo, pukul!" Hasna mendekatkan wajahnya sembari menyeringai.
"Pergi, sebelum terlambat! Lagi pula aku tidak ada niat buat mukul kamu tadi." Makutha merapatkan gigi kemudian menatap tajam perempuan itu.
"Bohong! Aku penasaran, apa kamu bisa bersikap kasar kepadaku?" Hasna menyeringai dan semakin mendekatkan wajahnya kepada Makutha.
"Sudah terlambat untuk mundur sekarang, aku sudah memperingatkanmu, Na." Makutha menatap intens manik mata Hasna kemudian meraih pinggang perempuan itu.
Makutha menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Sedetik, dua detik, Hasna hanya terdiam. Bahkan dengan tidak tahu diri, perempuan itu memejamkan mata. Ketika Makutha hendak masuk lebih dalam pada mulut Hasna, barulah dia terbelalak, dan mendorong tubuh lelaki di hadapannya itu.
"Utha!" teriak Liontin yang kini sedang menatap mereka dari tangga di lantai dua.
Dua anak manusia itu kini menoleh ke arah sumber suara. Makutha mengusap wajah kasar, sedangkan Hasna tertunduk lesu. Gadis itu meremas rok yang ia pakai. Dia merutuki kebodohan yang baru saja ia perbuat.
Liontin menuruni satu persatu anak tangga, kemudian meminta dua remaja itu kembali ke tempat mereka belajar bersama. Makutha dan Hasna duduk bersisihan di sofa ruang tengah. Tak lama kemudian Reza ikut menemui mereka.
Hasna dan Makutha saling sikut ketika dua orang dewasa di hadapan mereka menatap tajam keduanya. Liontin mengembuskan napas kasar. Reza menegakkan tubuh kemudian melemparkan tatapan tajam kepada sepasang anak muda tersebut.
"Aku hanya ...." Ucapan Makutha menggantung di udara karena Liontin memotongnya.
"Tha, kamu tahu 'kan kalau Hasna itu kekasih Cio? Apa menurutmu pantas melakukan hal itu pada Hasna?"
"Nggak, Ma. Itu tadi hanya ...." Ucapan Makutha kembali berhenti. Kali ini Hasna yang memotongnya.
"Kecelakaan, Bunda. Maaf, tadi semua terjadi karena Hasna yang membuat Utha marah." Hasna tertunduk lesu dengan jemari yang saling meremas satu sama lain.
"Kecelakaan?" Liontin menautkan kedua alisnya sambil memiringkan kepala.
"I-iya. Tadi Hasna membuat Makutha kesal karena tidak bisa menangkap apa yang sudah dijelaskan sama dia."
"Kalian sedang belajar apa, memangnya?"
__ADS_1
"Fisika," jawab Hasna dan Makutha bersamaan.
"Besok Ayah akan membayar guru privat untuk Hasna. Jadi, Makutha tidak perlu repot mengajari Hasna. Kalian bisa fokus dengan pelajaran masing-masing." Reza menatap Hasna dan Makutha bergantian.
"Iya, Ayah. Terima kasih," ucap Hasna.
"Sudah malam, sebaiknya kalian cepat tidur." Liontin tersenyum lembut.
Perempuan itu sebenarnya ingin sekali marah dan memaki putranya. Namun, dia tidak tega. Pasti Makutha juga sudah melakukan yang terbaik untuk mengajari Hasna.
Hasna dan Makutha berjalan gontai menaiki anak tangga. Tatapan permusuhan dilemparkan oleh Hasna kepada Makutha. Bibir Makutha komat-kamit seakan mengucapkan umpatan kepada gadis di hadapannya itu. Keduanya masuk ke kamar masing-masing dan membanting pintu secara kasar.
Liontin hanya menggeleng, melihat tingkah kekanakan keduanya malam ini. Setelah memastikan Makutha dan Hasna masuk ke kamar mereka masing-masing, Liontin mendekati Reza dan menatap sedih lelaki itu.
"Yang, apa yang aku takutkan terjadi. Lambat laun pasti akan tercipta rasa itu karena sudah terbiasa bersama. Aku khawatir persahabatan Cio dan Utha rusak hanya karena cinta monyet." Liontin menyandarkan kepalanya pada dada sang suami.
"Biarlah, Yang. Selama mereka masih bersaing dengan cara yang wajar, biarkan saja. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengawasi, dan memperingatkan jika sudah keluar batas." Reza mengusap puncak kepala Liontin.
"Mengenai guru privat Hasna, bagaimana, Yang?"
"Gampang. Ingat Aziz? Dia memiliki adik yang baru saja lulus kuliah Pendidikan Fisika. Kita bisa memintanya untuk mengajar Hasna sementara waktu."
"Boleh juga." Liontin tersenyum sekilas. Perempuan itu menerawang jauh, teringat kejadian beberapa bulan lalu saat pemakaman Wahyu.
"Yang, kalau ingat masa lalu ayah Hasna ... kasihan, ya? Andre dulunya juga pekerja keras. Tapi dibutakan oleh harta. Feli juga sudah kena karma. Tapi yang bikin nyesek itu, justru Alessa yang harus jadi korbannya."
"Tuhan adil, sih, menurutku. Feli pantas mendapatkannya. Secara tidak langsung, dia sudah membuat seorang anak sholiha seperti Hasna menjadi yatim piatu." Reza meraih lengan sang istri kemudian menatapnya dalam-dalam.
"Sudah, Yang. Jangan bahas itu lagi. Kita fokus saja sama anak-anak sekarang. Siapa sangka kita juga digariskan untuk bertemu dan mengasuh anak orang yang pernah berkhianat kepada kita." Reza menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar.
"Iya, Yang. Semoga kita bisa melaksanakan amanah dari Mbak Wahyu sebaik mungkin. Aku sudah nganggep Hasna seperti anak sendiri. Jika saja hati Hasna milik Makutha, pasti aku akan semakin bahagia. Tapi, sayangnya tidak seperti itu kenyataannya."
"Kita doakan yang terbaik saja untuk mereka. Kalau jodoh, nggak akan ke mana."
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sepasang telinga telah mencuri dengar obrolan keduanya. "Penghianat?"