TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 35: Jebakan untuk Makutha


__ADS_3

Bel tanda pelajaran usai pun berbunyi. Makutha meraih ranselnya lalu beranjak dari kursi. Ketika hendak melangkah keluar kelas, Hasna memanggilnya.


"Utha!" teriak Hasna.


Makutha menghentikan langkah, kemudian menoleh ke arah Hasna. Gadis itu setengah berlari menghampiri Makutha. Dia sedikit tersipu sembari tersenyum tipis.


"Hih? Kenapa, kok senyam-senyum begitu?" tanya Makutha sambil mengerutkan dahi.


"Itu ... bisa minta tolong bilang ke bunda, kalau aku pulang terlambat?"


"Mau ke mana? Awas kalau macem-macem di luar!" ancam Makutha sembari menunjuk wajah Hasna.


"Nggak lah! Aku mau ketemu sama Cio." Hasna kembali tersipu.


"Aku ikut!"


"Nggak boleh! Enak saja!" seru Hasna sambil mengerucutkan bibir.


"Kalau ada apa-apa sama kamu, aku yang kena omelan bunda! Pokoknya aku ikut!" Cio melipat lengan di depan dada sembari memiringkan kepala.


"Nggak boleh! Emangnya aku anak kecil yang harus terus diawasi? Tha, aku bisa jaga diri! Aku tahu batasan juga! Kamu nggak perlu ikut campur!" Hasna melipat lengan sambil menatap sinis kepada lelaki di hadapannya itu.


"Pokoknya ...." Ucapan Makutha menggantung di udara.


Liam menghampiri mereka berdua dengan setengah berlari. "Halo, Hasna! Apa kabar?"


"Baik," jawab Hasna singkat sembari tersenyum.


"Pinjem Makutha sebentar, ya?" Liam menarik lengan Makutha lalu menjauh dari Hasna.


"Lama juga nggak apa-apa, kok, Liam!" teriak Hasna sembari terkekeh. Gadis itu langsung keluar dari kelas dan menuju parkiran.


Sambil memanasi motor, Hasna merogoh saku rok untuk mengambil ponsel dari sana. Gadis itu mengecek beberapa pesan yang masuk. Ketika menemukan nama Cio, pesan itulah yang pertama kali dia buka.


[Aku sudah di depan gerbang sekolah]


Hasna tersenyum lebar. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Setelah itu Hasna menekan tombol hijau, dan mulai berbicara.


"Sebentar lagi aku keluar, tunggu di sana!" Hasna langsung mematikan sambungan telepon, lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku rok.


Setelah siap, Hasna memutar tuas gas motor matic-nya. Gadis itu berhenti di depan gerbang sekolah. Dia menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan Makutha. Namun, dia tidak menemukan sosok sang kekasih.


"Ck, di mana sih?" Hasna kembali merogoh saku rok dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Cio.


Saat hendak menghubungi sang kekasih, gadis itu dikejutkan oleh tepukan pada bahunya. Hasna tersenyum lebar. Dia sudah bisa menebak kalau yang menepuk bahunya adalah Cio.


"Cio!" Hasna menoleh. Namun, senyumnya seketika pudar. Orang yang ada di belakangnya adalah Alex, bukan Cio.

__ADS_1


"Alex? Kamu ngapain di sini?" tanya Hasna kebingungan.


"Bisa antar aku ke warung ujung jalan?"


"Maaf, Lex. Aku udah ada janji," tolak Hasna sopan.


"Halah, bentar doang, Na."


Hasna berdecak kesal, tetapi tetap menuruti permintaan Alex. Dia meminta Alex yang mengendarai motor. Gadis itu membonceng di belakang, tanpa rasa curiga sedikit pun.


Di sisi lain, Makutha, Liam, dan Hendry ada di gudang sekolah. Hendry menunjukkan foto Hasna dan Alex yang sedang berboncengan kepada Makutha.


"Apa maksud kalian?" tanya Makutha dengan nada dingin.


"Ikut kami menemui Geng Cantul, atau Alex akan mengotori Hasna!" Liam tersenyum sinis sambil menaikkan satu alisnya.


"Bajingan! Kalian licik sekali! Berapa sih, uang dendanya! Biar aku yang bayar!" teriak Makutha frustrasi.


"Tha, ini bukan masalah uang! Kamu tahu 'kan kami ini anak pejabat dan pengusaha kaya? Sebenarnya, kami tidak membutuhkan uang mereka. Kami hanya mau mereka menepati janji!" Hendry tersenyum miring.


"Lalu kenapa harus menyeretku masuk?" Makutha mengepalkan jemarinya. Rahang lelaki itu mulai mengeras.


"Karena sejak awal, kamu ikut taruhan ini! Jadi, kamu juga harus menyelesaikannya sampai akhir!" seru Liam sambil mendorong dada Makutha dengan telunjuknya.


"Bangsat kalian semua!" teriak Makutha.


Dada Makutha kembang kempis. Ingin sekali rasanya dia menghujani Liam dan Hendry dengan pukulan. Namun, dia yakin hal itu justru akan memperkeruh suasana. Bahkan bisa mengancam keselamatan Hasna.


Akhirnya mereka menghampiri menjemput Alex dan menuju markas Geng Cantul. Hasna hanya melongo saat melihat Makutha pergi dengan berandalan yang terkenal nakal di sekolahnya.


"Hasna!" teriak Cio dari seberang jalan.


Hasna memutar tuas gas kemudian menghampiri Cio. Lelaki itu terlihat begitu tampan. Lebih tampan dari biasanya. Hasna tersenyum lebar ketika sudah sampai di hadapan Cio.


"Kamu ke mana saja? Cio? Katanya udah sampai gerbang? Aku cari kok nggak ada?" Hasna mengerucutkan bibir.


"Ah, itu .... Tiba-tiba kebelet buang air kecil. Jadi tadi ke toilet di warung seberang dulu. Maaf, ya!"


"Ya udah, kita muter-muter dulu, ya, sebelum pulang ke rumah," ajak Hasna.


"Bolehlah! Tapi aku nggak bawa helm."


Hasna membuka helm yang melindungi kepalanya, kemudian menyerahkannya pada Cio. Keduanya berboncengan membelah jalanan kota Solo yang mulai ramai.


"Mana mobilmu?" tanya Hasna setengah berteriak agar sang kekasih mendengarnya.


"Tadi aku diantar Mama! Kita mau ke mana?"

__ADS_1


"Mau makan dulu?"


"Boleh! Makan di mana?" tanya Cio.


"Terserah kamu!"


Cio tersenyum sekilas kemudian kembali fokus pada jalanan. Ketika sampai di sebuah tanah lapang yang lumayan sepi, ekor matanya menangkap sosok Makutha. Sontak Cio mengerem motor tersebut.


"Makutha!" seru Cio.


"Eh, iya! Ngapain dia di sana!" seru Hasna sembari mengerutkan dahi.


Tak lama kemudian datang sekelompok siswa lain dengan membawa balok kayu di tangan mereka masing-masing. Cio meminta Hasna turun dari motor. Awalnya Hasna menolak, tetapi Cio memaksanya.


"Kamu segera hubungi polisi, ya! Aku khawatir! Mereka sepertinya mau berkelahi!" seru Cio.


Hasna mengangguk, dan Cio mulai memutar tuas gas menyeberangi jalanan untuk menghampiri mereka semua. Sesampainya di tanah lapang bekas parkiran gedung perkantoran itu, Cio menghentikan laju motor, melepas helm, dan menghampiri dua geng yang terlihat bersitegang itu.


"Cio! Ngapain kamu ke sini!" teriak Makutha.


"Ayo pulang!" Cio menyeret lengan Makutha sambil menatap tajam lelaki itu.


"Pergilah! Tolong jangan ikut campur!"


"Nggak bisa! Aku harus bawa kamu pulang. Kalau bunda tahu, kamu bisa dihukum!"


"Cio, aku mohon pergilah!" teriak Makutha.


"Utha, kamu sengaja panggil Cio buat melakukan drama ini 'kan?" tuduh Alex.


"Nggak! Aku bahkan nggak tahu kalau Cio hari ini balik dari Bandung!"


"Jangan bohong kamu!" seru Liam sembari mendorong Makutha hingga tersungkur di atas lantai.


Cio menarik lengan Liam, dan mulai memarahi lelaki di hadapannya itu. "Oh, jadi kalian yang menyeret Makutha ke dalam bahaya!"


"Bubar kalian! Atau aku akan menelepon polisi!" ancam Cio sambil merogoh saku.


Sebenarnya Cio tidak membawa ponsel. Dia hanya menggertak semua yang ada di sana. Namun, siapa sangka justru apa yang dia lakukan menjadi bumerang. Salah seorang dari geng musuh berlari ke arah Cio, lalu mengayunkan balok kayu ke kepala lelaki tersebut.


"Cio!" teriak Makutha lalu menghampiri Cio yang sudah tersungkur di atas lantai dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya.


Tak lama kemudian terdengar sirine mobil patroli bertalu-talu. Polisi datang. Semua yang ada di lokasi tersebut diringkus oleh polisi, termasuk Makutha. Suasana terlihat begitu kacau.


Hasna berlari menghampiri Cio yang sudah tergeletak lemas bersimbah darah. Dia dilarang mendekat oleh polisi sampai tim medis datang. Tak lama kemudian, ambulans datang.


Hasna memohon agar diijikan ikut ambulans yang membawa Cio. Air mata Hasna bercucuran. Hatinya terasa nyeri melihat sang kekasih yang kini lemas, setengah sadar, dan bersimbah darah. Cio menggerakkan bibirnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


"Na," panggil Cio parau.


"Na, aku sayang banget sama kamu." Cio pun menutup matanya. Kesadarannya hilang seketika.


__ADS_2