
"Tuan David!" seru Liontin ketika mengintip di balik tirai jendela kamarnya.
"Bagaimana bisa dia tahu aku tinggal di sini?" gumam Liontin.
"Siapa?" tanya Cincin tanpa mengeluarkan suara.
"Tuan David."
David kembali mengetuk pintu sembari berkata, "Tolong buka pintu! Aku tahu kamu ada di dalam."
Liontin mendengus kesal kemudian memutar tuas pintu. Setelah pintu terbuka lebar, wajah tidak ramah David membuat mood-nya lenyap seketika.
"Ada apa?" Liontin melipat lengan di depan dada sambil menatap sinis mantan majikannya itu.
"Bisa bicara sebentar?"
"Lima menit." Liontin melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangannya.
"Aku serius, tolonglah. Boleh aku masuk? Aku ingin memberitahu mengenai masa lalu Reza."
Mendengar ucapan David, Cincin melangkah dan berdiri di samping Liontin. "Kenapa? Masuk!"
__ADS_1
David menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan kecil berukuran 15 meter persegi itu. Tatapannya berhenti ketika melihat si kecil Makutha sedang asyik bermain dengan Nana.
"Ada perlu apa?"
Suara ketus Cincin membuyarkan fokus lelaki itu. Dia berdeham sekali kemudian menatap Cincin dan Liontin bergantian.
"Saya ingin menceritakan sebuah rahasia pelik mengenai keluarga besar Li."
"Sejujurnya, aku nggak tertarik dengan ceritamu." Cincin tersenyum miring sambil melipat lengan di depan dada.
"Ehm ... bagaimana jika kabar ini menyangkut kebahagiaan adikmu, Liontin?" David mencondongkan tubuhnya ke arah Cincin, kemudian melirik Liontin sekilas.
"Tujuan ya ...." David mengerutkan bibir sembari memutar bola mata.
"Anggap saja ini sebagai penebusan dosa, karena telah merenggut keperawanan Liontin," jawab David tanpa rasa bersalah.
Hati Cincin seakan terbakar melihat sikap lelaki di hadapannya ini. Emosi perempuan itu mulai merayap dan sebentar lagi sampai di puncak ubun-ubun.
"Sungguh tidak punya hati!" seru Cincin.
"Kamu pikir dengan mengungkap semua fakta mengenai keluarga Li bisa mengembalikan semua yang kamu rampas?" Mata Cincin mendelik.
__ADS_1
Liontin yang duduk di samping Cincin hanya bisa meremas rok yang ia pakai agar emosinya tidak ikut meledak. Sebenarnya mulutnya gatal sekali ingin memaki David detik itu juga. Namun, sebisa mungkin ia tahan.
"Rahasia keluarga Li mungkin saja bisa menyelamatkan Liontin dari niat jahat Reza dan ibunya, yang memanfaatkan perempuan malang ini untuk balas dendam." David tersenyum tipis ketika melihat perubahan mimik wajah Liontin.
"Katakan semua, dan segera pergi dari sini!" Rahang Liontin mengeras dan otot sekitar matanya mulai menonjol.
"Sebenarnya aku dan Reza kakak beradik. Kami terlahir di keluarga yang sama, tetapi mendapat perlakuan yang begitu jauh berbeda." David tersenyum kecut ketika mengingat bagaimana masa kecilnya yang penuh drama dan air mata.
"Ibuku adalah istri kedua dari papa. Memang benar aku ada karena sebuah kesalahan. Tetapi bukankah seharusnya aku memiliki hak yang sama untuk mendapatkan cinta dari seorang ayah?"
"Langsung saja pada intinya. Aku tidak suka mendengar dongengmu yang membosankan itu!"
"Reza dan ibunya dulu bercerai karena papa ketahuan selongkuh dengan ibuku. Beliau kembali ke Indonesia dan menjalani hidup di sini dengan bahan bakar sebagai dendam. Dia berencana untuk membalaskan dendam kepada Keluarga Li suatu saat nanti." David menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.
"Lalu apa hubungannya dengan Liontin?" Cincin mengerutkan dahi mencoba memahami maksud dari David yang bercerita panjang mengenai Keluarga Li.
"Sampai saat ini, generasi ketiga keluarga Li belum memiliki pewaris laki-laki secara resmi. Namun, Reza mengetahui bahwa sebenarnya Makutha adalah kandidat terkuat pewaris kerajaan bisnis Keluarga Li."
"Karena Makutha adalah putramu?" tebak Liontin.
"Ya, karena itulah mereka mendekatimu. Reza dan ibunya ingin menguasai semua harta Keluarga Li tanpa mau berbagi denganku yang sebenarnya juga memiliki hak."
__ADS_1