TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 61. Terbakar Api Cemburu


__ADS_3

Reza melangkah secepat yang ia bisa menyusuri koridor rumah sakit. Lelaki itu meninggalkan rapat direksi, dan langsung berlari menuju ruang UGD. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika mendengar kabar bahwa Liontin mengalami kecelakaan.


"Liontin!" seru Reza ketika sampai di pintu UGD.


Sontak Liontin, Makutha, dan seorang perawat menoleh ke arah pria itu. Reza segera menghampiri Liontin yang lengan atasnya baru saja selesai di perban.


"Sudah selesai, Bu. Saya permisi," ucap perawat itu kemudian berlalu meninggalkan keduanya.


"Ayah!" Makutha mengangkat lengannya meminta gendong kepada Reza.


"Utha, sebentar, ya? Ayah mau lihat kondisi Bunda dulu." Reza tersenyum lembut kemudian meraih jemari Liontin.


"Ada bagian lain yang sakit?" tanya Reza dengan raut wajah panik.


Liontin menggeleng sambil tersenyum tipis. Dia selalu merasa beruntung karena bisa menjadi milik Reza. Lelaki itu sangat perhatian dan selalu mengkhawatirkannya ketika ia mengalami sakit ringan. Jika orang lain bilang Reza pria overprotektif, lain halnya dengan Liontin. Dia masih merasa nyaman dengan sikap perhatian dari sang suami.


"Syukurlah, aku benar-benar khawatir terjadi hal buruk kepadamu." Reza memeluk Liontin sembari mengecup puncak kepala sang istri berulang kali.


"Ayah! Utha mau digendong!" teriak Makutha sambil melipat lengan. Bibir anak laki-laki itu dimajukan layaknya Donal Bebek dan matanya menatap tajam ke arah sang ayah.

__ADS_1


"Astaga, jagoan Ayah! Sini, Nak!" Reza terpaksa melepaskan pelukannya dari Liontin kemudian memeluk tubuh mungil Makutha.


...****************...


"Pak Rudi, bisa ke ruang kerja saya sebentar?" Reza menghubungi sang sopir pribadi melalui sambungan telepon.


Tak lama kemudian Pak Rudi masuk ke ruangan bernuansa abu-abu itu. Dia menunduk pelan, kemudian menatap Reza serius.


"Ya, Pak. Ada apa?"


"Bagaimana bisa Liontin terluka?" Reza memicingkan mata sambil saling menautkan jemarinya di atas meja.


"Aku tidak butuh permintaan maaf Pak Rudi!" Reza melotot dengan garis rahang yang semakin mengeras.


"Maaf, Pak. Tadi Makutha kebelet pipis, Bu Liontin hendak mengantarnya ke toilet umum yang ada di pom bensin. Tapi, tiba-tiba ada truk yang remnya blong."


"Kenapa bukan Pak Rudi saja yang mengantar Makutha?" Reza melipat lengannya sambil menyipitkan mata.


"Saat itu posisi kami sedang terjebak di tengah kemacetan. Jadi, mobil tidak bisa bergerak sedikitpun. Makutha terus merengek, jadi Bu Liontin terpaksa yang turun dan mengantarnya."

__ADS_1


Reza membuang napas kasar kemudian memijat kepalanya yang berdenyut. Gerakannya berhenti seketika ketika mendapat laporan tambahan dari sang supir.


"Untungnya, ada seorang laki-laki yang mendorong Bu Liontin. Jadi, beliau bisa terhindar dari kejadian yang lebih parah."


"Laki-laki?" Dahi Reza berkerut.


"Iya, Pak. Laki-laki seumuran dengan Bu Liontin. Mereka berdua sepertinya sudah saling kenal."


Dada Reza seakan terbakar mendapat laporan dari Pak Rudi. Berbagai pertanyaan berputar-putar mengenai pria yang telah menyelamatkan sang istri dan putranya.


"Teman lama? Laki-laki? Saling kenal? Seumuran? Siapa orangnya?" gumam Reza.


"Oh ya, mereka berdua berbicara memakai bahasa Mandarin."


"Bagaimana ciri-cirinya?"


Pak Rudi menyebutkan ciri-ciri lelaki yang telah menyelamatkan Liontin. Pria asing sebenarnya adalah David. Namun, penampilan lelaki itu sekarang berubah karena rambut tipis yang memenuhi dagu dan juga area bawah hidungnya.


Sontak Reza beranjak dari kursi kemudian menemui Liontin yang sedang ada di kamarnya. Lelaki itu membanting pintu kasar hingga membuat Liontin yang sedang merias wajahnya terperanjat.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?" Liontin langsung berdiri kemudian mendekati Reza yang masih mematung di depan pintu kamar.


__ADS_2