TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 49. Sudut Pandang Reza


__ADS_3

Suara klakson mobil saling bersahutan di jalanan depan Stadion Manahan. Sebuah pertandingan sepak bola menjadi penyebab utama kemacetan yang terjadi di sana. Reza tetap mengemudi dengan tenang sambil mengetukkan jemarinya di atas roda kemudi.


Liontin, Cincin, Hana, dan Makutha duduk di kursi penumpang sambil bersenda gurau. Reza sesekali melihat kaca spion yang menggantung di atasnya sembari tersenyum geli. Dia melihat empat penumpang di belakangnya tertawa karena ulah Hana yang terus menggoda Makutha.


Tak lama kemudian mobil itu sampai di terminal Tirtonadi, dan Cincin berpamitan untuk pulang ke kampung. Awalnya Reza menawarkan diri untuk mengantarnya sampai sana, namun Cincin menolak dengan tegas.


"Hati-hati, ya, Mbak. Liontin tinggal, Makutha sepertinya udah ngantuk banget." Liontin mencium punggung tangan Cincin sambil tersenyum tipis.


Cincin mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam bus. Setelah mendapat tempat duduk, Nana melambaikan tangan dan dibalas oleh Liontin.


"Ayo, aku antar pulang sekarang. Kasihan Makutha."


Liontin mengekor di belakang Reza sambil menggendong Makutha yang mulai menyandarkan kepalanya pada dada sang ibu. Reza yang menyadari Liontin tertinggal di belakangnya, berhenti kemudian menghampiri perempuan itu.


"Sini, biar aku yang menggendong Makutha!" Reza mengambil alih tubuh mungil bayi laki-laki itu dan kembali berjalan.


Sebuah senyum tipis terukir di bibir Liontin. Perempuan itu kemudian berjalan mengikuti langkah Reza. Akan tetapi, lelaki di depannya itu kembali berhenti. Dia mengulurkan tangannya.


"Ayo! Kamu berjalan seperti siput!"

__ADS_1


Seketika wajah Liontin memerah seperti udang rebus. Jemarinya mulai enggan untuk beranjak dari samping tubuh. Akhirnya Reza yang berinisiatif meraih jari-jari Liontin dan menggandengnya menuju area parkir mobil.


Jantung Liontin berdetak tak beraturan. Seperti ada aliran listrik yang mengalir dari tangan Reza hingga menjalar ke tubuhnya dan berhenti di jantung perempuan itu. Rasa tenang dan bahagia bercampur menjadi satu saat ini. Liontin selalu merasa tenang setiap bersama Reza.


Apa aku boleh berharap untuk selalu bersamamu, Kak? batin Liontin sembari mengulum senyum sumringahnya.


...****************...


Makutha kini sudah terlelap di dalam dekapan Liontin. Reza masih setia menunggu Liontin karena ingin mengungkapkan sesuatu kepada perempuan itu. Setelah memastikan Makutha benar-benar tidur nyenyak, Liontin merebahkannya ke atas kasur busa.


"Kembali saja ke rumah, itu rumahku. Jangan pedulikan mama." Reza menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan sempit itu.


"Nggak. Aku nggak mau ke sana. Kecuali ...."


Kecuali kita bisa menikah dan hidup bersama. Aku tidak ingin hidup dalam bayangan kebaikanmu. Kamu mungkin tulus, tapi Tante Risa? batin Liontin.


"Ah, nggak usah dipikirkan. Lupakan saja, Kak." Liontin tersenyum kecut lalu menundukkan pandangannya.


"Mengenai masa lalu Keluarga Li. Memang benar yang diucapkan David. Aku dan dia saudara satu ayah."

__ADS_1


Liontin menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar. Reza menatap wajah perempuan di depannya dan memberanikan diri untuk meraih jemari lentiknya.


"Aku tidak pernah mau menemui papa, karena aku tidak butuh hartanya. Toh, sekarang aku sudah sukses. Aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri tanpa campur tangannya."


"Sampai sekarang, aku belum tahu pekerjaan Kak Reza apa. Bisakah aku mengetahuinya? Aku tidak ingin Kakak menutupi apapun dariku?"


Reza tersenyum konyol, sebuah ide jahil tiba-tiba hinggap di otak kotornya. Lelaki itu mulai membuka satu per satu kancing kemeja. Liontin terbelalak melihat tingkah lelaki yang sangat ia cintai itu.


"Kak Reza mau apa! Benarkan lagi kancing kemejamu! Atau aku akan berteriak!" seru Liontin.


"Bukankah aku tidak boleh menutupi apa pun darimu? Termasuk tubuhku, 'kan?" Reza tersenyum miring.


"Bu-bukan begitu maksudku! Maksud Liontin, Kakak harus berkata jujur! Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku!" Liontin bersungut-sungut kemudian membuang muka.


Reza terkekeh melihat sikap Liontin dengan wajah yang mulai memerah. Lelaki itu menarik lengan Liontin kemudian mengecup puncak kepalanya lembut.


"Aku seorang Presdir Rumah Sakit yang waktu itu kugunakan untuk drama melamarmu!"


"Kak Reza ...." Liontin kembali terbelalak. Dia tak menyangka bahwa Reza memiliki jabatan penting di salah satu Rumah Sakit swasta termewah di Kota Solo.

__ADS_1


Liontin menggeliat berusaha melepaskan pelukan Reza. Dia menatap wajah lelaki itu kemudian tersenyum tipis.


"Kak, apa Kakak tidak takut jika aku mau menikah denganmu karena harta yang kamu miliki?"


__ADS_2