
"Tunggu!" teriak Reza.
Lelaki itu membelah kerumunan warga kemudian berjalan mendekati Rangga. Tatapan keduanya beradu berusaha mengintimidasi satu sama lain. Di belakang Rangga, ada Cincin dan Budhe Siti yang setengah berlari menghampiri Liontin.
"Liontin, apa tangan kotornya ini sudah menyentuh kulitmu?" Reza bertanya kepada Liontin tanpa melepaskan tatapannya dari Rangga.
"Belum, Kak."
"Kamu beruntung, jika saja ada satu saja jemarimu menyentuh kulit Liontin, aku akan mematahkannya sekarang juga!" Rahang Reza mengeras seketika. Jemarinya mengepal erat di samping badan karena menahan emosi yang bergemuruh di dalam dada.
"Oh, jadi kamu? Yang menyewa perempuan ini mejadi gundikmu sampai hamil? Jangan-jangan selama ini dia berbohong kalau kerja di Taiwan?" Sebuah senyum miring terulas di bibir Rangga.
Tak elak sebuah bogem mentah mendarat di pipi Rangga, hingga lelaki itu tersungkur di atas tanah. Intan langsung berlari mendekati suaminya, sedangkan Liontin menyerahkan tubuh mungil Makutha kepada Cincin, kemudian menarik lengan Reza.
"Sudah, Kak. Biarkan."
Detik itu Reza baru menyadari bahwa dahi Liontin sedang terluka. Ada tetesan darah melekat di sana. Sontak Reza mendekatkan jemarinya pada luka bekas hantaman batu tadi.
"Siapa yang melakukan ini padamu?"
Liontin menggeleng sambil berkata, "Tidak apa-apa. Kita pergi sekarang, yuk! Aku sudah mengemasi barang-barangku."
__ADS_1
Keduanya masuk ke rumah diikuti Cincin dan Budhe Siti. Tak lama kemudian, mereka keluar sambil membawa koper yang bahkan kemarin belum sempat dibongkar. Warga desa itu masih berkerumun di depan rumah Liontin.
"Sebenarnya, tanpa kalian repot-repot mengusirku ... aku sudah berencana untuk meninggalkan desa ini. Terima kasih sudah menyadarkanku bahwa tempat ini memang tidak cocok untukku." Liontin melangkah pergi diiringi isak tangis Cincin.
"Ish, Mbak Cincin lebay! Aku lo cuma pindah ke kota. Waktu tempuhnya cuma satu jam dari sini. Kalau mbak longgar, main, ya, ke rumah baruku?"
"Dasar!" Cincin menyentil dahi Liontin, kemudian menatap Reza.
"Za, Mbak Cincin titip Liontin, ya? Kalau ada apa-apa segera hubungi Mbak!"
Reza mengangguk mantap kemudian menggiring Liontin masuk ke mobil. Akhirnya Liontin meninggalkan tanah kelahirannya. Perempuan itu berjanji untuk tidak kembali tinggal di sana. Kenangan buruk di desa itu akan terus teringat dalam benaknya.
"Sebentar lagi sampai," ucap Reza sambil tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, Reza memarkirkan mobilnya di depan bangunan dua lantai. Lantai bawah bangunan itu lebih seperti garasi. Ada ruang kecil berdinding kaca hitam dan dua buah kamar mandi.
"Dulu ini bekas tempat cucian mobil. Tante sebenarnya ingin menjualnya. Tapi aku bilang bahwa kamu mau menyewanya."
Liontin melangkah di belakang Reza dan menapaki satu per satu anak tangga untuk mencapai lantai dua. Rumah itu berdinding kaca hitam. Jika dari luar tampak gelap, tetapi saat di dalam ruangan, kita bisa melihat dengan jelas keadaan lantai satu.
"Berapa harga sewanya satu bulan?" tanya Liontin.
__ADS_1
Reza awalnya ragu saat menjawab. Lelaki itu mengeluarkan tangannya yang tadi berada dalam saku celana. Dia menunjukkan kelima jarinya kepada Liontin.
"Lima juta per tahun!"
"Ha?" Liontin menaikkan alis dan pupil matanya melebar.
Tentu saja perempuan itu terkejut. Dia berpikir tidak mungkin bangunan besar di pinggir jalan raya disewakan hanya dengan nominal itu. Liontin memicingkan mata sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Reza.
"Kamu bohong, 'kan?"
Reza gelagapan. Lelaki itu membuang muka, kemudian mengusap tengkuknya.
"Maaf."
"Kak, aku tidak suka berbohong agar orang lain tidak membohongiku. Tolong jangan seperti ini lagi, ya?"
"Iya. Maaf, ya?" Mata Reza menyiratkan penyesalan.
Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dan dibanting kasar. Seorang perempuan paruh baya memasuki ruangan dan langsung menghampiri Reza. Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi lelaki tampan itu.
"Reza, kamu berani membohongiku, ya?"
__ADS_1