TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 77. Prahara Rumah Tangga


__ADS_3

Keesokan harinya, selepas Reza menyelesaikan rapat, lelaki itu langsung menjemput Liontin ke rumah. Mereka hendak menemui Berlian di rumahnya. Sesampainya di rumah perempuan itu, mereka disambut baik oleh Berlian.


"Duduk, Tin, Za. Aku bikinin minuman dulu, ya?"


"Nggak usah repot-repot, Lian," ucap Reza sambil tersenyum tipis.


"Nggak apa-apa, kok. Nggak repot. Sebentar, ya?" Berlian masuk ke dapur dan sibuk dengan kegiatannya untuk menjamu sahabat dan mantan pacarnya itu.


Tiba-tiba sebuah cubitan mendarat di perut Reza. Lelaki itu meringis kesakitan sambil menahan teriakannya agar tidak lolos.


"Jangan ganjen!" seru Liontin sambil menyipitkan mata.


"Ng-nggaklah! Ganjen gimana! Lepas dong, Sayang. Sakit!"


"Nggak!"


"Lepasin, please ...." Reza menangkupkan kedua telapak tangannya dan memasang wajah memelas agar sang istri luluh.


Akhirnya Liontin melepaskan cubitannya dengan perasaan kesal. Reza mengusap terus bekas cubitan sang istri, berharap rasa sakitnya menghilang. Tanpa mereka sadari, Berlian memperhatikan keduanya dari meja bar kecil yang ada di dapur. Bahkan, perempuan itu sengaja menjatuhkan gelas untuk mendapatkan perhatian keduanya.


Mendengar suara dari gelas yang terjatuh, sontak membuat Liontin beranjak dari sofa dan menghampiri Berlian. Sesampainya di meja bar, dia melihat pecahan kaca bercecer di atas lantai.


"Lian, awas nanti terluka! Biar aku yang beresin." Liontin mulai membereskan pecahan gelas itu dengan tangan kosong.

__ADS_1


Liontin mengaduh ketika salah satu pecahan gelas menggores jari telunjuknya. Kini giliran Reza yang berlari secepat kilat menghampirinya. Lelaki itu meraih jemari sang istri, kemudian menarik lembut lengan sang istri. Dia membawa Liontin menuju wastafel dan mencuci lukanya.


"Di mana kotak obatnya?" tanya Reza dengan raut wajah panik.


"Di sana," jawab Berlian sambil menunjuk kabinet bawah sebelah kiri.


Rasa iri kembali merasuki hati Berlian. Perempuan itu tersenyum getir sambil terus menatap bagaimana perlakuan manis yang Reza lakukan untuk Liontin. Seandainya Adam juga memiliki cinta sebesar Reza mencintai Liontin, pasti lelaki itu akan terus berjuang bersamanya untuk meyakinkan sang ayah mertua.


Setelah selesai mengobati luka Liontin dan membersihkan sisa kekacauan yang Berlian buat, mereka bertiga memutuskan untuk berbincang di taman belakang rumah. Suara gemercik air dari kolam ikan membuat suasana sedikit lebih menenangkan.


"Kalian ada keperluan apa ke sini?"


"Begini, Lian. Istriku yang cemburuan ini semalam ngambek." Reza melirik ke arah Liontin yang kini menatapnya tajam sambil mengerucutkan bibir.


"Ngambek kenapa?" Berlian tersenyum tipis sambil melirik Liontin.


"Ya, istri mana yang nggak berpikiran seperti itu?" Liontin melipat lengan di depan dada sambil membuang pandangan dari Reza.


"Tuh, kan, ngambek lagi? Dengerin dulu dong, penjelasan Berlian."


Liontin kini menatap sang sahabat, kemudian melembutkan pandangan. Berlian menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar.


"Semalam, Reza menyelamatkanku ketika sebuah mobil hendak menabrakku."

__ADS_1


"Kan, aku bilang apa? Aku nggak pernah bohong sama kamu, Sayang." Reza tersenyum lebar sambil menggenggam jemari Liontin.


"Foto yang kamu lihat, boleh aku melihatnya juga?" tanya Berlian.


Liontin mengeluarkan ponselnya dari tas. Kemudian menunjukkan foto yang membuat hatinya terbakar tadi malam hingga sekarang. Berlian tersenyum tipis kemudian mengembalikan benda pipih itu kepada Liontin.


"Benar, itu foto kami sesaat setelah Reza menyelematkanku."


"Tuh, 'kan? Aku bilang juga apa. Kamu jangan terlalu overthinking. Nggak baik buat kesehatanmu dan calon bayi kita."


Liontin tersipu malu kemudian tersenyum lebar. Reza kembali menggenggam erat jemari sang istri, lalu mencium punggung tangannya.


"Maaf, ya, Lian. Aku sudah berpikiran buruk tentang kalian. Aku ...." Ucapan Liontin menggantung di udara karena dipotong oleh Berlian.


"Tapi ... mengenai dugaan perselingkuhan itu, memang benar! Aku sedang kembali dekat dengan Kak Reza."


Seketika senyuman Liontin memudar. Perempuan itu mengerutkan dahi dan menatap sahabatnya itu.


"Kamu sedang bercanda, 'kan?"


"Apa wajahku terlihat seperti sedang bercanda?" Berlian menatap tajam Liontin sambil merapatkan giginya.


"Berlian, kamu gila, ya!" teriak Reza.

__ADS_1


Liontin langsung berdiri dan keluar dari rumah Berlian. Hatinya begitu rapuh saat ini. Terlebih kondisi mentalnya yang mudah sekali terpengaruh karena dalam keadaan hamil. Reza langsung mengejar sang istri.


"Bukan urusanku. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya sedikit menambahkan lada pada kehidupan pernikahan kalian agar tidak hambar." Rahang Berlian mengeras, dan kini air matanya meleleh untuk menghapus rasa bersalahnya.


__ADS_2