
Sibuknya lalu lintas Kota Solo, tidak menyurutkan Reza untuk segera mencapai rumah sakit. Lelaki itu mendapat kabar bahwa para pemegang saham, ingin dirinya lengser dari jabatan CEO. Sebenarnya Reza tidak masalah jika harus meninggalkan jabatannya itu. Namun, alasan para dewan direksi rumah sakitlah yang membuatnya tidak terima.
Mereka beralasan bahwa Reza tidak kompeten mengawasi manajemen Rumah Sakit tersebut. Bahkan, dia dituduh telah menggelapkan dana Rumah Sakit untuk kepentingan pribadi. Malam itu, seluruh dewan direksi sepakat untuk mengadakan rapat.
Derap langkah Reza menggema di koridor rumah sakit. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Sebenarnya rapat ini bisa diadakan besok pagi. Namun, hatinya tidak tenang saat ini. Dia langsung memasuki ruang rapat. Beberapa direksi sudah hadir di sana. Selain itu dua pemenang saham dari rumah sakit juga ikut hadir untuk menyuarakan pendapat mereka.
"Tinggal menunggu Pak Johan dan Pak Alex. Rapat akan kita mulai," ucap Tiwi.
Johan dan Alex adalah dua orang pemegang saham utama rumah sakit selain Reza. Setelah menunggu selama tiga puluh menit, akhirnya keduanya datang bersamaan. Ketika dua orang itu masuk, semua orang berdiri dan membungkukkan badan kecuali Reza.
"Rapat kita mulai," ucap Johan.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Johan yang kali ini memimpin rapat. Lelaki berusia lebih dari setengah abad itu mulai berbicara dan mengungkapkan laporan yang ia terima dari Komite Audit.
"Aku butuh bukti. Aku tidak menerima tuduhan tanpa dasar." Suara Reza dingin dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Silahkan buka dokumen yang ada di depan kalian!" seru Johan.
__ADS_1
Semua orang yang duduk di kursi panas itu mulai membuka lembar demi lembar dokumen yang sudah disiapkan oleh Tim Audit Internal Keuangan rumah sakit.
"Selain ada selisih dana keluar masuk untuk penelitian laboratorium kita, ada beberapa anggaran gaib yang tidak jelas kegunaannya untuk apa. Semuanya masuk ke sebuah rekening bank atas namamu." Johan terus melemparkan tuduhan kepada Reza.
Reza hanya diam. Namun, jemarinya mengepal kuat dan rahangnya mengeras. Dadanya bergemuruh mendengar setiap tuduhan yang dilontarkan Johan kepadanya.
"Grafik pemasukan Rumah Sakit Sumber Waras juga menurun selama dua bulan terakhir. Kami rasa, kamu tidak kompeten lagi dalam mengurus Rumah Sakit ini."
Reza sontak berdiri dan membanting kasar dokumen yang ia genggam. Dia tidak terima dituding sebagai seorang Presdir yang tidak kompeten.
"Bisa aku bicara sekarang untuk membela diri?" Reza bangkit dari kursinya kemudian berjalan mengelilingi semua jajaran direksi yang hadir.
"Kedua, jika memang aku tidak kompeten ... bagaimana mungkin sarana pelayanan kesehatan yang awalnya hanya klinik kecil, bisa berkembang menjadi sebesar ini dalam waktu kurang dari sepuluh tahun?" Reza tersenyum miring kemudian menatap tajam Johan dan Alex secara bergantian.
Beberapa dari orang yang hadir mulai berbisik satu sama lain. Mereka mengangguk-angguk tanda menyetujui ucapan yang Reza katakan. Tak sampai di sana, Reza kembali mengingatkan selain memegang posisi sebagai CEO, dia juga merupakan pemilik saham terbesar.
"Ah, ada satu hal yang perlu aku ungkapkan kepada kalian semua. Sebenarnya aku juga memiliki saham atas perusahaan ini sebanyak lima puluh persen!" Reza menunjukkan kelima jarinya ke arah para jajaran direksi itu.
__ADS_1
"Wah! Ternyata begitu rupanya."
"Iya, benar. Aku rasa Presdir tidak mungkin melakukan penggelapan jika memang begitu kenyataannya."
"Pasti ada yang salah dengan tuduhan itu."
Suara-suara itulah yang kini tertangkap telinga Reza. Lelaki itu mengamati satu per satu wajah orang yang hadir. Ketika tatapannya bersiborok dengan Alex, dia tersenyum tipis dan dibalas anggukan oleh temannya itu.
"Aku rasa rapat nggak penting ini cukup sampai di sini. Jika memang kalian menginginkanku untuk mundur dari jabatan Presdir, aku akan mundur." Reza menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar.
"Tapi, kalian semua harus bersiap untuk mengalami krisis keuangan ketika mengelola Rumah Sakit ini ... karena aku akan menarik semua saham yang kumiliki!" seru Reza kemudian keluar dari ruang rapat.
"Apa!" pekik Johan kemudian bangkit dari kursinya untuk mengikuti Reza.
Alex berdecak, kemudian bergumam, "Om-om satu itu sampai lupa menutup rapat. Mana aku tidak bisa buka tutup acara seperti ini! Kalau buka tutup lingerie cewek aku jago."
Alex bangkit dari kursinya, kemudian menggerakkan jemarinya seperti mengusir lalat. Ya, bagi lelaki itu semua kumpulan orang yang ada di sana hanyalah lalat yang suka menjilat kakinya.
__ADS_1
"Sudah, pulanglah kalian! Mengganggu jam aktif naga kecilku saja!"