
"Liontin, dengerin aku dulu! Dia itu sedang berbohong!" Reza terus mengejar Liontin yang semakin mempercepat langkahnya.
"Dugaanku benar, Kak! Tega kamu, ya!" Liontin terus melangkah tanpa memedulikan sang suami. Air matanya merebak membuat pandangannya terganggu.
Reza terpaksa meraih lengan Liontin, menariknya perlahan hingga jatuh ke pelukan. Liontin terus memukul dada bidang sang suami. Meronta-ronta berharap lelaki itu melepaskan dekapannya.
"Kita bicarakan dengan kepala dingin. Ini semua salah paham." Reza mengusap punggung Liontin untuk menenangkan sang istri.
"Salah paham yang seperti apa lagi maksud Kak Reza? Kalian berpelukan tanpa sepengetahuanku. Dan ketika aku mengonfirmasikan perihal itu pada Berlian, dia mengiyakannya!" Liontin menangis tersedu-sedu. Badannya bergetar hebat dengan isak tangis yang terdengar menyayat.
"Harus dengan cara apa lagi aku meyakinkanmu, bahwa aku tidak berbohong? Apa selemah itu rasa cinta dan kepercayaanku kepadaku?" Hati Reza ikut terasa nyeri karena sang istri yang tidak mempercayainya.
"Kak, aku pernah memiliki kepercayaan penuh pada lelaki. Tapi, yang aku dapatkan hanyalah kekecewaan." Liontin kembali teringat rumahtangganya bersama Rangga yang kandas, karena dia terlalu percaya kepada mantan suaminya itu.
"Aku menutup telonga ketika mendengar aduan dari Mbak Cincin. Itu aku lakukan karena sepenuhnya percaya pada Mas Rangga. Aku tidak bisa menerima kebohongan barang sedikit pun!"
"Astaga! Aku bisa gila kalau kamu seperti ini, Liontin." Reza melepaskan pelukannya kemudian mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Kak, aku butuh waktu sendiri. Sementara waktu, aku ingin tinggal di rumah Mbak Cincin. Aku butuh ketenangan untuk berpikir lebih jernih.
Reza menghela napas kasar. Sebenarnya berat untuk memberi perempuan itu ijin. Akan tetapi, dia juga harus memikirkan kesehatan mental sang istri. Hari itu juga, Reza mengantar Liontin dan Makutha ke rumah Mbak Cincin.
"Mama, kita nginep di lumah Budhe Cincin dan Mbak Nana lama nggak?" tanya Makutha antusias.
"Mungkin satu minggu? Kenapa?"
"Oh, Utha nggak mau lama-lama bolos cekolah. Minggu depan Cio ulang tahun! Utha mau ikut datang ke cana!" Makutha menggerakkan kakinya sambil memainkan rubik dalam genggaman.
"Oke! Sebelum ulang tahun Cio, kita pulang, ya?"
Ketika sampai di kediaman Cincin, Makutha langsung keluar mobil dan berlari ke arah sang bibi yang sedang sibuk menyapu halaman rumah. Cincin terkejut karena kehadiran mereka yang tiba-tiba. Liontin menyusul Makutha yang kini berada dalam pelukan kakaknya.
"Eh, kok nggak kabar-kabar sih mau ke sini?" Cincin melirik tas jinjing berukuran besar yang dibawa oleh Reza.
"Mendadak, Mbak. Kak Reza harus ke luar kota. Jadi aku ke sini aja biar ada temennya," bohong Liontin.
__ADS_1
Reza hanya tersenyum datar, kemudian mengikuti mereka masuk ke rumah. Liontin ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Cincin dan Reza berbincang sambil menemani Makutha dan Nana bermain.
"Za, kalian ada masalah?" tanya Cincin tepat pada sasaran.
"Nggak, kok Mbak. Kami baik-baik saja."
"Jangan bohong sama Mbak. Aku tahu betul bagaimana sifat Liontin. Dia paling tidak bisa berbohong."
"Ada sedikit masalah. Kesalahpahaman yang membuat dia merajuk. Tapi rasanya aku hampir gila karena hal ini. Dia tidak mempercayaiku dan malah mempercayai berita yang tidak jelas." Reza mengusap wajah kasar lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
Cincin membuang napas kasar. Dia menatap sedih ke arah sang adik ipar. Cincin tahu benar bahwa Reza benar-benar sedang frustasi. Lelaki kuat ini begitu lemah hanya karena badai kecil yang menerpa hubungannya dengan Liontin.
"Mbak tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Kepercayaan adalah pondasi kuat untuk sebuah hubungan. Berusahalah lebih keras lagi untuk meyakinkan istrimu. Mbak akan mencoba bicara dengannya dari hati ke hati." Cincin tersenyum lembut dengan tatapan yang sama lembutnya.
"Terima kasih, ya, Mbak."
Sebuah deringan ponsel membuat obrolan mereka berhenti. Telepon itu berasal dari Manajer Rumah Sakitnya. Dia mengangkat panggilan tersebut dan mendengarnya setiap laporan buruk yang dikatakan oleh sang manajer. Kepala Reza berdenyut.
__ADS_1
"Aku akan segera ke sana!"