
Liontin merasa tubuhnya melayang dan terasa ringan. Tidak ada rasa sakit yang menerpanya. Ketika ia membuka mata, tubuhnya sudah mendarat di atas aspal tepi jalan, dekat pintu masuk pom bensin.
Makutha menangis histeris. Liontin segera mengecek sekujur tubuh putranya, untuk memastikan Makutha baik-baik saja. Setelah mengecek kaki dan lengan malaikat kecilnya, Liontin mengembuskan napas lega.
"Udah, nggak apa-apa. Cup, Sayang. Apa ada yang sakit, Utha?" Liontin merangkum wajah Makutha sambil menatapnya serius.
Makutha menggeleng sambil terus menangis. Air matanya bercucuran membasahi pipi. Ingusnya keluar masuk, seperti ingin keluar, tetapi enggan meninggalkan rongga hidung.
"Terus, kenapa Makutha nangis?" Liontin mengerutkan dahi sembari mencecar sang putra yang terus menangis histeris.
"Utha ngompol, Bundaaa ...." Tangis Makutha semakin pecah.
Sontak Liontin mengalihkan pandangannya ke bawah. Benar saja, celana seragam Makutha sudah basah karena air kencing. Liontin merapatkan bibir berusaha untuk menahan tawa. Dia tak mau sang putra semakin menangis jika tawanya pecah.
Mau heran, tapi dia anak-anak.
Liontin memeluk tubuh Makutha, sembari menepuk pelan tubuh mungilnya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang memperhatikan keduanya. Seorang lelaki bermata elang dengan janggut dan kumis tipis tersenyum miring. Dia berdiri kemudian berjalan menghampiri ibu dan anak yang baru saja ia selamatkan.
__ADS_1
"Kalian baik-baik saja?" tanya lelaki itu.
Liontin mendongak ketika mendengar suara bariton yang menyapa telinganya. Siluet lelaki bertubuh tegap memayunginya dari sinar matahari pagi. Liontin berdiri perlahan sambil berusaha menggendong Makutha.
"Aw!" pekik Liontin karena baru menyadari bahwa lengannya terluka.
"Biar aku yang gendong dia. Ayo, kita ke rumah sakit!" Pria itu mengambil alih tubuh Makutha berniat menggendongnya. Akan tetapi, Makutha mundur satu langkah.
"No! Utha nggak mau sama, Om!" teriak Makutha.
"Kenapa?" Lelaki itu mengerutkan dahi kemudian berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan Makutha.
Saat itulah Liontin terbelalak, lelaki di hadapannya itu ternyata adalah David. Dia begitu jauh berbeda dari beberapa tahun terakhir saat ia melihatnya. Lelaki itu sekarang penuh senyum dan juga terlihat hangat.
"Tuan ...," ucap Liontin lirih.
"Apa kabar?" David tersenyum tipis kemudian kembali berdiri tegak.
__ADS_1
"Ba-baik. Anda apa kabar?" tanya Liontin gugup.
"Ya, beginilah." Lelaki tampan itu tersenyum kecut.
"Oh, ya, ayo ke Rumah Sakit! Lukamu butuh perawatan."
Baru saja keduanya hendak melangkah pergi, sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan keduanya. Pak Rudi bergegas keluar dari kendaraan roda empat itu, kemudian menghamliri Liontin dan Makutha.
"Ibu nggak apa-apa?" tanya Pak Rudi panik.
Jakun lelaki itu naik turun dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai keluar membasahi dahinya. Pikirannya sudah melayang jauh. Bisa dipastikan ia akan mendapatkan omelan dari sang majikan, karena sudah lalai dalam tugas.
"Nggak apa-apa, kok, Pak. Cuma luka ringan." Liontin tersenyum tipis sambil mendesis menahan perih. Kulitnya bagian lengan terkelupas dan mengeluarkan darah karena bergesekan dengan aspal.
"Tuan, terima kasih, ya, sudah menolong kami." Liontin mengangguk sekilas kemudian berjalan sambil menggandeng jemari mungil Makutha dan masuk ke dalam mobil.
David menatap nanar Makutha dan Liontin. Rasa bersalah yang datang terlambat itu membuatnya begitu frustasi empat tahun terakhir. Kenangan pahit empat tahun lalu kembali terlintas dalam benaknya.
__ADS_1
Masa terberat kedua setelah kehilangan Ellena. Tanpa ia sadari, sebenarnya hatinya sudah kembali jatuh pada Liontin. Namun, di saat yang bersamaan lelaki itu harus melupakan segenap rasa cintanya karena Liontin yang memilih untuk bersama orang lain.
Aku harap kamu mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya kamu dapatkan, Liontin.