
Hujan mulai reda ketika Hasna dan Cio sampai di halaman rumah. Abercio tidak mematikan mesin mobil, karena berniat untuk langsung pulang ke rumahnya. Gadis di sampingnya itu kelihatan kesulitan saat hendak melepas sabuk pengaman.
Cio yang melihat wajah Hasna yang mulai panik pun tersenyum tipis. Lelaki itu mulai mendekati Hasna untuk membantunya melepaskan sabuk pengaman. Tubuh wajah keduanya kini begitu dekat.
Hasna sampai bisa mencium aroma Tonka Bean yang menguar dari tubuh Cio. Tanpa sadar gadis itu menahan napasnya sambil memejamkan mata.
Cio ternyata sangat tampan!
"Sudah," ucap Cio.
Hasna membuang napas kasar, kemudian menghirup oksigen secara rakus untuk memenuhi paru-parunya. Wajah gadis itu langsung memerah layaknya udang rebus saat menyadari Cio tersenyum tipis. Entah apa yang sedang ada di pikiran teman laki-lakinya itu.
"Masuklah! Besok aku jemput, ya?"
"Tidak usah!" Hasna menggerakkan telapak tangannya untuk menolak niat sang sahabat.
"Kebetulan kan kita searah. Aku jemput sekalian, oke? Dilarang nolak!" seru Cio.
Hasna menggaruk kepalanya yang tertutup jilbab. Dia tersenyum kecut karena harus menuruti kemauan Cio. Sebenarnya dia tak enak hati jika harus diantar jemput oleh Cio setiap hari. Belum lagi pasti banyak komentar negatif dari tetangganya.
Akhirnya Hasna mengangguk. Dia hanya tinggal berangkat lebih pagi. Supaya saat Cio sampai di rumahnya, dia sudah berangkat ke sekolah. Hasna membuka pintu mobil, lalu turun setelah mengucapkan terima kasih kepada Cio.
Abercio langsung melajukan mobil begitu Hasna turun. Sedangkan Hasna menunggu mobil Cio menjauh baru masuk ke rumah. Ketika hendak meraih tuas pintu, Hasna tersentak karena benda tersebut lebih dulu terbuka. Wahyu menatapnya tajam sembari melipat lengan.
"Siapa itu?" tanya Wahyu dengan nada yang begitu dingin.
"Cio, Bulik." Hasna membentuk nama Cio dengan menggerakkan jemarinya.
"Pacarmu?"
__ADS_1
Hasna menggeleng. Telapak tangannya maju di depan dada dan digerakkan ke kiri dan kanan. Wahyu membuang napas kasar, kemudian mendekati keponakan satu-satunya itu.
"Na, jangan aneh-aneh! Kalau sekolah, ya sekolah aja! Nggak usah pacar-pacaran!"
"Iya, Bulik."
Hasna masuk ke kamar kemudian mulai membersihkan diri. Saat menaruh tasnya di meja belajar, dia melihat ada sebuah kotak persegi panjang di atasnya. Kotak itu dihiasi pita berwarna keemasan. Hasna mengerutkan dahi.
Apa, ini? batin Hasna.
Gadis cantik itu meraih kotak dan membaca deretan huruf yang tertulis di atas kertas kecil yang menempel di bagian belakang. Tertulis namanya. Perlahan Hasna menarik ujung pita keemasan tersebut.
Hasna terbelalak mengetahui isi dari kotak itu. Sebuah ponsel berwarna hitam. Di dalam kotak tersebut ada sebuah lipatan kertas. Hasna membuka kertas tersebut. Deretan huruf yang ditulis rapi membentuk rangkaian beberapa kalimat yang membuat gadis itu berkaca-kaca.
...----------------...
Teruntuk Hasna,
Ayahmu dulu sebenarnya pekerja keras. Dia bisa menjabat posisi Direktur di sebuah Rumah Sakit besar karena kegigihannya. Sebelumnya, ayahmu hanya lulusan SMA. Dia bekerja siang malam, berusaha mengatur keuangan agar bisa tetap menyekolahkan Bulik dan juga melanjutkan kuliah.
Ayahmu sebenarnya orang hebat. Namun, ketika dia sedang ada di puncak kejayaan, dia mendapat godaan yang begitu besar. Rasa tidak puas akan pencapaiannya, membuat ayahmu gelap mata dan menyerang pemilik Rumah Sakit, yang dulu sudah ikut andil membantunya melanjutkan kuliah.
Dia akhirnya jatuh karena ulahnya sendiri. Tak lama kemudian, seorang perempuan muda mendatangi rumah kalian. Dia mengaku sedang mengandung anak dari ayahmu. Sayangnya, hari itu ayahmu tidak sedang di rumah. Ibumu yang mendapat kabar itu, langsung depresi berat. Dia mengakhiri hidupnya sendiri.
Tak lama setelahnya, ayahmu mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawanya. Sejak saat itu, Bulik yang bertanggungjawab atas hidupmu. Berat, Hasna. Kondisi mentalku saat itu sedang tidak baik.
Aku baru saja kehilangan putra kesayanganku akibat keteledoranku sendiri. Kehilangan satu-satunya tumpuan hidupku, yaitu ayahmu. Sejak hari itu emosiku benar-benar tidak stabil. Maaf.
Maaf sudah berbohong banyak hal kepadamu. Sebenarnya ayahmu meninggalkan banyak deposit. Namun, aku tidak pernah mau mengambilnya, dan malah mengajakmu hidup dalam keterbatasan. Aku ingin mendidikmu menjadi wanita yang kuat.
__ADS_1
Tidak seperti aku dulu, yang hanya bergantung pada pemberian ayahmu. Aku baru bisa menjadi perempuan yang sedikit lebih tangguh setelah kehilangan semua. Hasna, setelah ini Bulik akan menyerahkan semua hak yang seharusnya kamu dapatkan.
Maaf ya, seharusnya kamu bisa memiliki hidup yang lebih layak. Maaf sudah membuatmu menderita selama ini. Aku sangat menyayangimu, Na.
Selamat Ulang Tahun.
Bulik Wahyu.
...----------------...
Tak terasa butir air mata kini turun membasahi pipi Hasna. Jemari Hasna gemetar hebat. Dia tak menyangka bahwa tante yang selama ini terkesan begitu kasar, ternyata sangat menyayanginya. Dia baru mengerti alasan di balik semua sikap sang tante.
Hasna meraih tuas pintu dan keluar dari kamar. Dia mencari-cari keberadaan Wahyu. Pintu rumah terbuka lebar, hujan yang tadi sudah reda kini kembali turun sangat deras. Hembusan angin membuat pepohonan seakan menari-nari. Gelegar petir menyambar angkasa sehingga membuat siapapun akan tersentak karenanya.
Hasna terus berteriak di tengah hujan, teriakan yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri. Gadis itu mencoba meneriakkan nama Wahyu, mencari keberadaan sang tante.
Tiga puluh menit sudah, Hasna berhujan-hujan demi mencari tantenya. Namun, dia tidak menemukan hasil. Gadis itu berjalan gontai kembali ke rumah. Dia baru tersadar, kalau belum mencari keberadaan Wahyu di sekitar rumah.
Mata gadis itu langsung tertuju pada kamar Wahyu yang sedikit terbuka. Dia langsung meraih tuas pintu dan membukanya. Hasna terbelalak mendapati Wahyu yang terkulai lemas di atas lantai. Hasna menangis sesenggukan dan mengguncangkan tubuh sang tante untuk membangunkan perempuan itu.
Namun, sekuat apa pun Hasna mengguncangkan tubuh sang tante, mata perempuan itu tetap terpejam. Hasna kembali berlari keluar rumah. Dia mengetuk pintu tetangga untuk meminta bantuan.
"Apa?" tanya seorang ibu-ibu dengan wajah ketus.
"Tolong Bulik, Bulik pingsan!" Hasna terus mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Tentu saja perempuan di hadapannya itu hanya mengerutkan dahi. Ketika Hasna meraih tangannya, ia ditepis kasar. Bahkan perempuan itu melontarkan umpatan kepada Hasna.
"Kamu itu ganggu saja! Pergi sana!" teriak perempuan itu sambil membanting pintu kasar.
__ADS_1
Hasna tak menyerah sampai di situ. Dia kembali mengetuk pintu tetangga yang lain. Akan tetapi, hasilnya sama. Semua yang ada di daerah itu tidak peduli. Akhirnya Hasna memutuskan untuk pulang. Dia tidak tahu harus ke mana lagi meminta bantuan.
Kini air matanya berbaur dengan derasnya air hujan. Hati gadis itu hancur seketika. Tubuhnya mulai gemetar karena dingin yang menusuk dari air hujan. Dia memasrahkan segalanya kepada Sang Pencipta. Berharap takdir Tuhan masih mengijinkan ia meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada Wahyu.