TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 29. Diusir


__ADS_3

Liontin menatap langit gelap bertabur bintang. Semilir angin malam membelai lembut wajah perempuan itu. Kembali terngiang di telinganya ucapan Cincin tadi siang. Dia menghela napas kasar.


"Pindah, ya?" gumam Liontin.


"Tapi pindah ke mana?" Perempuan itu menghela napas kasar kemudian melirik Makutha yang masih terlelap di atas kasur.


Entah mengapa tiba-tiba dia teringat kepada Reza. Dia berpikir mungkin Reza bisa membantunya untuk mencari tempat tinggal di kota. Liontin turun dari ranjang dan melangkah ke arah meja rias. Dia menyambar ponsel, berniat menghubungi Reza.


Seakan memiliki ikatan batin, justru kini benda pipih itu berdering. Deretan huruf bertuliskan nama Reza muncul pada layar yang sedang berkedip. Liontin tersenyum tipis, kemudian menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo, Kak."


"Ya, halo. Sedang apa?"


"Sedang memikirkan sesuatu."


"Memikirkanku?" Terdengar suara tawa dari ujung telepon.


Liontin tersipu malu karena tebakan Reza tepat sasaran. Keduanya berbincang ringan sambil saling melemparkan candaan. Sampai akhirnya, Liontin mengatakan bahwa dia membutuhkan bantuan Reza.


"Bantuan apa?"


"Tadi siang Mbak Cincin menyarankanku untuk pindah ke kota. Tapi aku belum tahu harus pindah ke mana."


"Wah, kebetulan sekali!" seru Reza.

__ADS_1


"Kenapa, Kak?"


"Tante Rita menyewakan rumahnya. Kalau kamu mau, nanti aku bilang sama tante."


"Benarkah?" Liontin tersenyum lebar dengan mata berbinar.


"Iya, aku akan segera menghubungimu jika tante Rita setuju."


...****************...


"Keluar! Keluar!"


Suara ribut pagi itu membuat Liontin yang sedang mengemasi barangnya terkejut. Perempuan itu langsung keluar kamar sambil menggendong Makutha. Dia mengintip dari balik tirai jendela, pemandangan puluhan warga dengan mata berapi-api sedang berkerumun di depan rumahnya.


"Hey, pelacur! Keluar!" teriak seorang warga bermana Pak Kasmin.


Liontin menelan ludah kasar, kemudian mulai melangkah keluar. Saat perempuan itu keluar bersama Makutha, teriakan mereka berhenti. Tatapan penuh kebencian jelas terpancar dari mata mereka.


"Liontin, pergi dari desa ini! Jangan bawa sial karena membawa pulang bayi haram itu!" teriak Pak Kasmin.


"Betul!" sahut seluruh warga yang ada di depan rumah Liontin.


"Dia bukan anak haram! Tidak ada di dunia ini yang namanya anak haram!"


"Kami semua mau kamu pergi dari sini!" teriak Rangga.

__ADS_1


Liontin menatap tajam ke arah mantan suaminya itu. Lelaki jahat itu menyeringai sambil melemparkan tatapan mengejek.


"Maaf, Pak Rangga yang terhormat. Kenapa Anda dan istri keduamu itu masih disini? Padahal sudah jelas-jelas melakukan perzinahan?" Sebuah senyum miring terulas di bibir Liontin. Perempuan itu dengan cepat membalikkan keadaan.


Sontak semua warga bungkam. Namun, tiba-tiba Intan maju ke barisan depan. Perempuan itu memakai singlet kaos dengan belahan dada rendah, hingga sepasang Jeruk Bali miliknya seakan hendak melompat keluar.


"Mereka tidak mengusir Rangga karena sudah banyak berkontribusi untuk desa ini! Dia sering menyumbang untuk pembangunan jalan, masjid, jembatan, dan membantu janda serta fakir miskin." Intan bergelayut manja pada lengan Rangga.


"Iya, janda kayak kamu aja yang disedekahi! Kalau jandanya udah peyot, kendor, mana mau Mas Rangga ngelirik? Apalagi kasih sedekah. Sedekah lahir batin lagi!"


"Kamu!" Intan hendak maju menghampiri Liontin, tapi ditahan oleh Rangga.


"Kita harus jaga image. Ingat, sebentar lagi kita jadi Pak Lurah dan Bu Lurah," bisik Rangga.


Intan menarik napas panjang kemudian mengembuskannya lewat bibir. "Keputusan kami semua sudah bulat, segera angkat kaki dari sini! Atau ...."


Tiba-tiba sebongkah batu menghantam dahi Liontin hingga mengeluarkan darah. Kepala Liontin berdenyut seketika. Matanya memanas karena rasa amarah yang memuncak.


"Kalian akan menyesal jika tetap memilih Rangga menjadi kepala desa! Memangnya kalian nggak tahu dari mana uang sumbangan yang diberikan Rangga?" Liontin tersenyum miring, kemudian mengatupkan gigi rapat-apa untuk menahan emosi.


"Semua itu adalah uangku! Jika tidak mendapatkan uang hasil kerja jadi babu di Taiwan, mana bisa dia membantu kalian semua dan juga janda bolong ini!" Kini Liontin melemparkan tatapan tajam kepada Intan.


"Buat makan saja ... pasti merengek ke orang tuanya!"


Mendengar ucapan Liontin membuat amarah Rangga meledak. Lelaki itu berjalan cepat ke arah Liontin. Setelah berada tepat di depannya, Rangga melayangkan tangan ke udara.

__ADS_1


"Tunggu!"


__ADS_2