
"Aku tidak setuju!"
Liontin dan Reza menoleh ke arah pintu. Cincin melangkah mendekat sembari menggandeng jemari mungil Nana. Dia menatap tajam ke arah adiknya dan juga Reza.
"Liontin kenapa kamu bohong sama Mbak?"
Liontin tertunduk penuh penyesalan. Sebenarnya hari ini dia ingin mengungkapkan kebenarannya. Namun, takdir Tuhan mendahuluinya. Cincin justru mengetahui semuanya sesaat sebelum dia akan membongkar semua kebohongannya beberapa bulan terakhir.
"Maaf, Mbak. Sebenarnya hari ini aku ingin mengungkapkan semuanya. Makanya aku minta Mbak datang ke sini."
"Ontin, sebenarnya kamu anggap Mbak ini apa?" Suara Cincin sedikit bergetar karena menahan tangis.
Liontin bungkam tak bisa berkata-kata. Dia tertunduk lesu sambil terus berusaha menimang Makutha yang masih menangis.
"Reza, pergilah. Aku ingin menyelesaikan urusanku dengan Liontin. Setelah ini, aku akan menghubungimu dan Tante Risa untuk menyelesaikan masalah pernikahan kalian."
Reza berjalan gontai meninggalkan kamar kos Liontin. Setelah pintu kamar tertutup, Cincin duduk di atas kasur busa dan meminta Nana untuk mengajak Makutha bermain.
"Kak Nana, ajak Dedek Utha main dulu, ya? Ibu sama Bulik mau bicara sebentar." Cincin tersenyum lembut kemudian mengusap puncak kepala putrinya.
__ADS_1
Nana mengangguk patuh. Liontin meletakkan bayinya yang sudah tenang ke atas bouncer. Nana berjalan menghampiri Makutha yang kini sedang berusaha meraih mainan di atasnya. Liontin menunduk lesu lalu duduk di depan Cincin.
"Apa kamu melupakan pesan Mbak beberapa bulan lalu?"
"Aku hanya tidak ingin membuat Mbak Cincin semakin terbebani." Bulir air mata kembali menetes di pipi Liontin.
"Coba ceritakan dari awal, kenapa rencana pernikahan kalian batal."
Liontin mengusap air mata kemudian menatap sang kakak. Dia mulai menceritakan rangkaian kejadian yang menimpanya. Cincin tak menyangka Rangga juga terlibat dalam kecelakaan yang dialami Reza.
"Apa maunya?" Cincin melipat lengan di depan dada sambil mendengus kesal.
"Mungkin saja memang itu alasan utamanya."
Liontin mengerutkan dahi kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Cincin. Perempuan itu mengusap air matanya, kemudian memfokuskan perhatian pada sang kakak yang mulai menceritakan semua hal yang terjadi di kampung mereka.
"Saat kamu diusir, warga baru sadar kalau mereka telah melakukan kesalahan besar. Saat pemilihan berlangsung mereka semua tidak ada yang memilih Rangga." Cincin tersenyum miring kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
"Intan pergi dari kampung itu meninggalkan Rangga. Beberapa hari kemudian, dia ditemukan Kang Dalimin dalam keadaan gila."
__ADS_1
"Astaga!" Liontin membekap mulutnya dengan mata terbelalak.
"Setelah diperiksakan ke Psikiater, dia seperti itu karena depresi. Gagal dalam pemilihan Kepala Desa, dan baru menyadari tidak bisa mengandung karena terdapat kanker ganas dalam rahinya."
Liontin tak menyangka Rangga dan Intan begitu cepat mendapatkan ganjaran setimpal. Liontin mengembuskan napas kasar. Ada secuil rasa kasihan kepada dua orang yang sudah menyakitinya itu. Namun, takdir Tuhan memang adil. Hukum Tanam-Tuai selalu berlaku kepada siapa pun tanpa terkecuali.
"Tapi ... apa yang Mas Rangga dapat dengan mencelakai Kak Reza? Apa semuanya akan kembali seperti semula?"
"Liontin, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama denganmu. Mungkin saja Rangga berpikir dengan mencelakai Reza dan membuat pernikahanmu batal, kalian bisa merasakan sakit serta kekecewaan yang ia rasakan?"
"Tapi ... bagaimana bisa Mas Rangga mengetahui mengenai masa lalu Reza dan Tante Risa? Aku tetap merasa ada yang janggal tentang hal ini, Mbak." Risa menautkan alisnya.
"Masa lalu bagaimana?"
"Aku juga tidak tahu dengan jelas. Mas Rangga bilang, Tante Risa mau merestui karena ingin menggunakanku untuk membalas dendam masa lalunya. Itu yang membuat hatiku patah seketika." Liontin kembali berkaca-kaca teringat ucapan terakhir Risa saat mereka menemui Rangga di Kantor Polisi.
"Hubungi Reza! Kita temui dia sekarang juga!"
Liontin meraih ponselnya yang ada di atas meja rias kemudian mulai menggulir layar benda pipih utu untuk mencari nomor Reza. Belum sampai dia menekan tombol telepon, pintu kamarnya kembali diketuk. Liontin dan Cincin saling melemparkan tatapan.
__ADS_1
"Sebentar, Ontin buka pintu dulu, Mbak."