
"Ara kenapa?" tanya Liontin panik.
"Bu-Bunda ... ta-tadi Diandra ...." Tiara berusaha menceritakan apa yang Andra lakukan sampai gadis kecil itu menangis.
"Andra kenapa, Ara?" Liontin menangkup wajah sang putri sembari mengusap bulir bening yang masih mengalir deras dari matanya.
"Andra tadi ngasih liat ke Ara gambar kartun telanjang!" Susah payah Tiara mengucapkan kalimat itu di antara isak tangisnya.
Sontak tiga orang dewasa yang ada di ruangan itu terbelalak. Gala mendekati putranya kemudian duduk di samping bocah kelas enam SD tersebut.
"Benar begitu, Andra?" Suara Gala terdengar dingin dan mengintimidasi.
Andra hanya menunduk lesu. Tak berani menatap wajah sang ayah. Keringat dingin mengucur membasahi punggung, dan telapak tangannya mulai basah.
"Jawab Papa."
"Iya, Pa. Maaf. Habisnya tadi Tiara masuk ke kamar dan memaksaku untu memperlihatkan apa yang sedang aku lakukan," jelas Andra lesu.
"Astaga, Andra ... ba-bagaimana bisa kamu ...." Gala mengusap wajahnya kasar. Lelaki itu sampai kehabisan kata-kata kareba mengetahui sikap sang putra yang sudah tidak wajar itu.
"Habisnya, Andra cuekin Ara, Om. Niatnya Ara mau rebut hapenya biar mau main sama-sama. Tapi malah dia kasih lihat gambar itu." Tiara kembali menangis tersedu-sedu karena teringat sikap temannya itu.
"Andra, nanti kita bicara lagi setelah ini." Gala menatap tajam ke arah sang putra. Rahang lelaki itu mengeras hingga memperlihatkan urat leher yang menegang.
Gala menahan diri agar amarahnya tidak meledak. Terlebih lagi sekarang ada orang lain di sana. Gala berprinsip untuk tidak memarahi kedua putranya di hadapan orang lain, karena bisa menjatuhkan mental mereka.
"Sekarang minta maaf sama Tiara!" seru Gala.
Diandra melangkah gontai mendekati Tiara. Bocah laki-laki itu mulai mengulurkan tangan dan terbata-bata ketika mengucapkan permintaan maaf.
"Ara, ma-maaf, ya? A-aku janji nggak akan mengulanginya lagi. Kita masih berteman, 'kan?"
__ADS_1
Tiara mengangguk, awalnya dia ragu untuk meraih jemari Diandra. Namun, Liontin tersenyum lembut dan mengangguk agar sang putri mau memaafkan sikap tidak sopan Diandra.
"Janji, ya? Jangan baca komik seperti itu lagi ... aku nggak suka!" Ujung bibir Tiara melengkung ke bawah dan tangan kirinya mengusap sisa tangis.
Andra mengangguk mantap, kemudian tersenyum lebar. Akhirnya mereka semua turun ke ruang keluarga. Diandra dan Tiara bermain playstation, sedangkan para orang tua menikmati kudapan sambil ngopi.
Tak lama kemudian terdengar suara motor masuk ke halaman rumah mereka. Liontin mengintip dari balik jendela, Makutha dan Abercio berboncengan menggunakan motor bebek kesayangan sang putra.
"Mereka pulang!" seru Liontin.
Ketika Makutha membuka pintu, Liontin menyambutnya dengan senyum merekah. Rasa rindu terhadap sang putra meluap dan kini Liontin menghambur ke pelukan Makutha.
"Kamu ... kok, nggak pulang-pulang, Tha? Bunda kangen!"
"Ah, itu ... Utha ...." Makutha menghentikan ucapannya. Dia sebenarnya sudah nyaman tinggal sekamar dengan Cio. Akan tetapi, jika mengungkapkan hal itu pasti akan menyakiti hati sang ibu.
"Kami kebetulan ada kerja kelompok akhir-akhir ini. Jadi biar cepat selesai, rencananya Makutha pulang nanti saja setelah semuanya beres." Makutha terpaksa berbohong demi menjaga perasaan sang ibu.
"Iya, Bunda." Makutha tersenyum kecut kemudian beranjak pergi.
"Permisi, Om ... Tante," pamit Abercio kemudian setengah berlari menyusul Makutha.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah kembali berkumpul di ruang keluarga. Liontin menyikut Reza sebagai kode agar sang suami membuka pembicaraan. Gala dan Abercio hanya diam menatap keluarga kecil yang sudah akrab dengan mereka itu. Reza berdeham sekali sebelum akhirnya berbicara.
"Utha, Ayah minta maaf karena sudah bersikap kasar kepadamu waktu itu."
Makutha menatap intens sang ayah dan memasang telinga baik-baik. Dia berpikir paling hanya wejangan biasa yang akan ia dapatkan setelah kabur dari rumah. Reza selalu menasehatinya tanpa mau instrospeksi diri, kenapa sang anak sampai kabur dari rumah.
"Kita pulang, ya? Ayah menyesal." Reza tertunduk lesu kemudian membuang napas kasar.
"Jika kamu mau, bisakah mengungkapkan apa yang menjadi alasan ... kenapa kamu sering pergi dari rumah ketika berselisih dengan Ayah?" Reza menatap sendu putranya itu.
__ADS_1
Makutha tertegun. Hatinya terasa nyeri mendengar pertanyaan sang ayah. Baru kali ini Reza peduli dengan apa yang ia rasakan. Remaja tampan itu membuang muka untuk menyembunyikan matanya yang mulai basah.
"Utha, katakan apa kesalahan Ayah. Apa ada sesuatu yang membuatmu merasa tidak nyaman? Bahkan terakhir kali kamu mengungkit bahwa kamu bukan putraku. Kenapa?"
"Karena Ayah memperlakukanku berbeda! Ayah kasar kepadaku! Sedangkan pada Tiara, tidak!" teriak Makutha.
"Tiara itu perempuan, Nak. Beda perlakuan saat dia melakukan kesalahan. Terlebih lagi, Ayah hanya ingin menyadarkanmu dengan cara yang lebih cepat. Agar tidak mengulanginya di kemudian hari!"
"Jadi, karena aku seorang laki-laki pantas mendapatkan perlakuan kasar dari Ayah? Yah, asal Ayah tahu ... pukulanmu tiga tahun lalu bukan hanya membuat tubuhku yang sakit. Tapi, juga hatiku ikut sakit, Yah!" Makutha menunjuk dadanya sendiri sambil terus menahan air mata.
"Dan Ayah terus menggunakan kekerasan setiap aku melakukan kesalahan. Itu terus berulang sampai sekarang. Bukankah kita bisa berbicara dari hati ke hati untuk menyelesaikan masalah? Bukan malah menggunakan kekerasan?"
Hati Reza mencelos mendengar ucapan sang putra. Dia berpikir sejenak dan mengingat setiap momen pertikaian ketika Makutha pergi dari rumah. Setelah diingat lagi, ternyata apa yang diucapkan Makutha benar. Dirinya begitu sering mengakhiri perselisihan di rumah dengan kekerasan, dan setelahnya Makutha akan pergi dari rumah.
Reza tertunduk lesu, seakan ada beban berat yang menimpa punggungnya saat ini. Dia mengusap wajah kasar, lalu kembali menatap Makutha. Mata putranya itu memerah dan basah menahan air mata. Liontin beranjak dari kursi, kemudian menghampiri Makutha serta memeluk putra kesayangannya itu.
"Menangislah, jangan ditahan. Maafkan Bunda juga, ya. Karena tidak bisa memahami luka yang sudah kamu tahan selama bertahun-tahun."
Tangis Makutha seketika pecah mendengar ucapan Liontin. Dadanya terasa ngilu, tapi juga lega di saat bersamaan. Lelaki itu memeluk erat tubuh sang ibu. Reza mengucek mata untuk menyamarkan bulir bening yang berdesakan ingin keluar.
"Apa ada yang menabur bawang di sini?" gumam Gala sambil mengusap ingusnya yang mulai mengintip dari lubang hidung.
Abercio tersenyum geli melihat sikap sang ayah. Dia menyembunyikan senyumnya di balik telapak tangan. Bahunya bergetar karena menahan tawa. Menyadari sang putra sedang menertawakannya, Gala menatap tajam ke arah Abercio. Cio tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. Dia mengangkat tangan sambil membentuk V-line dengan telunjuk dan jari tengahnya.
...****************...
Pesan apa yang kalian dapatkan dari Bab kali ini?
Sambil nunggu TKI update mampir juga, yuk. Ke karya salah satu bestie Chika. Baru aja keluar dari oven loh!
__ADS_1