
Suasana rumah begitu sepi malam ini. Reza melangkah masuk ke kediamannya dengan hati-hati, karena takut mengganggu jam tidur sang istri. Rasa lapar pada perut membuatnya langsung menuju meja makan.
Di atas meja sudah terhidang berbagai makanan kesukaannya. Lelaki itu makan dengan tenang sambil sesekali mengecek surelnya yang berisi beberapa pekerjaan. Tepat ketika hendak memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut, Liontin tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Astaga! Kaget aku!" teriak Reza hingga sendok yangbia genggam jatuh ke atas lantai.
Liontin menatap tajam sang suami sembari melipat lengan di depan dada. Reza meminum seteguk air untuk menyiram minyak yang bersarang di kerongkongan usai menyantap rendang ayam kesukaannya. Namun, belum selesai dia melunturkan minyak itu, Reza tersedak.
"Kamu selingkuh, ya, Yang!" seru Liontin tiba-tiba.
Reza tentu saja terkejut bukan main. Tidak ada hujan dan angin, tiba-tiba dia mendapat tuduhan dari sang istri. Reza mengerutkan dahi sambil terbatuk-batuk. Lelaki itu kembali meraih gelas berisi air putih untuk meredakan batuk. Setelah sedikit lebih tenang, dia berjalan mendekati Liontin.
"Kamu kenapa, Sayang? Suami baru pulang kerja, kok, langsung nuduh nggak jelas?" Reza mulai mendekati sang istri dan meraih lengan atasnya hendak memeluk Liontin.
"Pulang kerja apa pulang dari rumah selingkuhanmu!" teriak Liontin histeris sambil menepis lengan sang suami.
Air mata perempuan itu mulai bercucuran membasahi pipi. Dadanya kembang kempis karena rasa sesak yang teramat sangat. Reza tidak menyerah sampai di situ. Lelaki itu kembali memeluk sang istri, Liontin terus meronta sambil berteriak seperti orang kesetanan.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku, Kak! Lepas! Aku nggak mau disentuh oleh tangan sang sama saat kamu menyentuh wanita lain!"
"Sssttt ... tenang dulu, Sayang. Aku jelasin semuanya, ya? Kamu mau 'kan dengerin penjelasanku?" bujuk Reza dengan suara lembut.
Akhirnya Liontin diam dan tidak berontak lagi. Reza tetap memberikan pelukannya agar sang istri menjadi lebih tenang. Dia mengusap lembut punggung sang istri sambil sesekali mengecup puncak kepalanya.
Setelah tangis Liontin berhenti, Reza mengajaknya untuk duduk di sofa ruang tengah. Lelaki itu memberikan dada bidangnya untuk menjadi sandaran kepala Liontin. Dia menautkan jemarinya pada jari-jari lentik sang istri.
"Kenapa? Kok tiba-tiba nuduh aku selingkuh?" tanya Reza sambil mengusap lembut puncak kepala sang istri.
"Coba lihat mana fotonya?"
Liontin memberikan ponsel yang sejak tadi ia genggam, kemudian menunjukkan pesan yang ia terima beberapa waktu lalu. Reza meraih benda pipih itu, dan mengamati foto dirinya dan Berlian yang diambil dari sisi kiri.
Potret tersebut menunjukkan wajahnya secara jelas, tetapi tidak dengan muka Berlian. Reza tersenyum miring kemudian meletakkan benda pipih itu ke atas meja.
"Mau jawaban jujur, apa bohong?" tanya Reza sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kamu kok malah ketawa sih, Yang!" Liontin melepas pelukan sang suami sambil bersungut-sungut.
"Habisnya kamu kalau lagi cemburu lucu."
"Jadi, gimana penjelasannya?"
"Wanita itu Berlian. Dia hampir saja tertabrak mobil tadi. Nggak sengaja aku lewat, dan menolongnya," jelas Reza dengan nada setenang permukaan rawa.
"Berlian kan mantan pacarmu! Berarti beneran kamu selingkuh!" Tangis Liontin kembali meledak.
Reza sampai geleng-geleng kepala karena melihat sikap ajaib sang istri kali ini. Liontin akhir-akhir ini terlihat lebih sensitif dari biasanya, seiring gejala Sindrom Couvade yang mulai menghilang dari diri Reza. Lelaki itu menarik pelan pergelangan tangan sang istri kemudian kembali memberinya pelukan.
"Ya, nggak begitu juga. Aku berulang kali menjelaskan kalau dulu aku hanya main-main sama dia. Nggak beneran cinta. Jangankan cinta, rasa suka pada Berlian secuil pun tak ada dalam hatiku."
"Aku nggak percaya!"
"Ya sudah, besok kita temui Berlian. Biar dia juga menjelaskan apa yang sebenarnya tadi terjadi. Udah, ya, nangisnya? Kita bobok, yuk! sudah malam. Aku capek, besok ada rapat penting."
__ADS_1