TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 18: Hujan


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak kejadian terungkapnya siapa dalang di balik pencurian ponsel milik Rachel. Ada satu hal yang mengganjal di hati Cio. Makutha, si manusia super cuek terlihat begitu antusias mengungkapkan kebenaran tersebut.


Biasanya sahabatnya itu bersikap begitu acuh dan terkesan tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Akan tetapi, tidak dengan hari itu. Dia mati-matian mengungkapkan apa yang ia tahu, bahkan sampai mendapatkan hukuman karena mengaku sudah membolos saat kejadian.


"Hei, kenapa ngelamun?" tanya Makutha sembari menepuk bahu Cio.


"Kampret!" seru Abercio sambil mengusap dada bidangnya.


"Ngelamunin apa? Masih pagi, udah melamun jorok!" goda Makutha.


"Enak aja!" Cio mengerucutkan bibir sambil memalingkan wajah.


Makutha bertopang dagu di atas meja sambil menatap serius ke arah Cio. "Kamu ada masalah apa?"


"Nggak ada."


"Jangan bohong. Kita sudah temenan sejak menetas. Jadi, aku paham betul sifatmu. Cerita aja kalau ada yang mengganjal."


Cio mencondongkan tubuhnya ke arah Makutha. Dia menatap serius sang sahabat. Lelaki itu berdeham dua kali sebelum akhirnya berbicara.


"Tha, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanya saja."


"Apa alasan kamu mengungkapkan bahwa Hasna tidak bersalah waktu itu?" tanya Cio.


Makutha mengerutkan dahi. Dia diam dan justru membuang muka. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada kursi serta mengangkat satu kaki ke atas paha. Dia membuka botol air mineral lalu meneguk isinya perlahan.


"Apa kamu suka sama Hasna?"


Makutha yang terkejut dengan pertanyaan tak terduga sang sahabat, menyemburkan air mineral tersebut ke wajah Cio. Cio sampai memejamkan mata karena reflek agar air tersebut tidak masuk mata. Rahangnya mengeras karena sikap menjijikkan dari sahabatnya itu.


"Eh, sorry nggak sengaja aku!" Makutha mencoba mengelap wajah Cio dengan sapu tangan miliknya.


"Sengaja, sih kalau ini!" gerutu Cio sambil meraih sapu tangan sang sahabat.


Lalu Cio mengeringkan wajah dengan sapu tangan milik Makutha. Setelah selesai, laki-laki itu menatap tajam ke arah sang sahabat. Dia menghela napas kasar dan mulai membicarakan maksud dari pertanyaannya.

__ADS_1


"Gini, lo, Tha. Aku tahu sekali bagaimana sifatmu. Kamu itu tipe manusia yang nggak pernah peduli sama orang lain. Tapi, kenapa saat Hasna menghadapi masalah, kamu membantunya?" Cio menyipitkan mata berusaha mendapatkan jawaban jujur dari Makutha.


"Mmm ... i-itu ... karena." Makutha terlihat berpikir keras, dia mencoba mencari alasan yang tepat agar sahabatnya itu tidak bertanya lebih banyak lagi.


"Ah, aku mulai bertekad untuk menegakkan keadilan mulai hari ini! Aku ingin jadi seorang hakim! Melihat kejadian hari itu, menggugah hatiku untuk terus membela kebenaran dan menumpas kejahatan!" Makutha tertawa konyol memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Benarkah? Bukankah hal itu kamu lakukan karena kamu menyukai Hasna?"


"Nggaklah! Ada-ada aja kamu!" sanggah Makutha sambil tertawa canggung.


Sebuah senyum lebar kini terukir di bibir Cio. Dia bertopang dagu sambil tersenyum lebar. Ada sebuah kelegaan tersendiri di hati lelaki itu. Jika Makutha sudah mengatakan hal itu, artinya dia tidak perlu mempertaruhkan persahabatannya hanya untuk seorang perempuan.


"Artinya, aku boleh memperjuangkan perasaanku kepada Hasna, ya?"


"Ya?" Makutha mengerutkan dahi.


"Aku menyukai Hasna. Jika kamu tidak menyukainya, biarkan aku mengejar cintanya. Kalau perlu bantu dan dukung aku, ya?" ucap Cio optimis sembari menepuk lengan atas Makutha.


Makutha tertegun. Sebuah penyesalan kini bergelayut di hatinya. Kenapa dia harus mengingkari perasaannya sendiri? Jika pada akhirnya kini dia merasakan nyeri yang luar biasa. Walaupun berat, akhirnya Makutha mengangguk.


...****************...


Terkadang Hasna melakukan hal ini untuk menenangkan diri. Ketika ia butuh ketenangan pasti akan menyimpan alat bantu dengarnya ke dalam saku. Ketika Wahyu mengomel pun dua sering melepaskan alat tersebut secara diam-diam. Hasna tersenyum tipis mengingat hal itu.


Menjadi tunarungu terkadang menjadi anugerah tersendiri untuknya. Dia tidak perlu mendengarkan hal-hal yang bisa menyakiti hati. Mungkin ini adalah cara Tuhan menjaga hatinya.


"Hasna!" panggil Makutha dari dalam mobil.


Hari itu Makutha dijemput oleh sang ibu. Entah mengapa semesta seakan mengirimkan sinyal untuknya. Motor kesayangan lelaki itu tiba-tiba mogok. Jadi, pagi tadi Makutha diantar oleh sang ibu.


"Hasna!" teriak Makutha lagi.


Akan tetapi, Hasna masih bergeming. Dia asyik menatap bulir bening yang turun membasahi tanah. Makutha berdecak kesal, dan mulai turun menghampiri Hasna.


"Heh, Na!"


Hasna mengerjap berulang kali, lalu mendongak. Dia mengeluarkan alat bantu dengarnya dari saku, lalu memasangnya kembali ke telinga.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Hasna dengan bahasa isyarat.


"Kamu mau ikut sama kami, nggak? Aku kebetulan dijemput Bunda!" Makutha menunjuk ke arah mobil dengan ibu jarinya.


Jendela mobil masih terbuka lebar, sehingga sosok Liontin jelas terlihat ketika Hasna menoleh ke arahnya. Perempuan itu melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Hasna membalas senyuman Liontin dengan mengangguk.


"Gimana? Ayo, ikut kita aja. Takutnya udah nggak ada angkot lagi. Sudah sore, loh ini!" Makutha melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Nggak usah. Aku nggak mau merepotkan kalian."


"Nggak repot, ayo! Nanti keburu bulikmu itu mencak-mencak (mengamuk, marah-marah)," ucap Makutha sembari terkekeh.


Lelaki itu sudah membayangkan bagaimana ekspresi Wahyu jika mengetahui Hasna tidak segera pulang. Hasna menautkan kedua alisnya sambil mengerucutkan bibir.


"Ayo, ikut kami. Nanti kami antar pulang!" teriak Liontin dari dalam mobil.


Hasna mengangguk, dan hendak melangkah ke dalam mobil. Makutha sudah bersiap dengan melepaskan jaket yang ia pakai, untuk melindungi Hasna dari guyuran air hujan. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah mobil sedan lain berwarna perak mendekat dan membunyikan klakson.


Saat si pemilik mobil menurunkan kaca jendelanya, barulah mereka tahu bahwa si pemilik mobil mewah itu adalah Cio. Hari ini Cio mulai diijinkan untuk mengendarai mobil sendiri ketika pergi ke sekolah. Dia sudah resmi memiliki Surat Ijin Mengemudi, sehingga Bintang memperbolehkannya menyetir sendiri mobil yang sudah ia belikan sejak lama.


"Aku menyukai Hasna. Jika kamu tidak menyukainya, biarkan aku mengejar cintanya. Kalau perlu bantu dan dukung aku, ya?"


Ucapan Abercio beberapa hari lalu kembali terngiang-ngiang di telinga Makutha. Lelaki itu tersenyum kecut, lalu kembali memakai jaketnya.


"Kamu sama Cio aja, ya? Rumah kalian lebih dekat dan juga searah." Makutha berusaha menenangkan hatinya.


Makutha berpikir, Abercio mulai mendekati Hasna sesuai dengan apa yang ia inginkan. Makutha harus mengalah. Dia tidak mau persahabatan mereka hancur hanya karena masalah cinta monyet.


"Ayo, kita pulang sekarang keburu sore." Cio kembali melambaikan tangan.


Hasna pun mengangguk. Dia melambaikan tangan kepada Liontin dan Makutha, lalu setengah berlari menuju mobil Cio yang pintunya sudah terbuka lebar. Mobil Cio mulai melaju membelah hujan. Makutha masih bergeming menatap kendaraan itu sampai tidak terlihat lagi.


...****************...


Awal bulan depan author rilis novel baru loh!


Mohon dukungannya ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2