
Makutha tertunduk lesu ketika berada di kantor polisi. Dia kembali teringat Cio yang tersungkur di atas tanah dengan bersimbah darah. Rasa bersalah merasuk di dada lelaki itu. Dia terus menyalahkan diri. Jika saja tadi dia kabur begitu saja mengikuti kemauan Cio, pasti kejadian buruk ini tidak akan terjadi.
"Siapa di antara kalian yang memulai kericuhan ini!" desak seorang polisi bernama Arjun.
Kesepuluh pemuda itu saling tatap. Hanya Makutha yang pandangannya kosong. Pikirannya tengah mengembara, memikirkan nasib sang sahabat. Lamunan Makutha terhenti ketika Arjun menggebrak meja.
"Kamu! Jangan melamun! Apa yang kamu pikirkan!" bentak Arjun pada Makutha.
Makutha mendongak, menatapnya sekilas, kemudian kembali tertunduk lesu. Dia mengucapkan kata maaf, dan kembali menatap ujung sepatu. Tangan Makutha masih penuh noda darah yang sudah mengering. Kemejanya juga terlihat merah.
"Cepat siapakah otak dari aksi tawuran ini!" cecar Arjun.
"Dia, Pak." Liam menggerakkan lengannya kemudian menunjuk Makutha yang sedang duduk di depan meja penyidik.
Alex dan Hendry sontak menatap Liam. Keduanya menatap sinis lelaki berkulit putih tersebut. Arjun mengerutkan dahi, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Makutha.
"Temanmu itu, mengatakan bahwa kamu otak dari rencana penyerangan ini. Benar begitu?" bisik Arjun.
Mata Makutha kini membulat sempurna. Dia langsung berdiri dan balik kanan. Lelaki itu menghampiri Liam, lalu meraih kerah kemejanya.
"Bajingan, kamu Liam! Aku bahkan berusaha menghentikan kalian untuk mengadakan penyerangan! Bagaimana bisa kamu memutar balikkan fakta!" teriak Makutha. Napas lelaki itu mengembus berat, menyapu wajah Liam.
Liam menyeringai sambil menyipitkan mata. Geng Cantul pun menyeringai, seakan menertawakan keretakan pertemanan geng musuh mereka. Alex dan Hendry tidak bisa menyanggah atau membela Makutha.
Keduanya takut, karena Liam adalah putra dari Walikota tempat mereka tinggal. Bisnis keluarga mereka akan kesulitan mendapatkan ijin, jika berani macam-macam dengan Liam. Alex dan Hendry tertunduk dalam.
"Alex, Hendry, katakan sesuatu! Kenapa kalian diam saja!" teriak Makutha frustrasi.
"Pak, mereka bahkan mengancam saya! Jika tidak ikut dalam penyerangan ini, mereka akan mencelakai teman perempuan saya, Pak!" Makutha mulai meneteskan air mata.
__ADS_1
Dada lelaki itu bergemuruh hebat karena rasa kesal yang berkecamuk di dalamnya. Makutha meneteskan air mata karena emosinya naik hingga ubun-ubun. Lelaki itu selalu begitu. Akan berlinangan air mata jika sudah sangat marah. Dia meluapkan emosinya dengan menangis.
Arjun memerintahkan bawahannya untuk memasukkan sebelas pelajar itu ke dalam sel. Makutha meronta, karena tidak terima dengan tuduhan Liam dan juga teman yang lain. Namun, setelah Arjun menasehatinya, dia sedikit lebih tenang. Makutha menyandarkan tubuhnya pada dinding dingin penjara.
"Liam, kamu kenapa menunjuk Makutha? Kasian dia," bisik Alex kepada Liam sambil melirik Makutha yang terduduk lesu dengan tatapan kosong.
"Kamu gila? Cuma dia yang bisa dijadikan tersangka! Dia ketua kelompok kita! Artinya dia yang harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada kelompok ini." Liam menatap tajam Alex dan Hendry bergantian.
"Lagi pula, apa kalian mau segala fasilitas yang orang tua berikan ditarik kembali? Kalau aku lebih baik mengorbankan satu orang, daripada harus mengakui kesalahan kita bertiga!" Liam menatap sinis ke arah Makutha sambil tersenyum miring.
Hendry hanya terdiam. Dia menatap nanar Makutha. Sebenarnya dia ingin sekali membeberkan kebenaran mengenai kejadian tersebut. Akan tetapi, dia tidak memiliki keberanian. Terlebih lagi akhir-akhir ini orang tuanya sedang memiliki masalah keuangan karena dana perijinan yang membengkak.
Jika Hendry berani menyenggol Liam, bisa dipastikan usaha sang ayah akan langsung gulung tikar karena tersendat masalah perijinan. Lelaki itu mengembuskan napas kasar, kemudian menenggelamkan wajahnya di antara paha dengan lengan sebagai tumpuan.
"Lapor, Pak! Korban di TKP dinyatakan meninggal!"
"Sial! Kita kehilangan satu saksi!" umpat Arjun.
"Pak! Tolong lepaskan saya! Saya tidak bersalah! Bahkan lelaki itu memukul Cio! Kenapa Anda tidak segera menindak tegas lelaki brengsek itu!" teriak Makutha sembari menunjuk lelaki bertubuh besar dengan wajah beringas, yang sedang menunjukkan wajah tak bersalah.
"Diamlah! Kalau saja kamu tidak menghasut teman-temanmu, kejadian ini tidak akan terjadi!" seru Arjun yang tetap duduk di kursinya sambil menghubungi pihak Rumah Sakit.
Lelaki bertubuh besar itu tertawa cekikikan. Bahunya sampai bergetar karena tawa yang pecah. Mendengar lelaki bernama Toni itu tertawa, sontak membuat darah Makutha seakan mendidih. Dia langsung menghampiri Toni dan melayangkan tinju pada pipinya.
"Kamu sialan! Gara-gara kamu! Aku kehilangan sahabatku! Manusia macam apa kamu! Tak memiliki rasa bersalah sedikit pun, padahal sudah membunuh seseorang!" teriak Makutha.
"Hei, aku tidak sengaja memukulnya. Pukulanku bahkan tidak begitu keras! Kepalanya saja yang terlalu lembek!" Toni tertawa terbahak-bahak.
Makutha mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia hendak menghajar lelaki tak berhati itu, tetapi Hendry segera menarik lengannya.
__ADS_1
"Jangan memperkeruh keadaan, Tha!"
"Hendry! Bayangkan jika kamu ada di posisiku!" teriak Makutha dengan amarah yang meledak-ledak.
"Dipaksa mengakui sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu lakukan, dan harus kehilangan orang yang begitu berharga dalam hidup!"
"Maaf, Tha. Tapi aku juga sedang melindungi keluarga besarku! Jika aku mengaku, bisnis keluargaku akan hancur seketika," ucap Hendry lirih.
"Oh, jadi begitu. Kalian menumbalkanku untuk kepentingan kalian masing-masing! Kalian cari aman, ya, rupanya." Makutha meneteskan air mata. Giginya saling beradu hingga menimbulkan suara yang membuat ngilu.
"Ingat, suatu saat kalian juga akan saling menumbalkan satu sama lain! Aku bisa pastikan itu. Coba saja kalau kalian mendengar apa yang aku ucapkan tadi, semua kekacauan ini tidak akan terjadi!"
"Maaf, Tha." Hendry tertunduk lesu.
"Aku akan pastikan kalian semua mendapatkan ganjaran setimpal di kemudian hari!" Makutha mengabsen satu per satu sepuluh orang yang dikurung bersamanya itu.
...****************...
"Hasna, bangun, Nak." Liontin menepuk pelan pipi Hasna yang pingsan setelah mendengar vonis dokter, kalau Cio telah meninggal.
Sisa air mata masih menempel pada bulu mata lentik Hasna. Perempuan itu masih memejamkan matanya rapat. Liontin berusaha keras agar bisa membuat gadis itu kembali terbangun. Dia menyodorkan botol minyak angin di depan hidung Hasna, berharap gadis cantik itu segera terbangun.
"Bagaimana ini, Bun?" tanya Reza khawatir.
"Ayah bisa datang dulu ke kantor polisi untuk mengurus Makutha? Bunda dan Tiara akan mengurus Hasna di sini. Bintang juga sedang tak sadarkan diri sekarang. Astaga kenapa bisa sekacau ini." Liontin mengusap wajahnya kasar.
"Baiklah, kabari Ayah, kalau persiapan pemakaman Cio sudah selesai, ya?" pinta Reza.
"Pasti." Liontin mengangguk mantap kemudian Reza mengecup puncak kepala sang istri.
__ADS_1
Reza tak habis pikir bagaimana bisa Reza terlibat dalam aksi tawuran tersebut. Dia ingin sekali mengamuk sang putra. Namun, dia menekan emosi. Dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lelaki itu tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti saat terakhir kali Makutha pergi dari rumah.