TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 8: Insiden di Rumah Cio


__ADS_3

Liontin dan Reza sedang berpelukan di atas ranjang mereka. Keduanya sedang menikmati sisa pelepasan. Keringat masih bercucuran di sekujur tubuh mereka. Reza mengusap lembut puncak kepala sang istri sembari memejamkan mata.


Liontin menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar. Dia selalu bersikap seperti itu saat ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Reza yang menyadari sikap sang istri, kini melepaskan pelukannya kemudian duduk dan bersandar pada kepala ranjang.


"Kamu kenapa, Yang?"


"Boleh aku mengungkapkan isi hatiku, Yang?" tanya Liontin sembari menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.


"Boleh. Katakan saja."


Liontin menarik napas panjang sebelum mengeluarkan semua ganjalan yang ada di hati dan pikirannya. Dia mendongak agar bisa menatap wajah sang suami.


"Mengenai Makutha ... apa kamu tidak merasa terlalu keras padanya?" Liontin memainkan jemarinya di atas dada bidang sang suami.


Reza kembali mengusap puncak kepala Liontin dan mengecupnya lembut. "Aku memiliki tujuanku sendiri kenapa mendidiknya sekeras itu, Yang."


"Aku ingin dia menjadi lelaki yang lebih bertanggungjawab. Tidak malu mengakui kesalahan, dan juga menghargai perempuan." Reza tersenyum datar mengingat bagaimana perlakuan kerasnya kepada Makutha selama ini.


Reza selalu memberikan jadwal kegiatan setiap harinya, berharap kelak Makutha memiliki hidup yang teratur, dan tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Selain itu, Reza juga selalu mengingatkan putranya itu untuk menjaga sang adik. Terlebih lagi setelah kejadian beberapa tahun yang. Reza semakin ketat menjaga sang putri agar tidak kembali mengalami hal yang sama.


"Makutha sudah meminta maaf sama Hasna, Yang. Hasna juga sudah memaafkannya. Kamu lihat kemarin lusa? Ada raut penyesalan pada wajah putra kita." Liontin menerawang kembali teringat bagaimana gurat penyesalan tampak jelas pada wajah putra satu-satunya itu.


"Tetapi kenapa dia meminta maaf setelah dipanggil guru? Kenapa sebelumnya enggan meminta maaf?"


"Mungkin Makutha malu, atau menunggu waktu yang tepat untuk meminta maaf, Yang."


Liontin berusaha membela sang putra dari sudut pandangnya, agar sang suami mau membuka hatinya. Sebenarnya dia juga berharap agar Reza meminta maaf kepada Makutha atas sikap kasarnya beberapa hati lalu.


Perempuan itu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Makutha selama ini. Beberapa tahun belakangan, jika ada masalah dengan sang ayah, Makutha pasti lebih memilih menghindar. Selalu berulang seperti itu. Semuanya akan berakhir damai, tetapi tidak pernah ada penyelesaian berarti.


Makutha pulang lagi untuk meminta maaf. Akan tetapi kejadian itu terus berulang. Ada masalah dengan Reza, Makutha pergi. Kembali beberapa hari kemudian, lalu meminta maaf.

__ADS_1


"Yang, apa Sayang nggak ada niatan buat minta maaf sama Makutha. Kemarin lusa kamu sampai menampar anak itu."


"Habisnya aku kesal, Yang. Dia malah mengungkit kalau dia bukan anakku. Padahal bagiku dia sudah seperti darah daging sendiri!" Reza mendengus kesal.


"Mari besok kita jemput Makutha dan membicarakan ini semua dengan kepala dingin. Kita cari tahu penyebab kenapa putra kita itu berubah menjadi sosok yang menurutmu sulit diatur. Mungkin kita juga ikut andil dalam perubahan sikapnya itu, Yang." Liontin melingkarkan lengannya pada pinggang sang suami.


Reza tertegun. Dia mencoba kembali mengingat-ingat jikalau ada sesuatu yang sudah membuat sang putra berubah menjadi pembangkang beberapa tahun terakhir. Namun, ia tidak merasa telah melakukan kesalahan.


Keesokan harinya, Reza dan Liontin beserta Tiara mengunjungi rumah Bintang. Mereka berharap bisa membujuk sang putra untuk kembali ke rumah. Mobil sedan milik Reza berhasil terparkir mulus di halaman rumah Bintang dan Gala.


Seorang lelaki seumuran Reza keluar dari dalam rumah menghampiri ketiganya dengan senyum merekah. Lelaki itu terlihat masih memesona di usianya yang menginjak 40 tahun. Tubuhnya masih terjaga dengan baik. Dulu, Gala merupakan seorang model dan juga aktor terkenal pada masanya. Namun, karena suatu kejadian dia terpaksa mundur dari dunia hiburan dan membuka sekolah modeling di kota kecil ini.


"Halo! Apa kabar, Za!" Gala merentangkan tangan untuk memeluk ayah dari Makutha itu.


"Baik, Pak! Makin seger aja, nih!"


"Bisa saja! Halo Tiara, makin cantik aja, Sayang!" Gala mencubit gemas pipi bulat Tiara.


"Om Gala genit!"


Liontin, Reza, dan Gala terbahak-bahak mendengar celotehan gadis yang baru duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar itu. Gala mengajak mereka semua masuk dan meminta pembantu menyiapkan minuman dan beberapa camilan.


"Maaf, ya seadanya. Bintang masih di butik. Andra ada di atas kalau Tiara mau main sama dia." Gala menunjuk kamar Andra yang sedikit terbuka.


Tiara melirik sang ayah dan ibu secara bergantian untuk mendapatkan ijin. Sedangkan Liontin dan Reza saling menatap. Liontin menaikkan alis, dan Reza mengangguk pelan tanda setuju.


"Boleh, tapi ingat, jangan nakal. Main berdua yang akur! Pintunya dibuka lebar!" Liontin menyentuh hidung mungil sang putri dengan jari telunjuknya.


"Siap, Bunda!" Tiara mengambil posisi hormat, kemudian berlari menaiki anak tangga satu per satu.


Reza dan Liontin mulai protektif terhadap putri mereka karena gadis itu mulai beranjak remaja. Usia yang identik dengan pencarian jati diri. Keduanya tidak ingin Tiara terjerumus dalam arus yang salah, mengingat pergaulan jaman sekarang semakin gila.

__ADS_1


"Maaf, ya merepotkanmu, Gala."


"Nggak masalah, kok. Justru saya dan Bintang senang kalau Makutha menginap di sini. Rumah jadi semakin ramai."


"Bilang saja kalau memang kehadiran Makutha mengganggu kalian, ya?" ucap Liontin lembut.


"Tidak mengganggu sama sekali. Tapi, boleh aku memberi kalian saran?" Gala tersenyum tipis sambil menatap intens pasangan suami istri di hadapannya itu.


"Apa? Katakan saja." Reza mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Sebaiknya kalian bicara dari hati ke hati dengan Makutha. Aku rasa dia memiliki sesuatu yang disimpan sendiri. Jangan biasakan dia untuk pergi dari rumah ketika ada masalah. Nanti kebiasaan." Gala menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar.


"Terima kasih, nanti kami juga berencana mengobrol dengan Makutha dari hati ke hati. Sejak SMP, dia bersikap sedikit di luar kendali. Kamu tahu sendiri, 'kan? Bagaimana putraku itu sering pergi dari rumah dan menginap di sini jika sedang berselisih denganku?"


"Iya, sebaiknya begitu. Agar dia tidak terus lari dari masalah dan belajar menghadapi semua dengan kepala dingin."


Tak lama kemudian, terdengar teriakan dari kamar Andra. Liontin, Reza, dan Gala sontak saling tatap, kemudian langsung berlari menuju kamar Andra. Sesampainya di kamar bicah laki-laki itu, Tiara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Kenapa, Tiara?" tanya Liontin panik.


Tiara langsung menghambur ke pelukan sang ibu. Andra hanya menunduk sambil duduk di atas ranjang.


"Bunda .... Diandra ...."


...****************...


Kira-kira, apa ya yang bikin Tiara menangis?


Btw pada kepo nggak sih sama perjalanan cinta Bintang dan Galaksi? Keduanya juga memiliki kisah cinta yang lumayan tragis loh. Bisa baca kisahnya di sini.


__ADS_1


__ADS_2