
"Kak Reza kenapa?" Liontin mengerutkan dahi kemudian menggeleng perlahan. Perempuan itu mulai melangkah ke arah ranjang dan duduk di atasnya untuk menyusui Makutha.
Saat melihat pantulan tubuhnya di dalam cermin, betapa terkejutnya Liontin. Handuk yang ia lilitkan ke tumbuhnya ternyata hanya mampu menutupi bagian dada hingga seperempat paha saja.
"Astaga! Jadi begini penampilanku tadi saat keluar dari kamar mandi! Pantas saja Kak Reza ...." Liontin mengayunkan kedua kakinya secara cepat, sampai Makutha ikut bergerak saat menyusu.
Setelah Makutha tidur, Liontin menidurkannya di atas ranjang kemudian berganti pakaian. Perempuan itu tampak cantik dalam balutan gaun sifon berwarna baby blue dan riasan tipis bernuansa merah muda. Makutha masih terlelap sambil menghisap jempol.
"Utha capek, ya?"
Liontin memutuskan untuk keluar setelah Makutha bangun. Sambil menunggu putranya, Liontin mengecek orderan yang sudah masuk melalui aplikasi Toko Oren.
"Lumayan juga," gumam Liontin.
Ketika sedang sibuk dengan pesanan itu, terdengar suara pintu yang diketuk. Liontin membuka pintu perlahan, dan ternyata Cincin sudah melipat lengan di depan dada sambil menatapnya tajam.
"Oh, jadi begini, ya? Mau nikah tapi nggak ngabari aku!"
"Mbak Cincin?" Liontin terbelalak kemudian berlari menghindari pukulan kakaknya itu.
"Ampun, Mbak! Maaf, deh! Aku lupa!" teriak Liontin sambil terus menghindari pukulan sang kakak.
"Oh, jadi begitu, ya! Kamu sudah lupa kalau punya seorang kakak! Mau hidup sendiri kamu?" Cincin menghentikan pukulannya kemudian bersidekap sambil mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Aduh, salah ngomong lagi!" Liontin menepuk dahi kemudian mendaratkan bokongnya ke atas ranjang.
"Tin, kamu yakin mau menikah dengan Reza?"
"Memangnya kenapa, Mbak?"
Cincin mengambil napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Tatapannya kini penuh keseriusan. Dia membelai rambut panjangnya sekali lalu meraih jemari sang adik.
"Sebenarnya kemarin sebelum Reza membawamu ke kota, dia sudah meminta ijin kepadaku untuk meminangmu."
...****************...
Hari saat Liontin di usir dari kampung ....
Deru mobil Reza berhenti di depan sebuah pekarangan. Dia mematikan mesin mobil kemudian melangkah keluar dari kuda besi itu. Lelaki itu menyapa Cincin yang sedang menyiapkan dagangan untuk dibawa ke kios.
"Ada apa, Za? Pagi-pagi gini? Masuk, yuk!"
Reza mengekor di belakang Cincin, kemudian mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu. Cincin masuk ke dapur dan keluar sambil membawa segelas teh.
"Di minum." Cincin menyodorkan gelas berisi teh tubruk yang mengambang di permukaan gelas.
Reza tersenyum tipis, kemudian mulai meniup cairan berwarna coklat bening itu dan menyeruputnya perlahan. Lelaki itu berulang kali menelan ludah. Kakinya bergerak naik turun beradu dengan lantai.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Cincin tersenyum geli melihat tingkah Reza.
"I-itu, Mbak. Sebenarnya ...."
Cincin menatap intens lelaki di depannya itu. Mendapat tatapan dari Cincin semakin membuat Reza gugup. Dia sampai mengalihkan pandangan sambil mengusap tengkuk.
"Kenapa?"
"Sebenarnya, aku datang ke sini dengan maksud ingin meminta ijin untuk meminang Liontin."
"Za, kamu yakin?"
"Aku sayang sama Liontin, Mbak." Kini suara Reza terdengar mantap. Kegugupannya seakan menguap ke udara.
"Liontin itu janda anak satu. Apa kamu bersedia menerima Makutha juga? Apa kamu bisa menyayanginya layaknya anak sendiri?"
"Mbak, saat Liontin melahirkan Makutha, akulah orang yang menemaninya berjuang sampai bayi itu lahir ke dunia. Aku sudah menganggap Makutha seperti anak sendiri."
Cincin menatap ke dalam mata lelaki di hadapannya itu untuk mencari kebohongan. Namun, yang dia temukan adalah ketulusan dan kejujuran. Cincin menghela napas kasar kemudian mengangguk perlahan.
"Baiklah, jika memang kamu bersedia menerima kekurangan Liontin. Ingat pesanku ... kalau kamu belum bisa membuat seorang perempuan tersenyum bahagia, paling tidak jangan pernah membuatnya menangis."
...****************...
__ADS_1
Yang suka cerita horor jangan lupa mampir yaaa .... Makasih.