TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 6: Luka


__ADS_3

Sebuah tepukan halus di pipi membangunkan Makutha. Perlahan ia membuka mata. Pandangannya masih belum fokus sepenuhnya. Berkali-kali dia mengedipkan mata untuk mendapatkan penglihatannya.


Kini, wajah cantik dengan bingkai jilbab tengah menatapnya intens. Gurat wajahnya mencerminkan kekhawatiran yang luar biasa. Alis Hasna saling bertautan melihat Makutha tengah tergeletak tak sadarkan diri.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Hasna menggunakan bahasa isyarat.


Makutha mengerutkan dahi, karena tidak mengerti apa yang diucapkan oleh gadis di depannya itu. Hasna meraih buku catatan kecil dari dalam saku kemudian menggoreskan pena di atasnya. Sedangkan Makutha berusaha duduk kemudian memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


Kamu nggak apa-apa?


Hasna menyodorkan buku kecil itu kepada Makutha. Lelaki itu membaca deretan huruf itu kemudian tersenyum kecut. Dia berdiri lalu menghampiri motornya yang masih tergeletak di pinggir jalan. Hasna mengekor di belakang lelaki itu kemudian menarik pelan kaos yang dipakai Makutha.


"Kamu nggak apa-apa?"


Kali ini Makutha mengerti maksud Hasna, karena dia melakukan gerakan yang sama seperti tadi. Lelaki itu mendengus kesal, lalu menurunkan kick stand motornya.


"Aku sampai pingsan, kamu masih tanya aku nggak apa-apa? Kamu gila, ya!" seru Makutha kesal.


Hasna menunjuk siku Makutha yang lecet. Lelaki itu pun melihat siku dengan memutar sedikit lengannya. Darah segar mengalir dari sana. Rasa perih mulai ia rasakan karena kulitnya terkelupas.


Ayo, ikut aku!


Hasna menunjukkan buku kecil yang ada di dalam genggamannya kepada Makutha. Lelaki itu menyipitkan mata agar bisa melihat tulisan Hasna yang terbilang sangat kecil. Makutha menggeleng, menolak ajakan Hasna.


Namun, Hasna tidak menyerah. Dia langsung menarik lengan Makutha dan mengajaknya masuk ke butik tempat ia bekerja. Betapa terkejutnya Makutha saat mengetahui bahwa Hasna bekerja di butik Tante Bintang, ibu Abercio.


"Ka-kamu ngapain di sini?" tanya Makutha dengan mata terbelalak.


Kerja! Diam di sini, aku akan mengambilkan obat untukmu.


Hasna masuk ke kantor, sedangkan Makutha duduk di sofa tempat Bintang dan pelanggannya bertemu. Makutha mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut butik. Terdapat beraneka macam pakaian perempuan, beserta asesoris yang terpajang di rak dan etalase.


Ketika sibuk mengedarkan pandangan, tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang. Makutha menoleh, dan terpampanglah wajah tampan sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Abercio.


"Weh, Bro! Kacau sekali penampilanmu!" ejek Cio sambil menatap Makutha dari ujung rambut hingga ujung kaki.

__ADS_1


"Semprul!" Makutha melayangkan pukulan ke arah Cio, namun berhasil ditepis oleh lelaki itu.


"Bentar, aku ambilin kotak obat." Cio bangkit dari sofa hendak masuk ke kantor. Namun, ia dicegah oleh Makutha.


"Nggak usah! Tadi Hasna udah masuk buat ambilin obat katanya."


"Hasna?" Cio mengerutkan dahi.


Tak lama kemudian, Hasna keluar dengan membawa kota putih dengan tanda plus hitan di atasnya. Dua orang lelaki yang ada di sofa kini menoleh. Cio seketika terbelalak.


"Loh, Hasna? Nga-ngapain kamu di sini?" tanya Cio gagap.


Hasna hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Gadis itu membuka kotak berisi obat-obatan tersebut, lalu mengeluarkan kapas dan cairan alkohol untuk membersihkan luka. Tangannya melambai ke arah Makutha agar lelaki tampan itu mendekat.


Makutha mendekat pada Hasna, kemudian duduk di sofa. Sedangkan Hasna duduk bersimpuh di depan lelaki itu. Dia mulai menuangkan alkohol pada kapas dan membersihkan darah serta luka di siku Makutha.


"Aduh!" pekik Makutha.


Hasna menggeleng sambil tersenyum geli. Dia tak menyangka lelaki yang biasanya terlihat kasar itu ternyata tidak bisa menahan sakit. Sedangkan tatapan Cio berfokus kepada Hasna. Dia seperti matahari dalam tatanan galaksi Bima Sakti, dan lelaki itu bagaikan bumi yang terus menjadikannya pusat revolusi.


Ketika hendak mengambil kotak plaster yang jatuh, tanpa sengaja tatapan Hasna dan Makutha bertemu. Desiran aneh menelusup ke hati dua sejoli itu. Satu detik, dua detik, dan di detik ketiga, Hasna langsung menundukkan pandangannya. Cio yang menyaksikan kejadian itu merasa ada yang mengganjal di hatinya.


Hasna langsung beranjak dari hadapan Makutha, lalu masuk kembali ke kantor. Saat baru beberapa langkah berjalan, dia berhenti. Gadis itu mengeluarkan buku kecilnya dan menuliskan sesuatu di sana.


Aku harus bekerja. Bisa 'kan mengobatinya sendiri? Atau minta bantuan temanmu itu.


Hasna menyobek kertas itu lalu menyodorkannya pada Makutha. Lelaki itu membaca tulisan Hasna lalu mendengus kesal. Sebenarnya dia paling tidak suka dengan orang yang todak menyelesaikan pekerjaannya. Namun, dia sadar kalau posisi Hasna sedang bekerja. Jadi lelaki itu memakluminya.


Di sisi lain, Cio yang sedikit kesal kepada Makutha yang baru saja menatap intens Hasna mulai mendekati sahabatnya itu. Dia meraih kain kasa dan juga plaster yang ada di atas meja. Cio menarik kasar lengan Makutha, lalu tersenyum lebar.


"Sini aku bantu pasangkan!" seru Cio.


Cio meneteskan obat merah ke atas luka Makutha. Lalu, dia menempelkan kain kasa secara kasar pada siku sang sahabat. Makutha meringis kesakitan karena ulah jahil Cio.


"Pelan-pelan, dong! Sengaja banget!" seru Makutha.

__ADS_1


"Nih tinggal tempelin plasternya! Bisa sendiri, 'kan!" teriak Cio sambil menepelkan plaster pada jidat Makutha. Lelaki tampan itu langsung meninggalkan Makutha yang masih meringis kesakitan karena ulahnya.


"Wooo ... cah gemblung!" (bocah bodoh)


Makutha menyusul Cio yang kini keluar dari butik. Keduanya kini menjadi pusat perhatian beberapa karyawan di butik tersebut, termasuk Hasna. Perempuan itu gemas melihat dua orang lelaki yang sudah genap berusia 17 tahun, tetapi bertingkah layaknya anak-anak.


"Eh, katanya mereka berdua itu pasangan, loh!" bisik seorang karyawan bernama Mita.


"Masa?" Karyawan lain bernama Tami terbelalak mendengar penuturan teman kerjanya itu.


"Iya! Emangnya normal gitu, cowok seusia mereka nggak punya pacar! Lagian mereka itu kemana-mana berdua!"


"Bener juga, ya?" Tami mengangguk-angguk sambil mengusap dagunya yang lancip.


Hasna menggelengkan kepala mendengar percakapan dua seniornya itu. Dia heran karena sikap Mita dan Tami yang berani menggunjingkan anak dari pemilik butik tempat mereka bekerja. Hasna yang kesal dengan sikap keduanya berpura-pura menabrak Tami sambil membawa setumpuk syal.


"Aduh!"


Hasna menunduk berulang kali untuk meminta maaf. Mita membantu Tami berdiri kemudian menatap tajam Hasna. Perempuan itu melipat lengan di depan dada dan mulai mendekati Hasna.


"Heh, bisu! Kamu sengaja, 'kan menabrak Tami!"


Hasna tidak melawan. Namun, tatapan tajam dia lemparkan ke arah Mita. Gadis itu mengambil langkah mundur setiap Mita melangkah maju.


"Aku lupa, kalau kamu itu bisu! Jadi nggak bisa jawab!" Mita tersenyum miring kemudian mulai mendorong bahu Hasna dengan telunjuknya.


"Mita, sudah. Dia nggak sengaja!" Tami berusaha menghentikan Mita dengan menarik pelan lengannya. Akan tetapi, Mita yang keras kepala terus mengibaskan jemari Tami.


Seketika amarah Mita memuncak karena Hasna tidak mau menundukkan tatapannya. Perempuan itu mendorong Hasna hingga tubuh kurusnya tersungkur di atas lantai.


"Ada apa ini!"


...****************...


Holaaa~

__ADS_1


Sambil nunggu TKI update, baca juga yukk salah satu novel keren karya teman author Chika. ❤❤❤



__ADS_2