TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 71. Gara-gara Nougat


__ADS_3

Liontin, David, serta Jia menatap heran ke arah Reza yang sedang kalap. Calon ayah baru itu, menghabiskan satu teko Teh Oolong yang sudah Liontin seduh. Nougat yang dibawa David pun tinggal satu kotak. Terlihat Makutha yang kini menautkan alisnya sambil menatap tajam sang ayah.


"Ayah, lakus!" gerutunya.


"Hah, rakus? Nggak lah! Ini kemauan adik bayi!" Reza berkelit sambil terus mengunyah Nougat dalam mulutnya.


Rasa manis dari madu, berpadu dengan gurihnya kacang Hazelnut, membuat Reza enggan berhenti mengunyah permen itu. Saat Reza lengah, Makutha mulai beraksi merebut satu kotak terakhir yang masih ada di atas meja. Bocah laki-laki itu secepat kilat menyambar Nougat yang tersisa.


"Jangan!" teriak Reza.


"Ih, Ayah, nggak boleh banyak-banyak makan pelmen! Nanti cakit gigi!" Makutha menggerakkan telunjuk di depan wajah Reza.


"Kembalikan, Utha! Ayah mau itu!"


"No!"

__ADS_1


Aksi rebutan Nougat berlangsung hingga 15 menit. Liontin mendengus kesal kemudian menjewer telinga kedua laki-laki beda usia itu. David dan Jia yang melihatnya pun terkekeh geli.


"Sudah, ya? Nougat biar Bunda yang simpan. Kalian seperti anak kecil saja! Bertengkar hanya karena sekotak permen kacang!" seru Liontin sambil terus menjewer telinga dua lelaki itu.


"Ampun, Bunda!" teriak Reza dan Makutha serentak. Liontin akhirnya melepaskan jemari lentiknya dari mereka.


"Uh, cakit, Bunda. Utha emang macih anak kecil, jadi nggak apa-apa beltengkal!" Makutha mengerucutkan bibir sambil mengusap telinganya yang masih terasa panas.


"Utha, bertengkar itu tidak baik. Anak-anak pun sebaiknya tidak bertengkar. Nanti bisa nggak punya teman. Kalau ada masalah, diselesaikan baik-baik bukannya malah bertengkar. Mengerti?"


"Terima kasih, Nougatnya. Jangan sering-sering ke sini! Hush, sana pergi!" Reza mengibaskan tangan di depan David.


Melihat tingkah ajaib Reza, tentu saja membuat David terkekeh. "Baiklah, aku pergi dulu. Oh, ya ... jangan terlalu posesif terhadap seorang perempuan. Nanti dia bisa kabur!"


David menarik pelan lengan Jia, kemudian berlari ke arah mobil dan masuk ke dalamnya. Lelaki itu mulai melajukan kendaraannya dan membunyikan klakson ketika melintas di depan Reza.

__ADS_1


"Ya, hati-hati di jalan!" Reza melambaikan tangan sembari tersenyum tipis.


...****************...


Malam itu suasana begitu sunyi di kamar Liontin dan Reza. Tidak seperti biasa, setelah bercinta dengan sang istri, biasanya lelaki itu akan kelelahan dan tertidur pulas. Malam ini berbeda, dia merasa nyeri luar biasa pada giginya.


Reza terus mendesis menahan rasa nyeri, sampai kepalanya berdenyut hebat. Dia meringkuk di atas ranjang sembari memegangi pipi, berharap rasa nyeri itu menghilang. Sebenarnya Reza ingin sekali membangunkan sang istri. Namun, melihat gurat lelah Liontin membuatnya tak tega.


Akhirnya lelaki itu turun dari ranjang, kemudian menuju dapur untuk mencari obat pereda nyeri. Berbagai macam obat-obatan yang ada di dalam kotak berwarna putih dengan simbol plus merah di bagian penutup.


"Methyl sama ... fargetic."


Reza mengambil dua jenis obat yang biasa ia minum saat sakit gigi kambuhannya menyerang. Ya, Reza memang sering sakit gigi, untuk itulah lelaki itu tidak suka mengkonsumsi makanan manis. Setelah memasukkan dua tablet obat tersebut, dan menelannya bersama setengah gelas air putih.


"Ah, gara-gara Nougat sialan itu!" gerutu ayah tiri dari Makutha itu. Malam itu, Reza memutuskan untuk tidur di sofa ruang tengah karena takut mengganggu jam tidur sang istri.

__ADS_1


__ADS_2