TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 34: Pakis Betina


__ADS_3

Pagi itu, Cio berkumpul dengan teman satu tongkrongannya. Mereka semua bersekolah di sekolahan yang sama, hanya saja tidak sekelas dengan Makutha. Suasana sekolah mulai ramai. Mereka semua sedang berbincang di belakang gudang.


"Katanya mereka mau nyerang kita, Bro!" ujar Alex.


"Biarin ajalah. Jangan pedulikan mereka." Makutha menghisap rokok kemudian meniupkan asapnya ke udara.


"Nggak bisa, dong! Bisa mati kita kalau gak ada persiapan bela diri!" seru Hendry.


"Iya, Tha! Aku bawa ini!" Liam mengeluarkan isi tasnya.


Makutha terbelalak melihat isi tas Liam. Ada sebilah parang yang terlihat sangat tajam. Makutha yakin, parang tersebut bisa memenggal kepala musuh dengan sekali tebas. Makutha bergidik ngeri membayangkan hal itu.


"Kamu gila, Liam! Buang!" seru Makutha.


"Nggak! Aku nggak mau jadi pengecut, Tha!" Rahang Liam mengeras, otot sekitar lehernya kini menonjol.


"Iya, kita bisa dianggap banci kalau nggak meladeni mereka, Tha!" Kini giliran Hendry mengeluarkan celurit dari tasnya.


"Kamu bawa apa, Lex?" Makutha menyipitkan mata.


"Ini!" Alex mengeluarkan pisau lipat dari saku kemejanya.


"Gila kalian! Mau jadi berandal?"


Sebenarnya dia kesal dengan ketiga temannya itu. Mereka bentrok dengan sebuah geng dari SMA lain, karena masalah sepele. Kalah taruhan bola. SMA tersebut enggan membayar uang denda taruhan kepada geng Makutha.


Makutha sudah melupakan kejadian itu, tetapi di belakangnya Alex, Hendry, dan Liam terus berusaha menuntut hak mereka. Beberapa kali Makutha berhasil menggagalkan rencana tawuran mereka. Lelaki itu melaporkan rencana tawuran kepada polisi, dan menantang teman-temannya.


"Kali ini kamu nggak bisa lapor polisi lagi, Tha! Kita nggak kasih tahu kamu di mana lokasinya!" seru Alex sambil tersenyum miring.


"Bangsat, kalian!" Makutha membuang rokok dan menginjaknya.


Makutha menghampiri Alex kemudian menarik kerah baju lelaki itu. Dia mencengkeram kuat kerah baju Alex, dan menempelkan tubuh sang teman tongkrongan, pada dinding yang menjulang tinggi di belakangnya.


"Lex, aku udah bilang, ya ... jangan tersulut emosi! Kalian bisa mati sia-sia karena tawuran! Paling ringan kehilangan satu jari! Mau?" ancam Makutha.

__ADS_1


"Kita nggak bisa mundur lagi, Tha. Sebelum kita mendapat uang denda itu, kita nggak bakalan berhenti." Alex menatap tajam Makutha sembari tersenyum miring.


Makutha melepaskan kerah baju Alex asal. Kemudian menatap satu per satu teman tongkrongannya itu. Rahang lelaki itu mengeras. Namun, sesaat kemudian Makutha menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar.


"Terserah kalian! Aku nggak ikut-ikutan! Terserah kalian, mati pun aku nggak peduli! Aku sudah memperingatkan kalian semua!" Makutha beranjak pergi dari tempat itu, kemudian masuk ke ruang kelasnya.


Sesaat kemudian bel sekolah berbunyi. Pak Albert, sang guru Biologi memasuki ruang kelas. Lelaki dengan kepala botak bagian depan dan perut buncit itu, menyapa muridnya dengan nada ketus.


Guru tersebut terkenal sangat kejam ketika memberi tugas. Tak segan-segan dia juga menghukum muridnya jika tidak melakukan apa yang dia inginkan, atau tugas yang dikerjakan tidak sesuai harapannya. Dia sangat benci jika ada murid yang menguap, bercanda, dan melamun saat jam pelajarannya.


"Bagaimana, tugas membuat daun kering hias dari tanaman Polypodiophytina?"


"Sudah selesai, Pak!" jawab murid kompak.


Hasna mulai mengeluarkan keringat dingin. Dia selalu gugup hanya dengan menatap Pak Albert. Perutnya terasa bergejolak dan sangat mual. Namun, ia tidak berani beringsut dari kursi.


Pak Albert meminta semua murid mengeluarkan hasil Pekerjaan Rumah mereka. Lelaki berumur 45 tahun itu langsung mengelilingi satu per satu muridnya. Dia bertanya mengenai klasifikasi tanaman yang dibawa.


Kini giliran Makutha. Lelaki itu tersenyum lebar melihat hasil tugasnya. Pak Albert menelitinya dan tersenyum puas.


"Pakis jantan? Di mana kamu menemukannya?" tanya Pak Albert antusias.


"Bagus! Bisa jelaskan hal menarik dari tanaman ini?"


Makutha berdiri kemudian maju ke depan kelas. Lelaki itu meraih spidol dan menuliskan sesuatu di papan putih. Makutha menulis mengenai klasifikasi tumbuhan Pakis Jantan.


"Pakis Jantan memiliki nama latin Dryopteris filix-mas. Tumbuhan ini sangat beracun kalau dimakan secara langsung. Bahkan, bisa menyebabkan kematian." Makutha menatap seisi kelas, dan Pak Albert mengangguk-angguk sambil tersenyum mendengar penjelasan Makutha.


"Ada Pakis Jantan, berarti ada Pakis Betina juga, dong!" seru Felix, diikuti gelak tawa seisi ruangan.


"Kalian bisa diam tidak!" seru Pak Albert.


Sontak seisi ruangan bungkam. Mereka sesaat lupa bahwa sang guru killer masih berada di dalam kelas. Makutha tersenyum simpul kemudian menunjuk Hasna.


"Ada. Pakis Betina memang ada!"

__ADS_1


"*Makutha keterlaluan! Masa Hasna dibilang tumbuhan pakis!"


"Bercandanya nggak lucu! Sumpah!"


"Itu maksudnya dia ngatain Hasna*?"


Komentar miring itu terdengar seperti lebah yang berdengung di telinga Makutha. Dia menarik napas panjang, dan mengembuskannya kasar. Lelaki itu mendekati bangku Hasna, lalu meraih bingkai yang ada di depan Hasna.


"Kalian itu, bodoh atau gimana, sih? Ini namanya pakis betina!" seru Makutha sembari menunjukkan bingkai milik Hasna kepada teman sekelasnya.


"Ooo ...," jawab seisi kelas serempak.


"Ini Pakis Haji betina! Kenapa disebut demikian? Ada yang tahu?"


Suasana kelas hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Makutha mengembalikan bingkai tersebut kepada Hasna, dan meminta gadis itu menjelaskan alasan kenapa Pakis Haji yang ia bawa itu memiliki jenis kelamin betina.


Hasna terlihat gugup, tetapi Makutha menyakinkan perempuan itu untuk menjelaskannya di depan kelas. Akhirnya, Hasna berhasil menyingkirkan rasa gugup dan maju ke depan kelas. Gadis itu menelan ludah berkali-kali sebelum mulai berbicara.


"Jadi, Pakis Haji memiliki dua jenis kelamin. Ada jantan, dan betina. Yang betina memiliki biji-biji yang tumbuh di ketiak daun. Nantinya saat musim kawin tiba, burung atau serangga akan membawa serbuk sari dari pakis jantan ke pakis betina. Intinya tanaman pakis memiliki dua alat reproduksi yang terpisah. Tidak seperti tumbuhan paku lainnya."


Seisi kelas mengangguk-angguk tanda mengerti. Pak Albert bertepuk tangan, disusul teman yang lain. Guru Biologi tersebut meminta Makutha dan Hasna kembali ke bangkunya. Dia begitu puas dengan penjelasan dari kedua muridnya tersebut.


Setelah itu, Pak Albert mendatangi Praba dan bertanya mengenai daun Paku yang ia bawa. Bingkai milik Praba terlihat begitu indah dengan cat keemasan. Bukannya tertarik dengan daun kering di dalamnya, justru lelaki itu bertanya mengenai bingkai tersebut.


"Kamu beli di mana, Ba?"


"Di Bali, Pak. Oleh-oleh dari Aji (ayah) saat pulang kampung." Praba tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Berapa harganya?" tanya Pak Albert antusias.


"Murah, Pak. Sejuta jujul akeh!" (Murah, Pak. Satu juta kembaliannya banyak).


Mendengar jawaban Praba sontak membuat seisi kelas terbahak-bahak sambil menyoraki gadis itu. Di sisi lain, Pak Albert tersenyum kecut sambil menatap tajam Praba. Gadis itu menelan ludah susah payah.


"Ber-bercanda, Pak. Bapak jangan terlalu serius begitu," bujuk Praba sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Alhasil, Praba dibebaskan dari hukuman karena suasana hati Pak Albert sedang bagus hari itu. Kegiatan belajar mengajar kelas tersebut berjalan lancar. Makutha terus membantu Hasna sepanjang pelajaran Biologi. Tak ada rasa canggung karena kejadian semalam.


Keduanya seakan melupakan kejadian tersebut, dan kembali ke kehidupan normal seperti biasanya. Di tengah ketenangan hari itu, sebuah bahaya sedang mengancam nyawa Makutha. Rombongan teman tongkrongan Makutha saling mengirim pesan tanpa sepengetahuannya. Mereka berniat menyeret Makutha untuk terlibat dengan aksi tawuran yang akan mereka adakan sepulang sekolah.


__ADS_2