TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 42. Alasan Rangga


__ADS_3

"Liontin, di mana?" lirih Reza.


"Kamu tidak perlu menanyakan perempuan itu ada di mana. Fokuslah dengan kesehatanmu sekarang ini." Risa membelai rambut putranya sambil tersenyum lembut.


"Aku mau Liontin dan Makutha, Ma. Bawa mereka ke sini! Aku sangat merindukan mereka."


Dada Risa bergetar hebat. Dia begitu menyayangi Reza, tetapi di sisi lain dia begitu geram karena bayangan masa lalu Liontin telah membuat anaknya hampir kehilangan nyawa.


"Mama akan membawanya ke sini saat kondisimu sudah membaik. Sekarang, fokuslah dengan masa pemulihanmu. Tidurlah, Mama akan di sini menjagamu." Risa tersenyum lembut sambil menggenggam jemari Reza.


Reza mengangguk lemah kemudian mulai menutup mata dan kembali alam bawah sadarnya. Ketika dengkuran halus keluar dari bibir sang putra. Risa keluar dari ruangan itu. Di depan ruang ICU, David bersidekap sambil menyandarkan punggungnya pada dinding dingin Rumah Sakit.


"Untuk apa kamu ke sini!" Risa memicingkan mata sambil mengangkat dagu.


"Aku ingin menjenguk kakakku." David tersenyum miring kemudian menegakkan tubuh.

__ADS_1


"Kakak? Sejak kapan David menjadi kakakmu?" Rahang Risa mengeras, jemarinya mengepal erat di samping badan.


"Seharusnya Anda bersyukur, karena aku dan ibuku ... Anda bisa tahu bagaimana sifat asli Tuan Besar Li." David menyeringai dan mulai berjalan mendekat.


"Apa yang kamu inginkan? Bukankah semua yang seharusnya menjadi milik Reza sudah berhasil kamu rebut? Harta keluarga Li, jabatan, bahkan cinta pertama putraku! Kamu merenggut apa yang seharusnya Reza miliki!" teriak Risa, dadanya naik turun karena amarah yang bergejolak.


"Mengenai Liontin, awalnya hanya sebuah kebetulan. Dia bekerja kepada keluarga Li sejak enam tahun lalu. Mengenai Makutha, itu juga sebuah kecelakaan." David tersenyum datar.


"Takdir sepertinya sedang mempermainkan keluarga ini. Aku pergi dulu. Ah, aku titip itu untuk kakakku." David melirik keranjang buah yang ia letakkan di kursi panjang koridor rumah sakit.


Setelah selesai, David menuju parkiran dan mulai mengendarai mobilnya. Dia menyusuri jalanan Kota itu perlahan. Ketika sampai Lembaga Pemasyarakatan setempat, dia mendaftarkan diri sebagai pengunjung dan menunggu antrian.


Setelah menunggu selama 15 menit, tiba gilirannya untuk menemui seseorang yang tak lain adalah Rangga. Kedua lelaki itu duduk saling berhadapan dengan dibatasi kaca.


"Bagaimana?" tanya David melalui gagang telepon yang menghubungkan keduanya.

__ADS_1


"Aku sudah menerima semua uangnya. Aku bisa hidup tenang di sini," bisik Rangga.


"Ingat, jangan sampai menyebut namaku! Kamu tahu, 'kan akibatnya?" David menyipitkan mata sambil tersenyum miring.


"Tenang saja. Aku pastikan tidak akan menyebut satu pun huruf yang menyangkut namamu!"


"Aku sudah membayarmu lebih untuk ini. Ingat, istri cantikmu yang sekarang gila itu butuh biaya lebih untuk perawatan."


Api dalam dada Rangga kembali tersulut. Dia menyalahkan Reza dan Liontin atas apa yang sudah terjadi padanya. Lelaki itu gagal menjadi Kepala Desa di kampungnya, karena warga mendadak berubah pikiran. Kucuran dana yang sudah ia keluarkan raib dibawa tim suksesnya. Selain itu, Intan depresi berat karena angan-angannya untuk menjadi istri dari seorang Kepala Desa gagal terwujud.


"Aku pastikan mereka tidak akan pernah hidup tenang!" Rangga mengepalkan jemari kemudian memukul meja di depannya. Rahang lelaki itu pun mengeras hingga menampakkan otot sekitar mata yang menegang.


"Waktu kunjungan habis!" Penjaga lapas menarik lengan Rangga dan membawanya kembali masuk ke jeruji besi.


David beranjak dari kursi kemudian tersenyum licik. "Dasar bodoh!"

__ADS_1


__ADS_2