TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 95. Nama untuk Adik


__ADS_3

Setiap jam rasa sakit yang dirasakan Liontin dan Reza semakin bertambah. Keduanya masih terus bergandengan tangan. Keringat dingin membasahi hampir seluruh tubuh Reza. Lelaki itu tak henti-hentinya mengaduh dan mengoceh karena tidak tahan dengan rasa sakit yang luar biasa itu.


"Yang, a-aku pengen mengejan! Tolong panggilin dokter!" teriak Liontin sambil menahan diri agar tidak mengejan sebelum waktunya.


Reza melangkah keluar dari ruangan itu dengan sisa tenaga yang ia punya. Lelaki itu menghampiri perawat yang sedang berjaga di luar ruangan, kemudian kembali masuk ke ruang bersalin.


Tak lama kemudian seorang dokter perempuan masuk, dan melakukan VT untuk mengetahui pembukaan leher rahim Liontin. Setelah memastikan bahwa Liontin siap untuk bersalin, dia meminta perawat untuk menyiapkan semua alat yang dibutuhkan.


"Kak! Sakit ...," rengek Liontin. Bulir air mata terus mengalir membasahi pipinya.


Reza menguatkan hatinya untuk menemani Liontin. Perlahan ia mulai mengabaikan rasa mulas yang dirasakannya. Lelaki itu menggenggam jemari sang istri kemudian mengecup puncak kepalanya.


"Ayo, Sayang! Kamu bisa! Kamu kuat! Sebentar lagi putri kita bakal lahir ke dunia." Reza terus menguatkan sang istri.


"Baik, Pak, bisa dibantu istrinya?"


"Sa-saya harus bagaimana, Dok?" tanya Reza kebingungan.


Dokter itu mengarahkannya untuk duduk di belakang Liontin. Reza menggunakan dadanya untuk menopang kepala Liontin, agar posisi tubuhnya tidak datar. Reza terus mengusap lembut rambut sang istri dan sesekali memberinya kecupan.


“Tarik napas dalam-dalam, buang perlahan, dan dorong.” Dokter cantik itu mulai memberikan aba-aba ketika Liontin ingin mengejan.


"Ya, pintar! Ayo, Bu, sedikit lagi dedeknya keluar!"


Liontin mengejan sekuat tenaga. Dia merapatkan giginya kuat-kuat. Urat sekitar matanya terlihat menonjol. Setelah mengejan untuk ketiga kalinya, rasa lega luar biasa. Air mata bahagia menetes dari mata Reza.

__ADS_1


Sang dokter menyerahkan putri kecil mereka kepada perawat. Setelah dikeringkan, bayi lucu itu diletakkan di atas dada Liontin. Bibir mungilnya mulai mencari-cari sumber kehidupan pertamanya, Air Susu Ibu.


...****************...


"Bunda, mana, Pa?" tanya Makutha ketika Reza baru menjenguknya.


"Bunda sedang bersama adik bayi. Makutha mau lihat adik?"


Makutha mengangguk, kini dia menempel pada punggung sang ayah. Reza keluar dari kamar inap Makutha, kemudian menuju ruangan di mata Liontin berada. Liontin sedang memangku putri kecilnya sambil menatapnya dengan senyum bahagia.


"Bunda!" teriak Makutha kemudian merosot dari gendongan sang ayah.


Bocah laki-laki itu setengah berlari menghampiri ranjang pasien, kemudian naik ke atasnya dengan bantuan sebuah kursi. Makutha menatap kagum ke arah adik bayinya yang baru lahir itu. Pupil matanya melebar, dan mulut Makitha menganga lebar.


"Makutha, sayang, sama adik?" tanya Liontin sambil tersenyum lebar.


"Sayang!" seru Makutha sambil mengangguk mantap.


"Namanya siapa, Yah?" Kini Makutha menoleh ke arah sang ayah dengan mata berbinar.


"Siapa, ya?" Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena memang dia dan sang istri belum menyiapkan nama untuk putri mereka.


"Apa Utha punya saran nama yang bagus buat adik?"


Makutha terlihat berpikir. Dia mengusap dagu layaknya orang dewasa yang sedang memikirkan suatu hal yang begitu penting.

__ADS_1


"Kity ... Meme ... Mimi ... Molly ... Cimmy ...." Makutha mengabsen setiap nama yang bermunculan di kepalanya.


Mendengar nama-nama tersebut, tentu saja membuat Reza dan Liontin terkekeh. Merasa dirinya ditertawakan, Makutha merajuk. Bocah tampan itu, mengerucutkan bibir sambil membuang muka.


"Ih, jahat sekali Ayah sama Bunda!"


"Bukannya begitu, Utha ... habisnya kamu lucu! Masak iya, adik mau dikasih nama kayak kucing?" Liontin kembali terkekeh.


Bagaimana tidak? Nama-nama yang disebutkan Makutha adalah panggilan untuk kucing yang pernah mereka pelihara.


"Ah, Ayah ada satu nama yang cocok untuk putri kecil kita!"


"Apa, Yah?" tanya Liontin antusias.


"Tiara! Kita panggil princess mungil ini Tiara!" seru Reza sembari membelai lembut pipi sang putri.


...****************...


Holaaa...


Idul Adha di tempat kalian, hari ini atau besok?


Sambil nunggu update selanjutnya, baca novel seru ini juga yuk!


__ADS_1


__ADS_2