
"Sayang .... Bisa minta tolong buatkan jus alpukat?" Reza masih terbaring lemas di atas ranjang. Tubuhnya seakan tak bertulang pagi itu.
Liontin yang mendengar permintaan aneh suaminya itu mengerutkan dahi. Setahunya, Reza paling benci dengan buah alpukat. Namun, kali ini justru lelaki itu meminta jus dari buah yang ia benci itu.
"Sayang, kamu yakin?"
"Aku mau jus alpukat, sekarang!" Reza melipat lengan di depan dada, sambil menekuk wajah.
"Oke, nanti aku mampir ke kios jus depan kompleks, ya? Buat beliin. Aku antar Makutha dulu." Liontin beranjak dari meja rias kemudian menghampiri Reza yang masih berbaring di atas ranjang.
"Gak mau!" teriak Reza. Lelaki yang biasanya bersikap dewasa itu kini terlihat berkaca-kaca..
"Lah? Terus mau Kak Reza gimana, Sayang? Hem?" Liontin tersenyum tipis kemudian mengusap lembut pipi sang suami.
"Aku mau kamu yang bikinin. Aku mau lihat kamu sendiri yang blender buah alpukat," rengek Reza.
"Baiklah, aku anter Makutha dulu habis itu mampir beli alpukat. Kita nggak pernah stok buah itu di rumah." Liontin mengecup kening sang suami kemudian melangkah keluar kamar.
Liontin dapat melihat dari lantai atas, Makutha sedang sibuk menyantap sarapan ditemani Pak Rudi. Ketika dia sudah sampai di dekat meja makan, Liontin menarik kursi menggantikan Pak Rudi untuk menemani Makutha.
"Utha, sudah makannya?"
"Bentar, Bunda. Utha mau tambah lagi, boleh?"
Liontin melirik arlojinya kemudian mengangguk. "Boleh, tapi agak cepat, ya, makannya? Nanti terlambat." Liontin tersenyum tipis kemudian menuangkan nasi goreng sosis ke atas piring Makutha.
__ADS_1
"Saya keluar dulu, ya, Bu? Mau panasin mobil dulu."
"Pak Rudi udah sarapannya?"
"Sudah, terima kasih Nasi Goreng Sosis-nya. Enak!" Pak Rudi mengacungkan dua jempolnya kemudian keluar rumah.
...****************...
Suasana pusat perbelanjaan pagi itu sepi, karena memang hari kerja. Liontin menarik troli belanjaan dan mulai melangkah menuju rak yang berisi buah-buahan.
"Tumben banget sih, Kak Reza minta alpukat," gerutu Liontin.
Liontin melihat satu per satu rak buah yang dipajang di rak. Dia tidak berhasil menemukan buah yang ia cari. Ketika ada seorang pramuniaga yang datang, Liontin mencoba untuk bertanya kepadanya.
"Ya, Kak. Ada apa, ya?" tanya perempuan yang memakai kaos kerah berwarna hijau dan celana jeans itu.
"Buah alpukat, sebelah mana, ya?"
"Ada di rak paling ujung, Kak. Tapi, stocknya terbatas hari ini belum datang lagi. Semoga masih, ya." Perempuan itu menunjuk rak paling belakang dengan tangan yang terbuka sambil tersenyum.
"Baiklah, terima kasih, ya." Liontin membalas senyuman perempuan itu kemudian berjalan cepat ke arah rak yang dimaksud.
Alpukat yang ada di rak itu tinggal tiga buah. Liontin mempercepat langkahnya, takut jika ada yang mendahului. Dia berhasil memasukkan satu buah alpukat ke dalam troli. Namun, ketika hendak mengambil dua lainnya, seseorang sudah memindahkan buah ke dalam keranjang belanjaannya.
"Mbak, maaf, saya duluan," ucap Liontin sopan sambil tersenyum.
__ADS_1
Ketika mengamati siapa yang ada di depannya itu, ia baru menyadari bahwa perempuan itu adalah Berlian, teman sebangkunya saat SMA.
"Lian?" Liontin terbelalak.
"Ontin?" Berlian yang sama terkejutnya, melebarkan mata sambil menunjuk wajah Liontin.
"Kamu apa kabar, Lian!" Liontin memeluk temannya itu tanpa rasa canggung, karena dulu keduanya memang sedekat itu.
"Baik, baik banget malah!"
Berlian melepaskan pelukannya kemudian menyodorkan alpukat yang tadi ia genggam. "Nih, buat kamu aja."
"Beneran, nggak apa-apa? Sebenernya, aku pengen banget. Lagi ngidam soalnya. Tapi, nggak apa-apa ntar aku cari di tempat lain."
"Eh, jangan gitu. Kamu ambil aja yang itu. Aku ini aja cukup. Cuma buat suamiku aja, kok."
"Okelah, aku ambil yang ini." Berlian tersenyum lebar kemudian memasukkan alpukat ke dalam keranjang belanjaan.
Keduanya berbincang-bincang sambil melanjutkan kegiatan belanja mereka. Setelah selesai Liontin berpamitan, sedangkan Berlian memutuskan untuk tetap berada di sana karena ada urusan pekerjaan.
"Kalau begitu aku duluan, ya? Jangan lupa telepon aku kalau senggang."
"Pasti! Dadah!" Berlian melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Perempuan itu terus menatap punggung Liontin hingga menghilang dari pandangan. Ada berbagai macam perasaan yang bercampur menjadi satu ketika melihat Liontin. Dia mengembuskan napas kasar, kemudian berjalan ke sebuah toko pakaian bayi.
__ADS_1