TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 86. Menjenguk Berlian


__ADS_3

"Nana mau ke Kebun Binatang! Titik!" Nana bersungut-sungut sambil melipat lengan di depan dada.


"Oya, kita nanti ke Kebun Binatang. Tapi, kita tengokin temen Tante Liontin dulu." Cincin merangkum wajah mungil sang putri sembari tersenyum lembut.


"Nggak! Pokoknya aku maunya sekarang!" teriak Nana kemudian berlari ke arah Reza.


"Om Eza! Kita langsung ke Kebun Binatang, ya?" Nana mengedipkan mata berulang kali sembari menautkan jari-jari tangannya di depan dada.


"Kita tanya Tante Liontin dulu, ya?" Reza melirik Liontin sambil mengangkat dagu sekilas.


Kini tatapan Nana tertuju pada Liontin, yang masih sibuk menyiapkan makanan ringan untuk Makutha dan Nana. Liontin dan Reza saling melemparkan pandangan. Perempuan itu berpikir keras agar bisa menuruti kemauan Nana dan menjenguk Berlian di hari yang sama.


"Bagaimana, kalau Nana sama yang lain ke Kebun Binatang duluan. Nanti, Tante nyusul." Liontin tersenyum tipis.


"Besok, Tante nggak bisa jenguk. Soalnya ada acara lain."


"Setuju!" teriak Nana sambil meninjukan tangannya ke udara.


Setelah semuanya sudah siap, Reza mengantarkan Liontin ke Rumah Sakit. Lalu baru mengantar Makutha, Nana, dan Cincin ke Kebun Binatang.


"Utha, baik-baik sama Budhe dan Kak Nana, ya? Ayah tinggal dulu. Nanti, ayah ke sini lagi sama Bunda."


"Iya, Ayah!" Makutha mengangguk mantap kemudian menggandeng jemari Cincin.


...****************...


Liontin menyusuri koridor Rumah Sakit dengan langkah kaki santai. Dia membawa satu buket bunga matahari dan satu keranjang buah-buahan. Setelah sampai di depan pintu ruang inap Berlian, dia mengetuk pintunya kemudian masuk.


Berlian sudah terlihat begitu segar dan sedang duduk.bersandar pada tumpukan bantal. Di sampingnya, ada David yang sedang membereskan piring bekas makan perempuan itu.


"Hai, Lian. Sepertinya sudah sehat lagi, ya?" Liontin meletakkan buket bunga dan keranjang berisi buah ke atas meja.


"Iya. Karena ada perawat yang siaga menjagaku hampir setiap waktu." Berlian melirik David yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Mau kukupaskan buah?" tanya David.


"Boleh, terima kasih."

__ADS_1


Liontin tersenyum datar melihat dua orang yang ada di hadapannya itu. Dia dapat merasakan getaran cinta yang terpancar dari dua insan yang sama-sama sudah tidak memiliki pasangan ini. Liontin menarik kursi yang ada di samping ranjang kemudian duduk di atasnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Untung saja David sigap dan segera membawamu ke Rumah Sakit."


"Iya, kebetulan dia ada di restoran. Ceritanya panjang kenapa bisa terjadi." Berlian tersenyum kecut sambil meremas selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


Liontin meraih jemari Berlian. Dia meremas lembut tangan sang sahabat, dan tersenyum sekilas.


"Lian, jika tidak memiliki tempat bersandar ... setidaknya kamu memiliki tempat untuk berbagi cerita. Berkisahlah padaku kapan pun kamu mau. Bukankah kita sahabat?"


Sejujurnya Berlian malu. Liontin tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat walau berulang kali sudah jahat kepada perempuan itu. Dia memisahkan Liontin dan Reza ketika SMA. Bahkan karena keegoisannya, dia hampir saja membuat rumahtangga Liontin hancur.


"Aku malu." Berlian mengakui apa yang sedang ia rasakan.


"Malu? Malu karena apa? Kenapa harus malu?" tanya Liontin.


"Aku malu, karena sudah berbuat jahat kepadamu dan Reza. Tapi kalian berdua begitu baik. Tetap peduli dan tidak menyimpan dendam kepadaku." Berlian tertunduk lesu sambil memilin ujung selimutnya.


"Setiap orang memiliki kesalahannya masing-masing. Terlebih lagi kebaikan yang kamu lakukan untukku saat sekolah jauh lebih banyak. Jadi tidak ada salahnya jika aku melupakan keburukanmu yang tak seberapa itu." Liontin meraih tangan sang sahabat dan mengusapnya lembut.


"Jadi, boleh aku membagi kisah hidupku kepadamu?" tanya Berlian.


"Tentu saja!"


Berlian mulai menceritakan kisah cintanya bersama Adam yang terbilang singkat. Liontin sampai hanyut dan menitikkan air mata saat mendengar kisah pilu sang sahabat.


...****************...


Flash back On


"Kamu mau, 'kan, menikah denganku?" Adam meraih jemari lentik Berlian. Lelaki itu terlihat serius ketika melamar gadis pujaannya itu.


Berlian tidak bisa berkata-kata lagi. Adam yang gencar mendekatinya beberapa bulan terakhir, akhirnya melamar. Bahkan ini adalah lamaran ketiga dari kakak kelasnya semasa SMA itu.


"Lian? Bagaimana, jawabanmu? Aku serius!"


Berlian meremas celana karena gugup dilema dengan jawaban yang akan ia ucapkan. Perempuan itu ingin sekali menjawab iya, karena dirinya mulai menyukai Adam. Akan tetapi, dia ragu karena calon ayah mertuanya tidak suka dengan hubungan mereka.

__ADS_1


"Kak, jika aku menerima lamaranmu ... apa kamu bersedia terus berjuang untuk mempertahankan rumahtangga kita kelak? Seperti yang Kak Adam tahu, Bapak sepertinya nggak setuju dengan hubungan kita." Bahu Berlian merosot kepalanya tertunduk dalam.


Adam meraih jemari sang calon istri kemudian mengecupnya lembut. "Aku janji! Mari kita berjuang sama-sama untuk mendapat restu dari Bapak!" Mata Ada berbinar sambil tersenyum lebar."


Perjuangan keduanya membuahkan hasil. Sang ayah mertua akhirnya memberi restu. Akan tetapi, di tahun kedua pernikahan badai besar menerpa rumahtangga keduanya. Sang ayah mempertanyakan kesuburan Berlian.


Keduanya diberi waktu hingga akhir tahun. Jika tidak ada kabar kehamilan, Adam dan Berlian dipaksa untuk bercerai. Bahkan lelaki itu sudah memiliki calon istri baru untuk Adam.


Flash Back Off


...****************...


Air mata mengalir deras membasahi pipi Berlian. Isak tangis lolos dari bibir perempuan cantik itu. Dia harus menggali kembali rasa sakitnya. Sebuah penyesalan kini memenuhi hati Liontin. Dia merasa terlalu memaksa Berlian agar bercerita kisah lamanya bersama Adam.


"Maaf, ya, Lian. Gara-gara aku, kamu harus kembali mengorek luka hatimu yang belum kering."


"Nggak apa-apa. Setidaknya aku merasa sedikit lega setelah menceritakan semuanya kepadamu." Berlian menghapus air matanya yang setengah kering.


David terlihat panik ketika melihat Berlian menangis. Akan tetapi, dia belum paham hal apa yang membuat perempuan itu menangis. Detik itu juga, David membulatkan tekad untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Dia ingin menjadi lebih dekat dengan Berlian, dan menjadi orang pertama yang bisa mendengarkan setiap keluh kesah yang perempuan itu rasakan.


Tak lama kemudian, pintu bangsal tiba-tiba terbuka. Reza terlihat terengah-engah dengan keringat mengucur dari dahi. Lelaki itu langsunh menarik lengan David dan membisikkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, David terbelalak.


"Benarkah?"


Reza mengangguk kemudian mulai mengatur ekspresinya. Dia mendekati sang istri kemudian meraih jari-jari sang istri. "Yang, kamu di sini sebentar menemani Berlian, ya? Aku ada urusan dengan David. Setelah selesai, aku akan menjemputmu."


"Apa ada hal buruk terjadi?" Pertanyaan Liontin tepat mengenai sasaran.


Namun, Reza tidak menjawabnya. Lelaki itu hanya berkata agar Liontin tidak perlu khawatir. Dia dan David keluar dari kamar dan meninggalkan rumah sakit.


...****************...


Kira-kira, apa, yaa yang membuat David terlihat cemas?


Sambil nunggu TKI apdet. Mampir juga, yaa ke jarya salah satu teman author Chika.


__ADS_1


__ADS_2