
"Mas, kamu beneran nggak mau nemenin aku saat persalinan nanti?" Berlian menatap nanar layar ponsel sambil membaca rangkaian kata yang dikirimkan oleh seseorang.
[Jangan hubungi aku lagi. Aku sekarang sudah memiliki istri. Aku tidak ingin ribut dengannya ataupun orang tuaku karena kamu terus merengek ingin ditemani saat bersalin. Maaf.]
Berulang kali Berlian membaca pesan teks itu, berulang kali pula hatinya sakit bukan main. Nyeri, seakan ada ratusan anak panas yang menembus dadanya. Air mata perempuan cantik itu seketika meleleh.
Bangku taman dan semilir udara dingin menemaninya malam itu. Langit terlihat begitu cerah dengan berhiaskan bintang yang berkelip. Namun, tidak dengan hatinya. Jika waktu bisa diputar kembali, dia tidak ingin menerima lamaran mantan suaminya itu.
"Kamu sungguh tidak berperasaan, Mas. Dulu kamu berjanji akan memperjuangkan aku di depan ibumu. Tapi, apa ini? Yang kuterima hanyalah kekecewaan. Sungguh aku menyesal karena sudah menikah denganmu!"
Berlian menghapus air matanya kemudian beranjak dari bangku yang ia duduki. Perempuan itu melangkah gontai menyusuri jalanan yang mulai sepi. Sampai-sampai dia tak menyadari ketika hendak menyeberang, ada sebuah mobil sedan yang melaju kencang ke arahnya.
Pemilik mobil itu menekan klakson berkali-kali, tetapi Berlian tetap bergeming. Tak lama kemudian dia merasa seseorang menarik lengannya.
"Dasar gila! Sudah bosan hidup, ya!" teriak pengendara mobil itu.
Kaki Berlian gemetar hebat. Tangisnya pecah dan jantungnya berdebar begitu kencang. Tak lama kemudian orang yang menyelamatkannya melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Lian, kamu nggak apa-apa?"
Suara itu begitu akrab di telinga. Suara dari orang yang ia rindukan kehadirannya. Suara yang selalu menyapanya ketika SMA dan langsung membuatnya jatuh hati. Berlian mendongak, kemudian kembali menghambur ke dalam pelukan lelaki itu.
"Kak Reza!"
"Tolong, lepaskan aku!" Reza mengangkat kedua lengannya, enggan membalas pelukan Berlian.
"Sebentar saja ... biarkan aku meminjam dadamu untuk bersandar melepas kesedihan, Kak."
Akhirnya Berlian melepaskan pelukannya dengan berat hati. Dia mengusap air matanya kemudian balik badan. Perempuan itu melangkah gontai meninggalkan Reza yang masih mematung di tempat.
Reza menatap kasihan ke arah punggung Berlian yang semakin menjauh. Tak lama kemudian dia berdecih kesal. Lelaki itu masuk ke dalam mobil kemudian melajukannya mendekati Berlian.
Saat sudah sampai di dekat Berlian, lelaki itu menekan klakson mobil. Berlian berhenti kemudian menatap kaca mobil Reza yang mulai terbuka.
"Tinggal di mana? Ayo, aku antar! Sudah malam!"
__ADS_1
"Nggak usah," jawab Berlian singkat dan kembali berjalan.
"Jangan membantah! Kalau niat pulang cepat pesan ojek online bukannya malah jalan kaki begitu! Kasihan bayi yang ada di dalam kandunganmu!"
Mendadak Berlian berhenti. Sebuah tatapan tajam ia layangkan kepada Reza. Air matanya bercucuran membasahi pipi.
"Apa pedulimu!" teriak Berlian.
"Eh, kok, ngamuk?" gumam Reza sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan menaruh perhatian kepadaku barang secuil pun! Jangan pernah sekali pun Kak Reza melakukan itu! Jangan sampai aku kembali salah sangka seperti waktu SMA!"
Bayangan masa lalu ketika di bangku sekolah itu kembali terlintas di ingatan Berlian. Perempuan itu kembali menangis histeris dan duduk di trotoar.
"Jangan terlalu perhatian kepada setiap wanita yang kamu temui, Kak. Hati kami tidak sekuat hati para laki-laki. Hati kami mudah goyah karena secuil saja perhatian yang kalian berikan!"
Berlian menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangan. Dia menangis sejadi-jadinya. Ucapan perempuan itu kembali membawa Reza pada kenangan masa lalu. Salah satu kebodohannya karena menerima cinta Berlian, hanya untuk memastikan bahwa Liontin cemburu. Akan tetapi, nyatanya tidak. Liontin justru tersenyum lebar ketika mengetahui dia dan Berlian berpacaran.
__ADS_1