TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 37. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Reza menggerakkan kaki ketika menunggu Liontin yang sedang mencoba gaun pengantin. Mereka sekarang sedang berada di sebuah butik khusus penyewaan gaun pengantin di pusat kota Solo. Makutha masih terlelap dalam kereta bayinya dengan empeng yang menyumpal mulut.


"Kakimu itu bisa diam tidak?" gerutu Risa.


"Mama ...." Suara Reza terdengar begitu manja ketika hanya berdua dengan sang ibu.


"Mama lupa menanyakan hal ini kepadamu. Sudah menemuinya ketika di Taiwan?"


Perasaan Reza tiba-tiba memburuk ketika sang ibu membuka pembicaraan yang selalu ia hindari itu. Dia mendengus kesal, lalu menyandarkan punggung pada kepala sofa.


"Tolong jangan merusak mood-ku, Ma."


"Tujuan utamamu ke sana adalah untuk menemuinya dan menuntut hak! Kamu tidak lupa, 'kan?"


"Ma ...."

__ADS_1


"Jangan lupa alasan utama kenapa aku mengijinkanmu menikahinya," bisik Risa dengan tatapan tajam sembari tersenyum miring.


Obrolan keduanya berhenti ketika Liontin keluar dari kamar ganti. Perempuan itu terlihat anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna biru pastel. Reza tak berkedip saat menatap calon istrinya itu. Begitubjuga dengan Risa. Dia langsung berjalan menghampiri Liontin yang berdiri sambil menutup bagian dadanya yang terekspos.


"Kamu cantik sekali, Liontin! Tante tidak salah pilih calon menantu! Gaun ini membuatmu terlihat begitu menawan! Aku bahkan enggan berkedip karena terpukau!" Ucapan Risa semakin membuat Liontin malu, pipinya kini merah padam akibat pujian sang calon mertua.


"Terima kasih, Tante. Aku juga beruntung memiliki calon mertua sebaik Anda." Liontin tersenyum lebar sambil membungkuk penuh hormat.


"Tapi ... aku ... boleh meminta sesuatu?"


"Apa?"


"Aku mau gaun yang lain, gaun ini terlalu terbuka."


Mendengar ucapan Liontin membuat Risa terbahak. Detik itu juga, Reza baru menyadari bahwa apa yang dikatakan calon istrinya itu benar. Reza terbelalak ketika melihat bagian dada Liontin dengan buahnya yang meluap hampir setengahnya, karena bagian kamisol yang terlalu ketat.

__ADS_1


"Asetmu!" pekik Reza.


Sontak Liontin meyilangkan lengannya di depan dada. Reza membuang muka kemudian menggaruk kepala. Lelaki itu melepas jaket kulit yang ia pakai, kemudian memakaikannya kepada Liontin.


"Te-terima kasih, Kak."


Risa tersenyum tipis saat melihat tindakan manis yang dilakukan sang anak. Sekilas dia merasa bersalah karena memanfaatkan putra dan Liontin untuk melakukan ambisinya. Namun, dia kembali menepiskan semua itu. Selain kebahagiaan Reza, yang terpenting saat ini adalah rasa sakitnya di masa lalu terbalaskan.


Setelah beberapa kali berganti pakaian, akhirnya Liontin memilih gaun bernuansa biru pastel dengan bagian atas yang lebih tertutup. Akan tetapi, gaun itu tetap menampilkan lekuk tubuhnya karena bagian bawah gaun yang press body. Masalah persiapan lain seperti katering, hall, souvenir, dan lainnya sudah diurus oleh Risa. Liontin dan Reza tinggal terima jadi.


Saat mereka semua sedang keluar dari butik, tanpa disadari seorang lelaki menatap tajam. Rahangnya mengeras melihat keakraban Liontin dan juga keluarga Reza.


"Aku akan mengagalkan rencanamu!" Lelaki dengan pakaian serba hitam serta topi dan kacamata hitam itu, melangkah pergi menjauhi mereka.


Saat Reza memutari mobil hendak masuk ke dalamnya, tiba-tiba kendaraan lain dengan kecepatan tinggi melaju ke arah lelaki itu. Liontin dan Risa yang sudah berada di dalam terlebih dahulu tentu saja kaget bukan main.

__ADS_1


"Reza, awas!" teriak Risa dan Liontin bersamaan.


Ketika menoleh, semua sudah terlambat. Mobil itu menyerempet Reza hingga tubuhnya ikut terseret di atas aspal. Darah segar mulai mengalir membuat warna kemeja krem yang dipakai Reza berubah menjadi merah. Liontin serta Risa berteriak histeris, keluar dari mobil, dan menghampiri Reza yang sudah terkapar tak sadarkan diri.


__ADS_2