TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 27: Day 2


__ADS_3

Sayup terdengar suara adzan Subuh. Hasna menggeliat dari kasur empuknya. Baru kali ini dia tidur seperti orang pingsan. Sepulang dari Kuta, rombongan sekolahnya langsung check-ln hotel. Malam itu, Hasna langsung tidur setelah membersihkan diri. Rasa kantuk menyerangnya bertubi-tubi.


Hasna merengangkan ototnya yang kaku, kemudian mengambil air wudhu, dan sholat. Setelah selesai sholat, barulah Hasna mandi dan bersiap untuk sarapan. Ketika membuka pintu kamar, di waktu yang bersamaan Cio juga keluar dari kamarnya. Kamar mereka berdua berseberangan.


"Pagi," sapa Cio dengan senyum merekahnya.


Hasna membalasnya dengan sebuah senyum manis. Pipi gadis itu merona, dan jantungnya berdetak lebih cepat. Entah mengapa dia begitu senang ketika bisa melihat lelaki itu.


"Ayo, kita sarapan!"


Keduanya berjalan beriringan. Sepanjang perjalanan menuju resto hotel, mereka hanya diam. Saling bergelut dengan pikiran masing-masing. Sesampainya di resto hotel, para karyawan mengarahkan mereka menuju sebuah meja panjang dengan aneka menu makanan yang tersaji di atasnya. Mulai dari nasi, lauk pauk, dan juga beragam minuman ada di sana.


Hasna mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi, tumis sayur, dan sate lilit. Hasna tidak lupa juga mengambil sambal matah khas Bali. Cio mengajaknya untuk duduk di dekat kolam renang kecil di dekat dapur resto.


Rombongan mereka menginap di sebuah hotel sederhana 4 lantai, di daerah dekat Pantai Kuta. Jadi fasilitas yang didapat tidak begitu mewah, tetapi sudah cukup baik untuk rombongan pelajar seperti mereka. Setiap satu kamar hotel, terdapat dua ranjang yang bisa dipakai untuk empat orang.


"Semalam nggak ikut keluar sama Praba dan Fitri?" tanya Cio.


"Nggak, aku langsung tertidur pulas setelah membersihkan diri." Jemari Hasna menari-nari di udara seperti biasa, ketika memakai bahasa isyarat.


"Semalam aku sama Makutha jalan-jalan keluar sebentar. Ramai loh suasananya ketika malam. Nanti malam mau jalan berdua denganku?"


Mendengar ajakan Cio yang tidak biasa, membuat Hasna tersedak. Gadis itu sampai terbatuk-batuk. Cio menyodorkan segelas air putih, lalu menepuk lembut punggung Hasna.


"Pelan-pelan, Na, kalau makan."


Ketika batuknya reda, Hasna langsung melemparkan tatapan tajam kepada Cio. Lelaki itu menggaruk kepala karena tidak mengerti kenapa Hasna malah memicingkan mata.


"Na, kenapa? Kamu marah sama aku?"


"Nggak marah, cuma kesel aja!" Hasna masih menekuk wajahnya dengan bibir mengerucut.


"Kesel kenapa?" Cio terkekeh, dan seketika berhenti saat Hasna kembali menyipitkan mata.

__ADS_1


"Tiba-tiba ngajak jalan berdua. Aku kan kaget, Cio. Kamu sebelumnya nggak pernah begitu. Pasti ngajak temen-temen yang lain 'kan? Kita nggak pernah benar-benar jalan berdua."


Cio melongo melihat gerakan cepat Hasna yang begitu cepat dan penuh emosi. Laki-laki itu kembali menggaruk kepalanya karena tidak tahu maksud Hasna.


"Na, bisa tulis aja, nggak? Aku nggak ngerti." Cio tersenyum canggung takut Hasna tersinggung.


"Astaga, bilang dong dari tadi!" Hasna menepuk jidat kemudian mengeluarkan buku kecilnya.


Dia mulai menuliskan apa yang tadi ia katakan. Setelah Cio membaca tulisan Hasna, bibir lelaki tampan itu membulat.


"Ooo ...." Cio mengangguk-angguk kemudian mengembalikan buku kecil itu kepada Hasna.


"Aku mau mengatakan sesuatu kepadamu, Na. Mau ya? Please ...."


Hasna tertegun. Mengatakan sesuatu?


Akhirnya Hasna mengangguk pelan tanda setuju. Sebuah senyum manis mengembang di pipi Cio hingga memperlihatkan lesung pipinya. Kadar kemanisan Cio pun meningkat drastis.


Hasna menyodorkan buku catatannya kepada Cio. Sontak lelaki itu mengerutkan dahi ketika membaca deretan huruf tersebut.


"Kenapa?"


Aku bisa diabetes kalau setiap hari melihat senyummu yang terlalu manis itu.


Cio terkekeh membaca tulisan terakhir Hasna. Lelaki itu mengusap puncak kepala Hasna yang tertutup oleh jilbab. Hasna sontak tersipu. Gadis itu menunduk untuk menyembunyikan rona merah pada pipinya.


Setelah selesai sarapan, mereka semua keluar dari hotel dan menunggu Komotra. Komotra adalah mini bus yang dicat warna-warni dan bergambar obyek wisata bali. Satu mini bus ini bisa mengangkut 20-30 penumpang sekali jalan. Pintu dan jendela alat transportasi ini tidak dipasangi kaca, sehingga angin bebas keluar masuk ke dalam Komotra.


"Ah, itu Komotra yang kita tumpangi semalam." Cio menunjuk Komotra dengan nomor lambung 20.


Hasna mengangguk kemudian berjalan beriringan bersama Cio. Mereka segera memasuki mini bus tersebut. Tak lama kemudian kendaraan itu penuh. Sang sopir langsung melajukan Komotra menuju area parkir Pantai Kuta.


Namun, ketika hampir sampai, tiba-tiba ada motor yang menyalip dari kiri dan memotong jalan. Sontak sang sopir menginjak pedal rem. Hasna yang duduk di berhadapan dengan Cio tentu saja terjungkal.

__ADS_1


Kini tubuh Hasna berada dalam pelukan Cio. Tatapan keduanya saling beradu. Jantung Hasna berdebar begitu cepat dan tak beraturan. Rasanya seperti sedang lari maraton. Bahkan tanpa ia sadari, dia telah menahan napas.


Begitu juga dengan Cio. Dia dapat menatap wajah Hasna begitu jelas dengan jarak sedekat ini. Tidak sampai satu jengkal jarak wajah keduanya. Cio sampai bisa mencium aroma pewangi pakaian yang menempel pada baju Hasna.


Deheman Makutha membuyarkan fokus keduanya. Hasna langsung mendorong pelan tubuh Cio, dan kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Cio membuang muka sembari mengusap tengkuknya. Lelaki itu tersenyum tipis.


"Cieee ...," goda Praba.


Hasna mencubit lengan Praba karena tidak suka dengan sikap sang teman. Rasa malu kini menyelubungi hati Hasna. Berulang kali dia diam-diam melirik Cio yang mengobrol dengan Makutha. Ada sedikit perasaan kecewa yang bergelayut di dalam hati gadis berjilbab itu.


Cio, apa kamu tidak merasakan getaran rasa yang aku rasakan? Kenapa kamu bersikap biasa saja. Bahkan sepanjang jalan aku selalu berusaha menenangkan debaran jantung yang tak tahu diri ini! gerutu Hasna dalam hati.


...****************...


Jam menunjukkan pukul 14:00 WITA ketika rombongan sekolah Hasna sampai di Desa Penglipuran. Desa ini terletak di Kabupaten Bangli. Ketika memasuki kawasan desa ini, hawa sejuk dapat Hasna rasakan.


Satu hal yang membuat Hasna terpesona. Desa ini terlihat sangat bersih. Tidak ada sampah berserakan, padahal desa ini menjadi salah satu destinasi wisata. Sepanjang jalan terdapat umbul-umbul yang terbuat dari daun kelapa.


Sejauh mata memandang, Hasna dapat melihat tumbuhan hijau yang ditanam di depan rumah warga. Selain itu juga terdapat tanaman bunga. Berbeda dengan selokan pada kompleks perumahan pada umumnya. Selokan di desa ini airnya terlihat jernih dan tidak berbau. Hasna yang penasaran, akhirnya bertanya pada Hans. Gadis itu menuliskan pertanyaannya pada buku, kemudian mengangkat tangan.


"Ya? Ada apa, Geg?" tanya Hans.


Hasna melangkah maju lalu menyerahkan buku catatannya pada Hans. Lelaki itu membaca sekilah untaian kata yang ditulis Hasna kemudian tersenyum tipis.


"Pertanyaan bagus! Siapa namamu?"


Hasna.


"Baiklah, Hasna. Jadi kenapa air selokan di sini jernih dan tidak berbau? Ini karena semua warga sepakat untuk membuang limbah rumahtangga cair ke septic tank."


Hasna dan teman yang lain mengangguk sambil ber-O ria. Beberapa dari siswa memuji sistem pembuangan limbah dari Desa Penglipuran ini. Beberapa dari mereka bahkan berharap agar sistem drainase yang diterapkan oleh warga desa dapat ditiru oleh daerah lain.


"Oh ya, desa ini juga mendapat penghargaan sebagai salah satu Desa Terbersih di Dunia!" seru Hans diiringi tepuk tangan meriah seluruh siswa yanh ikut serta dalam rombongannya.

__ADS_1


__ADS_2