TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 22: Kecemburan Cio


__ADS_3

Makutha yang penasaran, menanyakan penyebab Hasna buru-buru pulang kepada Bu Dewi. Saat dia mengumpulkan lembar soal dan jawaban, Bu Dewi setengah berbisik ketika menjawab pertanyaan Makutha. Begitu mengetahui alasan sebenarnya, Makutha langsung setengah berlari menuju parkiran dan menyusul Hasna.


...****************...


Telapak kaki Hasna naik turun, mengetuk lantai halte yang ia pijak. Dia terus melirik jam yang melingkar di tangannya. Gadis cantik itu mengusap air matanya. Sesekali Hasna menoleh ke ujung jalan, agar mengetahui jika ada bus yang hendak melintas.


Gadis itu kembali menunduk menatap sepatunya yang masih gencar beradu dengan lantai. Suara klakson motor membuatnya mendongak. Ternyata Makutha berhenti di depan Hasna dengan motor bebek kesayangannya. Lelaki itu menyodorkan helm dan diraih oleh Hasna.


"Ayo, aku antar ke Rumah Sakit!"


Hasna langsung naik ke motor Makutha. Mereka membelah jalanan Kota Solo yang tidak begitu padat karena masih jam kerja kantor. Tak lama kemudian, mereka sampai di Rumah Sakit.


Hasna dan Makutha berlari menyusuri koridor Rumah Sakit, menuju ruang ICU tempat Wahyu di rawat. Sesampainya di depan ruangan itu Hasna langsung membanting pintu kasar.


Bintang tersenyum lebar dan menatap haru ke arah Hasna. Gadis itu mulai mendekat ke ranjang Wahyu. Sang tante masih memejamkan mata.


"Bulikmu tadi menggerakkan jari-jarinya. Ketika dokter memeriksa, pupil mata Mbak Wahyu juga mulai merespon." Bintang berkaca-kaca karena rasa haru yang menyeruak di dalam dada.


Hasna terus melangkahkan kaki, mendekati Wahyu. Dia menatap sang tabte dengan tatapan sendu. Gadis itu mendaratkan tubuhnya ke atas kursi, lalu menggenggam jemari perempuan tersebut.


Jari-jari Wahyu bergerak. Hasna dapat merasakan dan melihatnya dengan jelas. Tangis bahagia kembali pecah detik itu juga. Tuhan memang baik, selalu mengabulkan apa yang menurut-Nya baik untuk Hasna. Setelah tangis gadis itu mulai berhenti, Bintanh berpamitan.


"Hasna, Tante pulang dulu, ya? Semoga kesadaran Bulikmu segera pulih seutuhnya."


"Terima kasih, Tante." Hasna menggerakkan jemarinya di depan dada.


Bintang keluar dari ruangan itu. Di depan ruang ICU, Makutha sedang mengamati Hasna dari balik jendela. Melihat ibu dari Cio keluar, Makutha tersenyum.


"Tante." Makutha mendekati Bintang, meraih jemarinya dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengantar Hasna ke sini." Bintang mengedarkan pandangan mencari keberadaan Cio.


"Cio nggak ikut?" tanya Bintang.


"Dia ... belum selesai mengerjakan ujian, Tante."


"Oh, baiklah. Tolong tetap di sini sampai dia datang, ya?"


Makutha mengangguk, tanda menyanggupi permintaan perempuan itu. Bintang melangkah meninggalkan Makutha yang kini menatap punggungnya. Tak lama kemudian, Hasna keluar dari ruang ICU.


"Makutha? Kamu belum pulang?" tanya Hasna dengan bahasa isyarat.


"Belum, nunggu Cio datang. Tadi Tante Bintang memintaku untuk menemanimu." Makutha tersenyum lembut. Dia sedikit lebih lega melihat Hasna yang terlihat lebih tenang.


Semenjak Wahyu koma. Senyum gadis itu seakan sirna. Hasna lebih banyak murung. Emosinya juga sering naik turun serta meledak-ledak.


"Oh, baiklah. Mau makan? Aku belikan di kantin. Tolong tunggu di sini sebentar, ya?" Hasna kembali menggerakkan lengan dan jemarinya.


"Biar aku saja yang ke kantin. Kamu tunggu di sini," ucap Makutha.


Laki-laki itu langsung beranjak pergi menuju Kantin. Sesampainya di kantin, Makutha langsung menuju etalase yang berjejer beraneka makanan. Dia memesan dua bungkus nasi dengan lauk balado terong, tumis buncis, dan juga sayap.


Makutha tersenyum tipis ketika si penjual mulai membungkuskan makanan itu untuknya. Belakangan ini, dia jadi tahu banyak hal mengenai Hasna. Kebiasaan tidurnya, apa yang gadis itu sukai, maupun yang tidak ia sukai. Menu makanan sederhana tersebut adalah salah satunya.


Hasna makan dengan lahap hanya dengan lauk seperti itu. Gadis itu simbol dari kesederhanaan di tengah jaman edan ini. Jaman dimana gengsi menempati kasta tertinggi dalam sebuah hubungan sosial. Hasna tetap menjadi pribadi yang sangat sederhana dan apa adanya.


Setelah selesai membayar, Makutha langsung kembali dengan kantong plastik berisi nasi bungkus dan juga dua cup es jeruk. Makutha bersenandung sepanjang perjalanan sembari tersenyum tipis.


"Hasna!" panggil Makutha.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Hasna menoleh. Gadis itu tersenyum lembut kemudian beranjak dari kursi. Jantung Makutha berdetak lebih cepat hanya dengan melihat senyum manisnya. Makutha mengatur napas agar detak jantungnya kembali normal.


"I-ini, makanlah!" Makutha menyodorkan kantong plastik tersebut.


Hasna meraihnya, lalu menyerahkan kembali satu bungkus nasi dan satu es jeruk untuk Makutha. Keduanya makan dalam diam. Makutha melirik nasi bungkus Hasna yang sebentar lagi habis. Di sana tinggal kulit ayam yang sengaja disisihkan oleh Hasna.


Makutha tersenyum tipis melihatnya. Salah satu kebiasaan Hasna saat makan ayam, adalah menyisihkan kulit untuk dimakan terakhir. Selain ayam, Hasna juga sering menyisihkan kuning telur untuk dimakan terakhir.


Hasna pernah bercerita kepada Makutha, dia lebih senang memakan apa yang tidak ia sukai sebelum menghabiskan makanan. Dia berpikir, itu sangat efektif untuk tetap menghabiskan makanan. Hasna nenganggap makanan terakhir sebagai bentuk penghargaan untuk dirinya sendiri, karena sudah mau menelan menu lain yang tidak ia sukai.


Begitu juga dengan kehidupan. Hasna memakai prinsip ini ketika menghadapi masalah. Dia yakin di akhir masalah akan ada hal yang ia sukai, sebagai hadiah dari Tuhan karena usahanya menghadapi masalah tersebut.


Ketika sedang asyik menatap Hasna, tanpa Makutha sadari, ternyata gadis itu sedah memanggilnya beberapa kali. Sampai akhirnya sebuah tepukan di bahu menyadarkannya.


"Ha? Ya, ada apa, Na?" gagap Makutha.


Hasna menunjuk bagian bawah bibirnya sendiri. Dia ingin memberi tahu bahwa ada nasi yang menempel di bawah bibir Makutha. Sontak Makutha menggerakkan jemarinya untuk membersihkan nasi tersebut. Namun, Hasna mencegahnya.


Gadis itu mengeluarkan ponsel, lalu menyalakan kamera depan. Setelah itu dia menyodorkan benda pipih tersebut kepada Makutha. Sekarang Makutha dapat melihat wajahnya dari layar ponsel.


Makutha tersenyum tipis, kemudian memungut sebiji nasi tersebut. Tanpa Hasna sadari, dia menatap Makutha serius. Wajahnya memanas seketika.


Tampan, batin Hasna.


Sesaat kemudian, Hasna mengerjap. Dia berusaha mengusir pikiran anehnya dari kepala. Detik itu juga Hasna mengalihkan pandangan, dan kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut. Saat hendak mengambil kulit ayam favoritnya, tiba-tiba Makutha memanggilnya.


"Hasna, buka mulutmu!" seru Makutha.


Awalnya Hasna hanya menautkan kedua alisnya. Akan tetapi, akhirnya dia membuka mulut ketika Makutha memintanya lagi. Tanpa Hasna duga, Makutha menyuapkan kulit ayam miliknya ke dalam mulut Hasna.

__ADS_1


Mendapat perlakuan.manis dari Makutja tentu saja membuat Hasna tersipu. Dia membuang muka untuk menyambunyikan wajahnya yang kini lebih mirip buah ceri.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasi keduanya. Jemari orang itu mengepal erat dan rahangnya mengerat, hingga menimbulkan otot lehernya yang semakin terlihat jelas.


__ADS_2