
"Akkk ... perutku!" pekik Liontin sambil memegang perutnya yang masih terlihat datar.
"Kenapa?" David langsung beranjak dari kursi dan menghampiri Liontin.
"Pe-perutku ...."
"Sakit? Ayo duduk." Suara David tetap terdengar tenang. Namun, ekspresi wajahnya kali ini terlihat panik.
David memapah Liontin kemudian menarik kursi dan memintanya untuk duduk di atasnya.
"Kenapa perutmu? Sakit? Aku ambilkan sesuatu untuk meringankan rasa sakitnya, tunggu di sini!"
Lelaki itu segera berjalan ke arah dapur dan mengambil baskom. Lalu dia membawanya ke kamar mandi dan mengisinya dengan air hangat. Selepas semuanya siap, lelaki itu menyelupkan handuk ke dalam baskom dan memerasnya.
"Buka sedikit bajumu."
"Ha?" Liontin terbelalak kini dua lengannya disilangkan di depan dada.
"Aduh, apa yang ada di otakmu itu? Aku mau mengompres perutmu agar rasa sakitnya berkurang!" David menunjukkan handuk dalam genggamannya sambil menggelengkan kepala.
"Ooo ... tapi sebenarnya perutku tidak sakit, Tuan," kata Liontin sambil tersenyum geli.
"Apa!" Alis David kini saling bertautan.
__ADS_1
"Itu ... perutku seperti berkedut. Jedut-jedut begitu."
"Astaga, Liontin! Kamu membuatku panik! Itu tandanya bayimu sedang bergerak!"
"Bayiku?" lirih Liontin.
Mendengar ucapan David membuat hati Liontin nyeri. Kini air mata membuat pandangannya buram. Dia merasa bahwa David tak menginginkan bayi yanh sedang ia kandung. Nafsu makan seketika menghilang. Perempuan itu beranjak dari kursi dan melangkah menuju pintu.
"Hei, Ontin! Kamu mau ke mana?" teriak David.
"Mendadak A-NAK-KU tidak ingin menginap di sini!" seru Liontin menekankan suara pada kata 'anakku'.
"Astaga! Aku salah bicara!" David menepuk jidat.
Liontin terus melangkah keluar dari rumah David. Dia membanting pintu kasar. David terus mengekor di belakang Liontin berusaha untuk mencegahnya pergi.
"Aku punya kunci cadangan rumah!"
"Ta-tapi tetap saja! Astaga!"
Tanpa mau berjuang lebih, akhirnya David menghentikan langkahnya ketika sampai di depan gerbang. "Terserah! Pulanglah ke sana! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku!" David berteriak kemudian memukul pintu pagar secara kasar.
Liontin terus melangkah cepat menyusuri jalanan yang sangat sunyi. Angin malam yang menusuk seakan menguliti perempuan itu. Air matanya bercucuran dengan hati yang porak poranda.
__ADS_1
"Jangan pernah mengemis kepadaku untuk menemui Jia! Aku sudah tidak sudi kembali ke rumah itu!"
Sejak hari itu, Liontin benar-benar tidak pernah menemui Jia. Setiap David datang mengantar Jia, dia meminta Nyonya Oey untuk menemui lelaki itu dan mengatakan bahwa Liontin sedang keluar.
...****************...
Lima bulan kemudian ....
Hal yang sama terjadi pagi itu, David datang sambil menggendong Jia. Akan tetapi, Nyonya Oey sedang tidak ada di rumah. Akhirnya Liontin memutuskan untuk tetap diam di balik pintu.
"Liontin, tolong buka pintu. Jia sangat merindukanmu."
Liontin menyandarkan punggung pada daun pintu sambil mengelus perut buncitnya. Kandungan Liontin kini sudah memasuki usia 39 minggu. Dia tinggal menunggu hari kelahiran anaknya.
"Mama ...," rengek Jia.
"Sebentar saja, tolong temui Jia. Aku tahu kamu di dalam. Aku minta maaf karena telah menyinggung perasaanmu malam itu. Tapi Jia tidak salah apa pun. Tolong temui dia."
Liontin bergeming. Dia tetap membisu tanpa mau menjawab. Setelah hampir satu jam membujuk, akhirnya David menyerah. Dia meninggalkan kediaman Nyonya Oey sambil menggendong Jia yang terus meronta dan menangis.
Usai David pergi dari rumah, Liontin terduduk lesu. Dia menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan mati-matian. Perempuan itu selalu menangis setiap Jia pergi sambil menangis histeris saat tidak berhasil bertemu dengannya.
"Apa aku terlalu jahat?"
__ADS_1
Sesaat kemudian Liontin merasakan perutnya sakit luar biasa. Dia berusaha bangkit dan kembali berjalan. Baru beberapa langkah berjalan, perempuan itu merasa ada sesuatu mengalir dari jalan lahir. Saat melongok ke bawah, lantai sudah dibanjiri oleh air ketubannya yang pecah.
"Akkk ... tolooong! Siapa pun, tolong aku!"