
Liontin membuka pintu rumahnya yang masih terkunci. Langit sudah berubah gelap ketika dia sampai di rumah. Keadaan rumah begitu kacau. Perempuan itu sampai geleng-geleng kepala karenanya. Di bak cuci piring, ada sekitar tiga tumpukan piring kotor dan juga beberapa gelas bekas kopi. Ada juga panci yang sepertinya dipakai membuat mi instan.
"Astaga, apa ini?" gerutu Liontin.
Cincin yang baru saja menyusul sang adik ke dapur, ikut menggeleng keheranan melihat kekacauan yang sang adik ipar buat. Perempuan itu meraih celemek yang menggantung di dinding dekat kulkas, kemudian memakainya.
"Kamu istirahat saja. Biar aku yang bereskan semua ini."
"Tolong, ya Mbak? Aku capek. Biar aku yang awasi Makutha sama Nana main."
"Iya, sana! Pergilah!" seru Cincin sambil tersenyum.
Liontin melangkahkan kaki, dan masuk ke kamar kecil yang khusus dibuat untuk arena bermain Makutha. Di dalam ruangan berukiran sembilan meter persegi itu terdapat beberapa rak buku kecil. Di dalamnya tertata rapi beraneka buku bacaan khusus anak-anak.
Selain itu, terdapat perosotan, ayunan, dan juga jungkat-jungkit berukuran kecil. Kebanyakan mainan yang ada di sana berbau anak laki-laki, seperti mobil-mobilan, robot-robotan, dan ada berbeda puzzle beraneka jenis.
Makutha dan Nana sedang tengkurap di atas karpet rasfur sambil mewarnai buku. Keduanya terlihat begitu fokus sampai tidak menyadari, bahwa Liontin sudah masuk ke ruangan itu dan mengamati mereka.
"Sepertinya seru sekali! Boleh, Bunda ikut bergabung?" tanya Liontin sambil tersenyum lembut.
"Boleh, Bunda!" teriak Makutha.
Liontin berakhir di ruangan itu bersama Makutha dan Nana. Dia menemani mereka mewarnai, membaca, bermain puzzle, dan game sederhana sambung kata. Keasyikan ketiganya berhenti ketika Cincin mengetuk pintu dan masuk ke ruangan itu.
"Ayo, kita makan dulu!" ajak Cincin.
Makutha dan Nana berlari terlebih dahulu menuju meja makan. Sedangkan Liontin dan Cincin berjalan perlahan sambil sedikit berbincang.
"Biasanya Reza pulang jam berapa?"
"Sebentar lagi pulang, Mbak. Tapi tergantung kerjaan juga, sih," jawab Liontin sambil tersenyum lembut.
"Ya sudah, kita makan duluan aja. Biar Reza nanti makan belakangan. Aku udah pisahin lauk buat dia, kutaruh kulkas ntar tinggal diangetin aja."
"Iya, makasih, Mbak."
...****************...
Jam menunjukkan pukul 21:00 ketika Reza membuka mata. Lelaki itu ketiduran di sofa tempat Berlian dirawat. Dia menggeliat dan meregangkan ototnya, kemudian mengambil posisi duduk. Reza melirik arloji yang melingkar di tangannya.
"Astaga, sudah jam segini." Reza mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Dia mulai berdiri dan hendak berjalan ke arah pintu. Namun, seketika langkahnya berhenti saat melihat sebuah pemandangan menakjubkan di depannya. David sedang tidur tertelungkup, dengan kepala disandarkan di atas ranjang pasien. Sedangkan Berlian masih terjaga sambil memainkan ponselnya.
"Aku pulang dulu," pamit Reza dengan suara lirih.
"Iya, terima kasih." Berlian tersenyum lembut ke arah sang mantan kekasih.
Reza akhirnya keluar dari kamar inap Berlian dan mulai berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang mulai sepi. Suara sepatu pantofelnya yang beradu dengan lantai menemani perjalanan Reza menuju tempat parkir. Dia merasakan getar ponsel, kemudian merogoh benda pipih itu.
"Liontin?" Reza mengerutkan dahi kemudian membuka enam pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Kesayangan: [Sayang, ada dimana?]
...Kesayangan: [Yang, kok belum pulang?]...
Kesayangan: [Ayah, kamu ke mana, sih?]
Kesayangan: [Yah,]
Kesayangan: [Ya Tuhan! Kamu kemana, sih, Yah!]
Kesayangan: [Kak Reza!]
"Kenapa pulang nggak bilang-bilang, sih?" gerutu Reza kesal.
Hanya membutuhkan waktu seperempat jam untuk sampai di rumahnya. Reza membanting pintu mobil kasar, kemudian setengah berlari menuju pintu yang menghubungkan garasi dengan ruang tengah.
Hati Reza mencelos ketika melihat sang istri tertidur di sofa. Lelaki itu melangkah pelan dan menghampiri sang istri yang sedang tertidur lelap. Bibir Liontin sampai terbuka dan mengeluarkan dengkuran yang lumayan kasar.
"Astaga, pasti lelah sekali, ya. Maaf, sudah membuatmu menunggu," ucap Reza sambil menyelipkan anak rambut sang istri ke belakang telinga.
Reza membopong tubuh sang istri dan membawanya masuk ke kamar. Setelah itu, dia merebahkan tubuh Liontin ke atas ranjang. Pria itu koni masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan ritual mandinya.
Setelah mengganti baju, dia mendekati Liontin dan menghujaninya dengan ciuman. Reza terkekeh melihat sang istri yang mulai menggeliat. Perlahan Liontin membuka mata.
"Kak Reza, kok baru pulang?" Liontin mengucek mata agar pandangannya fokus.
"Maaf, ya. Aku tadi menemani Berlian dulu."
Mendengar kata Berlian, sontak membuat kesadaran dan rasa jengkel Liontin beberapa jam lalu kembali. Perempuan itu membuang muka dan memunggungi sang suami. Reza tersenyum geli melihat sikap posesif sang istri. Sejujurnya dia suka sikap Liontin yang sekarang, walaupun terladang membuatnya pusing.
"Iya, Berlian tadi mengalami kecelakaan kecil dan mengalami pendarahan. David membawanya ke rumah sakit." Reza tersenyum simpul.
__ADS_1
"Kebetulan aku masih di sana. David memintaku untuk menjaga Berlian sementara waktu, karena dia harus menepati janjinya terhadap Jia," jelas Reza.
"Lalu, bagaimana keadaan Berlian sekarang?" tanya Liontin panik.
Reza benar-benar kagum terhadap Liontin. Orang lain, pasti tidak akan memedulikan lagi jika mendapat kabar buruk, dari orang yang sudah memperkeruh keadaan rumahtangga mereka. Namun, Liontin berbeda. Perempuan itu tetap khawatir dan masih peduli atas hal buruk yang dialami Berlian.
"Kamu masih sempat, ya khawatir terhadap kondisi Berlian. Padahal dia sudah berbuat jahat kepada kita." Reza tersenyum tipis, kemudian membawa sang istri ke dalam pelukannya.
"Bagaimana pun juga, dia juga salah satu sahabat yang mau berteman denganku. Walau banyak selisih paham di antara kami, sebenarnya Berlian orang yang baik."
"Aku jadi makin cinta sama kamu, Sayang."
Mendengar ungkapan cinta dari sang suami membuat Liontin tersipu malu. Pipinya seketika memanas. Reza melepaskan pelukannya, kemudian merangkum wajah cantik sang istri.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Reza.
"Sudah, tapi aku lapar lagi." Liontin terkekeh sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.
"Ya sudah, ayo kita makan. Tapi ...."
"Tapi, kenapa, Yang?" Liontin mengerutkan dahi.
"Aku mau hidangan pembuka, sebelum makan malam."
"Mau makan apa? Di kulkas ada jagung manis. Aku masakin bakwan jagung, mau?" Liontin hendak beranjak, tetapi ditarik oleh sang suami.
Kini tubuh Liontin berada di pangkuan Reza. Reza tersenyum penuh arti kemudian berbisik, "Aku mau hidangan pembukanya kamu. Sayang, aku rindu ...."
Tanpa basa-basi, Reza langsun6h menyerang bibir Liontin bertubi-tubi. Napas perempuan itu sampai tersengal-sengal karena ganasnya ciuman sang suami. Akhirnya, Liontin memukul dada Reza agar ciuman lelaki itu terlepas.
"U-udah dulu, ya? Ki-kita makan beneran dulu, dedek dalam perut udah kelaparan," ucap Liontin terbata-bata.
Reza terkekeh kemudian menggandeng jemari sang istri. Keduanya menikmati makan malam dengan hati senang. Keduanya berharap, setelah ini hubungan mereka bertambah semakin kuat.
...****************...
Hai, bestie.
Mampir juga, ya, ke karya salah satu teman author Chika.❤❤❤
__ADS_1