
Ketukan pintu kamar membuat Hasna menggeliat. Gadis itu menyingkap selimut, kemudian melirik jam yang menempel pada dinding. Jam menunjukkan pukul 6. Hasna beranjak dari kasur, lalu membuka pintu kamar.
Makutha sudah berdiri di depan kamar dengan koper di sampingnya. Hasna mengucek mata, mencoba memfokuskan pandangan. Gadis itu mengerutkan dahi.
"Tha, mau ke mana sore-sore begini?" tanya Hasna.
"Sore? Na, kamu tuh ya, tidur kayak orang pingsan! Ini looo udah jam 6 pagi!" seru Makutha.
"Ha! Nggak mungkin lah! Orang perasaan aku baru tidur!"
"Dih, nggak percaya! Coba liat tanggal di HP-mu!"
Hasna langsung berlari ke dalam kamar, lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Gadis itu membuka layar benda pipih tersebut, dan benar saja. Sekarang sudah ganti hari.
"Aku pamit! Aku hari ini ikut papa ke Taipei!" seru Makutha lalu balik badan tanpa menunggu jawaban dari Hasna.
Hasna mematung. Ingin sekali dia mencegah Makutha pergi. Akan tetapi, gadis itu sadar dia bukanlah siapa-siapa bagi Makutha. Air mata Hasna menetes, tanpa balik badan dia berteriak kencang.
"Sana! Pergi saja! Aku tidak peduli! Jangan pernah kembali kalau perlu!"
Makutha menghentikan langkah. Dia langsung menyadari detik itu juga, bahwa Hasna tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Artinya, David akan benar-benar membawanya pergi. Kepergiannya kali ini memang seperti ajang taruhan antara dia, David, dan Reza.
Mereka sepakat jika Hasna tidak memiliki perasaan terhadap Makutha, lelaki itu wajib ikut dengan David dan menerap di Taipei. Namun, jika Hasna memiliki perasaan yang sama dengan Makutha, dia bebas memilih. Tetap tinggal di Indonesia atau kemanapun yang ia mau. Makutha balik badan, kemudian kembali melangkah mendekati Hasna.
"Oke! Aku nggak akan kembali lagi! Toh, aku akan tinggal dan menetap di sana! Aku akan pindah Kewarganegaraan!" seru Makutha.
Hasna terbelalak mendengar kenyataan yang diucap oleh Makutha. Dia tak menyangka apa yang ia katakan akan segera terjadi. Mulai hari ini, dia akan kehilangan sosok Makutha yang ceria, tetapi kadang menjengkelkan itu.
Hasna mengusap air mata, kemudian menelan rasa sedihnya. Perlahan dia membalikkan badan. Hasna menatap Makutha sembari tersenyum miring. Tak lupa, dia juga berkacak pinggang.
"Baguslah! Sana pergi! Aku bisa memonopoli keluargamu di sini! Tidak ada lagi Makutha yang menjengkelkan! Tidak ada lagi Makutha yang terus menjahili dan mengejekku!" seru Hasna, bibirnya gemetar ketika mengucapkan kalimat tersebut.
Hasna mati-matian menahan tangisnya agar tidak pecah. Makutha tersenyum kecut. Dia semakin yakin kalau Hasna tidak pernah menaruh hati padanya. Lelaki itu mendekati Hasna, dan menatap dalam ke mata gadis cantik itu.
__ADS_1
"Na, tolong katakan agar aku jangan pergi! Sekali saja! Maka aku akan mempertimbangkan lagi keputusanku!" Makutha mencoba mengeluarkan jurus terakhir.
Sejujurnya Makutha tidak ingin berpisah dengan Hasna. Namun, egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Begitupun sebaliknya, Hasna juga merasakan hal yang sama. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Makutha. Lelaki itu bisa memberi rasa aman. Menghiburnya ketika merasa sedih. Menemani Hasna saat dia merasakan kesepian.
"Kamu pikir aku mau mengatakannya? Pergilah! Aku sudah muak melihatmu!" seru Hasna.
Makutha semakin mendekatkan tubuhnya pada Hasna. Dia mendekatkan wajahnya pada gadis tersebut. Lelaki itu ingin memastikan bahwa Hasna menginginkannya.
Makutha menatap intens manik mata Hasna. Gadis itu pun menatapnya tajam. Ketika Makutha hendak mendekatkan bibir pada gadis kesayangannya itu, Hasna berpaling. Kecewa, adalah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Makutha saat ini.
"Baiklah, aku pergi sekarang." Makutha keluar dari kamar Hasna, lalu menutup rapat pintunya.
Hati Makutha patah seketika. Lelaki itu melangkah gontai menuruni anak tangga. Di ruang keluarga, David, Berlian, dan Giok sudah menantinya.
"Kamu yakin, Tha? Kalau nggak yakin pergi, jangan dipaksakan." Liontin menatap nanar putra kesayangannya itu.
Rasanya berat melepas kepergian Makutha. Baru kali ini dia dan Makutha akan berpisah dalam waktu lama. Sebelumnya mereka tak pernah berpisah barang sedetik pun, kecuali ketika bersekolah atau acara lain. Selebihnya ibu dan anak itu menghabiskan banyak waktu bersama.
"Nggak apa-apa, Bun. Bunda jaga diri, ya?"
"Tha, ayo! Takut terlambat." David mengingatkan Makutha untuk segera berangkat.
Makutha tersenyum sekilas. Dia kembali menatap pintu kamar Hasna yang masih tertutup rapat. Lelaki itu langsung beranjak pergi setelah berpamitan dengan sang ibu dan Reza.
Di sisi lain, Hasna sedang menatap kepergian Makutha dari balik jendela kamar. Taksi online mengantar kepergian mereka menuju bandara. Hasna terus menatap mobil tersebut hingga hilang dari pandangannya.
"Kenapa hatiku nggak tenang begini?" gumam Hasna.
Gadis itu masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia langsung berpakaian rapi. Hasna melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah satu jam sejak Makutha meninggalkan rumah.
"Bukankah seharusnya masih bisa menyusul ke Bandara? Aku mau mengucapkan kata perpisahan yang manis." Hasna segera meraih tas ransel kecil, lalu keluar kamar.
Ketika sampai ruang keluarga, Liontin menghardiknya. Dia menanyakan kemana Hasna hendak pergi. Setelah mengetahui tujuan Hasna, Liontin meminta Reza mengantar gadis itu sampai Bandara. Keduanya langsung menuju garasi dan membelah jalanan yang mulai ramai.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Hasna terus berdoa. Dia berharap masih bisa bertemu dengan Makutha, sebelum lelaki itu benar-benar pergi. Tak terasa air mata Hasna bercucuran. Reza tersenyum simpul melihat Hasna yang sedang panik.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, akhirnya mereka sampai di Bandara YIA Yogyakarta. Tepat ketika Hasna menginjakkan kaki di dalam Bandara, terdengar pengumuman dari pengeras suara. Pesawat yang ditumpangi Makutha telah lepas landas.
Kaki Hasna seakan lemas. Dia tersungkur di atas lantai. Hasna menekuk kaki, kemudian menangis sejadi-jadinya. Rasa sesal kini bergelayut di hati perempuan itu. Air mata Hasna bercucuran membasahi pipi.
"Tha, jangan pergi! Aku nanti nggak ada temen berantem! Aku nggak ada lagi partner menggila saat setres! Tha, jangan pergi!" teriak Hasna di antara isak tangisnya.
"Na ...."
"Kurasa aku sudah gila! Suaramu kenapa terdengar begitu nyata di telingaku, Tha!"
"Hasna ...."
Hasna mendongak. Gadis itu terbelalak, mendapati tubuh tegap Makutha memayungi dirinya. Hasna mengusap air mata, takut kalau kali ini dia salah lihat. Pandangannya sedikit kabur karena air mata.
Setelah mengusap sisa tangisnya, kini terpampang jelas di hadapan Hasna. Lelaki itu benar-benar Makutha. Sontak Hasna berdiri dan menghambur ke pelukannya.
"Tha, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri! Hidupku akan terasa kurang lengkap tanpamu. Seperti makan mi ayam tapi tanpa ayam. Kayak minum es teh, tapi nggak pake es batu."
Makutha terkekeh mendengar perumpamaan yang disebut Hasna. Lelaki itu benar-benar bahagia saat ini. Walaupun cara penyampaian Hasna berbeda, dia dapat merasakan getaran cinta melalui pelukan yang diberikan oleh gadis itu.
"Iya, aku nggak jadi pergi sesuai janji, karena kamu yang meminta. Udah dong, nangisnya. Yuk, kita pulang!" Makutha mengusap air mata Hasna, lalu menggandeng jemarinya.
Keduanya berjalan beriringan sambil menautkan jemari satu sama lain. Ada getaran aneh yang mengguncang hati Hasna saat ini. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaan bahagia yang kini ia rasakan. Gadis itu berhasil membawa Makutha pulang.
Begitu juga dengan Makutha. Lelaki itu sangat bahagia, karena bisa mendengar dari bibir gadis pujaannya itu, bahwa dirinya merupakan salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Pelengkap hidupnya. Makutha berjanji dalam hati untuk terus menjaga Hasna sepenuh hati, jiwa, dan raga.
Walau keduanya tidak salinhlg mengucapkan kata sayang, tetapi hati mereka tertaut satu sama lain. Hasna dan Makutha saling melengkapi. Keduanya saling mengisi. Sebuah rasa yang tercipta karena terbiasa bersama, benar-benar terjadi kepada mereka. Witing tresno jalaran soko kulino (bermulanya cinta karena terbiasa).
...-TAMAT-...
Akkkk lanjut kisah balas dendam Makutha gak nih?
__ADS_1
Tapi setelah Chika tamatin karya yang buldep rilis yaa. Jangan lupa mampir. Sambil nunggu "Burung Suamiku Meresahkan" tayang, mampir dulu ke sini, ya.