TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 88. Percobaan Penculikan


__ADS_3

Cincin memeriksa setiap bilik toilet yang dimasuki Makutha terakhir terpantau CCTV. Akan tetapi, dia sama sekali tidak menemukan Makutha maupun perempuan yang mirip dengannya. Cincin semakin panik. Dia setengah berlari keluar dari toilet dan menghampiri Reza dan David.


"Nggak ada! Gimana ini?" Mata Cincin mulai berkaca-kaca. Rasa bersalah dan menyesal kini menghantui hati serta pikirannya.


"Maaf, aku tidak becus mengawasi anak kalian!" Mata dan hidung Cincin mulai memerah. Perempuan itu menghapus bulir bening yang kini meluncur membasahi pipi.


"Kita lapor ke kantor polisi, untuk mencari bantuan. Aku khawatir perempuan itu sengaja menculik Makutha."


Akhirnya mereka mendatangi kantor polisi terdekat, berniat untuk melaporkan Makutha yang tiba-tiba menghilang. Baru saja Reza hendak masuk ke kantor polisi, sebuah panggilan telepon masuk. Reza menelan ludah kasar karena ternyata sang istri lah yang telah menghubunginya.


"AYAH DI MANA!" teriak Liontin dengan suara yang sukses membuat telinga Reza berdengung.


"Aku ...."


"Mbak Cincin gimana, sih? Kok Makutha dibiarkan menyusulku sendirian?"


"Ma-Makutha di situ?" Reza terbelalak.


Ocehan Liontin berlangsung hingga 15 menit, sampai-sampai telinga Reza panas dibuatnya. Setelah selesai mengomel, Liontin memutuskan sambungan telepon. Reza, David, Cincin, dan Nana langsung balik kanan untuk menyusul mereka ke Rumah Sakit.


Di Rumah Sakit, Liontin tak henti-henti menggerutu. Dia kesal karena tiba-tiba dipanggil salah seorang perawat yang memintanya untuk turun ke lobi. Mereka mengatakan bahwa Makutha mencarinya.


"Utha, bagaimana bisa sampai sini sendirian?" tanya Liontin sembari berjongkok di depan sang putra.


"Tadi, Utha kabul dari tante penculik!"

__ADS_1


"Penculik?" Pupil mata Liontin melebar dan kedua alisnya terangkat.


"Iya ... tante itu sama sepelti Budhe pakaiannya. Dia menalik tangan Utha pas main kejal-kejalan sama Kak Nana!"


"Coba ceritakan sama Bunda, pelan-pelan."


Makutha mulai menceritakan detail kejadian yang baru saja menimpanya. Jantung Liontin seakan melompat keluar mendengar setiap kalimat yang Makutha ucapkan.


...****************...


"Kejal aku, Kak Nana! Wek wek wek! Nggak kena!" ejek Makutha sambil menjulurkan lidahnya dan menggerakkan jari-jarinya di samping telinga.


"Utha, awas, ya kalau ketangkep!" seru Nana.


Cincin berteriak sambil berlari di belakang mereka. Napasnya hampir putus karena mengejar dua anak yang memiliki energi berlebihan itu. Namun, sesaat kemudian Nana berubah panik. Gadis kecil itu meneriakkan nama Makutha berkali-kali sambil menangis sesenggukan.


"Utha hilang di situ, Bu!" seru Nana sambil menunjuk kerumunan orang yang sedang memilih baju.


Di sisi lain, Makutha yang merasa sedang menggandeng tangan Cincin terus mengikuti langkah perempuan asing itu. Bocah tampan tersebut sibuk menjilat es krim yang tadi diberikan kepadanya. Tak lama kemudian, dia merasakan kantuk yang luar biasa.


"Anaknya sudah ada bersama saya, Pak."


"Bawa dia ke sini!"


"Baik."

__ADS_1


Singkat cerita, ketika Makutha terbangun. Dia sedang berada di sebuah pom bensin. Bocah kecil itu baru menyadari bahwa perempuan itu berniat buruk terhadapnya. Awalnya Makutha panik bukan main. Dia ingin berteriak, tetapi takut jika perempuan dewasa itu menyakitinya.


"Tante, aku pengen pipis," kata Makutha sambil merapatkan paha layaknya orang yang sedang menahan buang air kecil.


"Ya sudah, ayo!"


Keduanya turun dari mobil, dan menuju toilet. Saat perempuan itu lengah, Makutha berlari menghampiri seorang tukang ojek online, yang sedang mencari pelanggan di depan tempat pengisian bahan bakar tersebut.


"Om, tolongin aku! Aku mau diculik sama tante itu!" teriak Makutha sambil menunjuk perempuan muda yang tengah berlari ke arahnya.


"Mas, jangan percaya bocah nakal itu! Dia mau kabur menemui ayahnya yang kasar! A-aku ibunya!"


"Berapa tanggal lahirnya?" tanya si tukang ojek.


"Ah, ehm ... itu ...." Perempuan itu terlihat berpikir. Dia memalingkan wajah sambil mengigit bibir bawahnya.


"Kamu pergi sekarang, atau aku laporkan ke Kantor Polisi!" Tukang ojek itu mencoba untuk mengancam si penculik.


Perempuan itu berdecak kesal kemudian mengambil langkah seribu, masuk kembali ke mobilnya. Makutha tersenyum puas dan mengucapkan terima kasih kepada sang tukang ojek.


"Baiklah, rumahmu di mana? Ayo, Om antar!"


...****************...


Sambil nunggu TKI update, mampir dulu, yuk ke karya salah satu author kece ini. ❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2