
Reza dan Liontin sontak menoleh ke arah sumber suara. Mereka sama-sama terbelalak karena kehadiran Risa, ibu Reza.
"Mama ...."
Reza tak menyangka sang ibu menyusulnya di tempat itu. Dia mendekati sang ibu kemudian menarik perlahan lengannya.
"Mama ngapain ke sini?" Reza terlihat kebingunan.
"Siapa dia?" Risa menatap Liontin dengan tatapan sinis sambil melipat dengan di depan dada.
"Ma ...."
"Mama tanya, siapa dia!" teriak perempuan paruh baya itu. Suaranya begitu keras hingga menggema di ruangan itu.
"Dia ... temanku," jawab Reza ragu sambil menundukkan kepala.
Entah mengapa ada perasaan kecewa yang dirasakan Liontin ketika mendengar jawaban Reza. Akan tetapi, Reza tidak salah. Antara dia dan lelaki itu tidak ada ikatan apapun. Liontin mengembuskan napas kasar untuk menghempaskan kekecewaannya.
"Teman? Mana ada, teman dibelikan rumah seharga satu milyar?" Risa tersenyum miring sambil menatap Liontin daei ujung kaki hingga ujung kepala.
Mendengar ucapan Risa tentu saja membuat Liontin terbelalak. Sontak dia melihat ke arah Reza. Lelaki itu tertunduk lesu sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kak, benar itu?" Liontin memicingkan mata menuntut penjelasan dari Reza.
"Memang rumah ini aku yang beli. Tapi sertifikat atas namaku, dan kusewakan kepadamu. Jadi, aku tidak sepenuhnya berbohong."
__ADS_1
Risa seketika bungkam. Dia menghentakkan kaki kuat-kuat kemudian balik badan dan mulai menuruni anak tangga.
"Maafin mamaku, ya? Dia memang begitu orangnya." Reza tersenyum tipis sambil menangkupkan tangan di depan dada.
Liontin hanya bisa membuang napas kasar, kemudian mengangguk. Reza membantu Liontin merapikan rumah itu hingga langit berubah menjadi gelap.
"Makan dulu, ya, Kak?"
"Boleh. Tapi apa kamu nggak capek buat masak?"
"Pesan aja, deh, kalau gitu. Di samping tadi aku lihat ada gulai ikan kakap. Mau?"
"Kita ke sana, yuk!"
Keduanya beranjak pergi di Rumah Makan sederhana samping bangunan dua lantai itu. Suasana Rumah Makan itu terlihat menyenangkan. Alunan musik akustik menemani keduanya ketika menunggu pesanan datang.
"Iya, aku juga tidak menyangka. Banyak hal yang aku lewatkan selama ini." Reza menyedot jus mangga perlahan sambil terus mendengar Liontin bicara mengenai masa lalu.
"Oya, sebenarnya Kakak di Taiwan kerja apa?"
Reza tersedak ketika Liontin mengajukan pertanyaan itu. Liontin mengusap semburan jus mangga yang membasahi meja.
"Ih, Kak Reza jorok!" teriak Liontin.
"Ma-maaf." Reza meraih tisu yang ada di meja kemudian mengusap bibirnya.
__ADS_1
Liontin mengerucutkan bibir sambil terus mengomel. Perempuan itu menghentikan aktivitasnya saat melihat area mulut Reza yang masih kotor. Dia mendekat hendak mengusap sisa jus mangga itu. Namun, Reza menangkap pergelangan tangannya.
"Mau apa?"
"Bibir Kak Reza masih kotor. Mau aku bersihkan."
Liontin bersikeras untuk tetap membersihkan bibir Reza. Di sisi lain, lelaki itu juga bersikukuh menolak tindakan Liontin. Tatapan keduanya kini saling beradu.
Liontin seakan dihipnotis oleh tatapan lelaki tampan itu. Dia enggan untuk berpaling. Sampai akhirnya seorang pelanyan berdeham. Liontin menoleh kemudian mengucapkan terima kasih setelah pelayan itu meletakkan pesanan di atas meja.
Begitu pelayan itu pergi, Liontin kembali melancarkan niatnya untuk membersihkan bibir Reza. Lelaki itu tak melepaskan pergelangan tangan Liontin sejak tadi.
"Aku tidak mau jika kamu membersihkan bekas jus mangga dengan tisu itu." Reza tersenyum miring.
"Aku mau kamu membersihkannya dengan yang lain."
Kini wajah mereka semakin dekat. Liontin dapat merasakan hembusan napas Reza menyapu kulit wajahnya. Jantung perempuan itu berdetak tak beraturan. Reza terus memangkas jarak, dan saat ini keduanya tinggal setipis kertas.
"Ambil tisu lain. Tisu yang kamu pegang itu bekas untuk membersihkan meja!"
Reza terkekeh melihat ekspresi serius Liontin. Wajah perempuan itu segera memalingkan wajah dan menyembunyikannya di balik telapak tangan.
Yang suka horor bisa mampir ke sini, yaa....
__ADS_1
Novel horor pertama Chika ini. Mohon dukungannya🤗🤗🤗🤗