
Semilir angin sore itu membuat Liontin yang sedang berada di taman dihampiri rasa kantuk. Perempuan itu menguap berulang kali sampai mengeluarkan air mata.
"Apa kamu mengantuk?" tanya Nyonya Oey.
"Ah, tidak, Nyonya." Liontin tersenyum tipis sambil menggerakkan jemarinya.
"Benarkah? Bukankah semalaman kamu mengobrol dengan Reza melalui sambungan telepon? Dan sejak tadi siang kamu belum tidur." Nyonya Oey tersenyum jahil sambil menyenggol lengan Liontin dengan jari telunjuknya.
"Tunggu! Apa Nyonya menguping pembicaraanku dengan Reza?" Dahi Liontin berkerut dan bibirnya mengerucut.
"Hanya sedikit." Nyonya Oey menunjukkan jari telunjuk dan jempolnya yang ia satukan.
Liontin berdecap kesal kemudian melipat lengan, dan menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu ia duduki. Melihat tingkah Liontin membuat Nyonya Oey terbahak. Perempuan tua itu suka sekali menggoda Liontin hingga merajuk. Keduanya terus berbincang sampai terdengar suara Jia menyapa mereka.
"Mama!" teriak Jia.
Bayi mungil itu langsung meronta dan turun dari gendongan Imas. Dia berlari kemudian menghambur dalam pelukan Liontin.
__ADS_1
"Halo, Jia. Sudah sembuh, ya?" Liontin membenamkan wajahnya pada perut gembul Jia.
Jia tertawa terbahak-bahak karena rasa geli yang menjalar di area perut. Air liurnya sampai menetes karena ledakan tawanya. Nyonya Oey dan Imas ikut tertawa riang ketika melihat keduanya bercanda.
"Jia mau es krim?"
Jia tersenyum lebar sambil mengangguk cepat. Liontin menggandeng jemari mungil Jia, kemudian berjalan menuju gerobak es krim milik seorang kakek.
"Es krim stroberi satu, ya, Kek!"
Lelaki berumur 60 tahunan itu mulai memisahkan buah stroberi dari tangkainya. Setelah itu ia meletakkannya di atas mesin pembuat es krim. Sang kakek penjual langsung menyacah buah itu dan menyiramnya dengan susu.
Liontin mengamati setiap prosesnya sambil menggendong Jia yang juga antusias melihat setiap gerakan si penjual. Tak membutuhkan waktu lama, es krim sudah berpindah pada cup berukuran sedang dan dihiasi buah serta saus stroberi.
Keduanya kembali ke bangku taman sambil bertukar cerita. Saat semburat jingga mulai menghiasi langit, Liontin, Nyonya Oey, Imas, dan Jia beranjak dari taman dan pulang bersama-sama. Sesampainya di persimpangan jalan, Jia merengek. Dia ingin Liontin ikut pulang ke rumahnya.
"Baiklah, menginaplah sesekali di sana tidak masalah." Nyonya Oey tersenyum lembut sambil mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya. Jika butuh bantuan, segera hubungi aku. Rumah Tuan David hanya beda satu blok dengan rumah Anda. Aku pergi dulu." Liontin melambaikan tangan kemudian berjalan beriringan bersama Imas.
Keakraban begitu terasa di dalam kediaman David malam itu. Jia seakan enggan tidur karena ada Liontin yang menginap. Balita lucu itu baru terlelap ketika jam menunjukkan pukul 22:00. Liontin memeluk tubuh Jia yang meringkuk di dalam selimut.
Ketika rasa kantuk mulai menyapa mata Liontin, sekonyong-konyong pintu kamar Jia terbuka. Perempuan itu terperanjat hingga membuat Jia hampir terbangun. David juga sama terkejutnya karena melihat Liontin berada di dalam kamar Jia. Dia menggerakkan bibirnya membentuk kata maaf, lantas menutup pintu perlahan.
Selepas berhasil menidurkan Jia kembali, Liontin melangkah keluar kamar. Dia menuju dapur untuk mengambil kudapan karena perutnya terasa begitu melilit. Saat itu David sedang duduk di meja makan sambil mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.
"Tuan, mau pangsit goreng? Tadi Bi Imas membuat banyak untukku." Liontin mencoba untuk membuka pembicaraan.
Sebenarnya Liontin enggan bicara dengan lelaki di depannya itu. Akan tetapi, rasanya tidak sopan jika dia benar-benar melakukannya.
"Hm ...." David tetap fokus pada layar di depannya.
Liontin membuang napas kasar kemudian mulai menggoreng pangsit yang ia keluarkan dari lemari pendingin. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk menyiapkan kudapan malamnya. Ketika hendak berjalan menuju meja makan, dia merasakan sesuatu yang aneh pada perutnya.
"Akkk ... perutku!"
__ADS_1