TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 54. Keinginan David yang Tercapai


__ADS_3

Tuan Li bersama Reza mendatangi kediaman David malam itu. Hanya dalam hitungan jam, keduanya berhasil menemukan dalang di balik kecelakaan yang menimpa Reza beberapa bulan lalu. Reza menekan bel yang berada di luar rumah. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Imas keluar dengan mata terbelalak.


"Tu-Tuan Li, Mas Reza ...." Imas menatap dua lelaki di depannya itu secara bergantian.


"David, ada, Teh?" tanya Reza sopan.


"A-ada. Sebentar saya panggilkan. Mari, masuk dulu!"


Tuan Li dan Reza masuk ke rumah itu, kemudian duduk di atas sofa. Keduanya hanya diam sambil memerhatikan dinding yang dihiasi sebuah figura besar, berisi potret pernikahan David dan Ellena.


"Papa ...."


Suara David membuyarkan keduanya. David melangkah mendekat, menundukkan kepala sekilas, kemudian ikut bergabung bersama keduanya.


"Kenapa Papa tidak memberi kabar kalau mau datang?" tanya David.


"Kenapa? Apa kamu khawatir aku akan melakukan sidak dadakan ke pabrik?" Tuan Li tersenyum miring.


"Bukan begitu, maksudku ...."


Reza menyenggol lengan sang ayah, diikuti anggukan kepala pria paruh baya itu. "Bicaralah!"


"David, Papa dan Mama akan menikah lagi besok lusa. Setelahnya mereka akan menetap di Taiwan."

__ADS_1


"Apa!"


"Kamu tenang, aku dan Mama sama sekali tidak berniat merebut kembali apa yang sudah menjadi milikmu. Yaaa ... walaupun sebenarnya aku memiliki hak atas semuanya." David tersenyum miring dengan tatapan meremehkan.


David menelan lidah secara kasar. Lelaki itu hanya terdiam, karena belum tahu arah pembicaraan mereka. Tuan Li duduk tegap kemudian mulai menimpali pembicaraan David.


"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu!"


"Apa, Pa?"


"Apa maksudmu ingin mencelakai Reza waktu itu?" Tuan Li melemparkan tatapan membunuh.


"Mencelakai bagaimana maksud Papa?"


Tuan Li mengeluarkan ponsel, kemudian memutar ulang percakapannya dengan Rangga ketika berkunjung ke penjara. Di dalam rekaman itu, Rangga mengaku bahwa David menjanjikan sejumlah uang agar ia mau menjadi tumbal atas ambisinya.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan sekarang. Aku akan menelepon pihak kepolisian jika kamu berbuat macam-macam!" Reza mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layar yang berisi kontak Kantor Polisi.


"Apa tidak ada sesuatu yang ingin kamu ucapkan kepada Reza?" tanya Tuan Li.


David hanya terdiam, enggan mengeluarkan sepatah kata pun. Tuan Li mengembuskan napas berat kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa. Lelaki itu melipat lengan kemudian menatap tajam ke arah David.


"Apa kamu tidak merasa bersalah sedikit pun?"

__ADS_1


"Merasa bersalah? Merasa bersalah Papa bilang!" David berteriak dengan mata yang memerah karena menahan tangis.


"Lalu, apa Papa juga tidak pernah merasa bersalah atas perlakuanmu kepadaku dan Mama sejak dulu? Perlakuan kasar dan sikap sedingin es yang selalu Papa tunjukkan kepada kami berdua! Apa Papa tidak merasa bersalah?" Bahu David bergetar hebat. Air matanya mulai menetes membasahi pipi.


"Kalian pantas mendapatkannya," ucap Tuan Li datar.


"Pantas mendapatkan perlakuan kasar, hinaan, cacian, bahkan Papa tidak pernah memberikan kasih sayang kepada anaknya sendiri!"


"Anaknya sendiri? Siapa yang kamu maksud? Benar, aku tidak mencurahkan kasih sayang dan materi kepada Reza selama puluhan tahun sejak skandal itu." Tuan Li terdiam sejenak, menarik napas oanjang, kemudian mengembuskannya perlahan.


"Aku juga anakmu, Pa!" teriak David sembari menunjuk dadanya memukul dadanya sendiri.


Tuan Li tersenyum miring. Lelaki itu membuka tas yang ia bawa, kemudian mengeluarkan sebuah amplop coklat. Dia menyodorkan benda itu kepada David.


"Baca ini, dan kamu akan tahu alasan, kenapa kamu dan ibumu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dariku."


Jemari David gemetar ketika meraih amplop itu. Dia membukanya perlahan kemudian membaca dengan teliti setiap kalimat yang tercetak di sana. Seketika ia terbelalak ketiga membaca bagian kesimpulan. Air mata kembali mengalir deras. Dada lelaki itu terasa sesak mengetahui kenyataan yang selama ini ditutup rapat oleh Tuan Li. Ya, dia bukanlah putra kandung lelaki itu.


"Ba-bagaimana bisa?" Suara David terbata-bata. Keangkuhannya selama ini menguap ke udara.


"Maaf, karena sudah menyembunyikan hal ini darimu selama bertahun-tahun. Aku hanya ingin menghukum kamu dan Mulan, karena telah membohongiku dengan drama memuakkan itu!"


"Kamu tenang saja. Seperti apa yang kukatakan tadi, semua harta yang Papa miliki akan tetap jatuh ke tanganmu, kecuali rumah yang Papa tinggali dan pabrik yang ada di sini." Reza menyodorkan sebuah map yang berisikan mengenai pembagian harta keluarga Li.

__ADS_1


"Reza menolak semua harta yang aku berikan untukmu. Anggap saja semua itu bayaran atas kerja kerasmu, karena sidah membantuku mengurus perusahaan." Tuan Li beranjak dari sofa kemudian meninggalkan rumah itu bersama Reza.


David menangis sejadi-jadinya. Apa yang ia mau terpenuhi. Akan tetapi, rasa sesak justru kini memenuhi dada lelaki itu. Dia memukul dadanya berharap bebannya sedikit berkurang.


__ADS_2